Pengikut

1000 Guru Motivator Literasi

Segera Daftarkan Diri Anda.

Lintas Pagi Spirit RRI Tolitoli

Diskursus Penguatan Nilai-Nilai Pancasila di dalam Kehidupan Sehari-hari.

Dialog Lintas Pagi RRI Tolitoli

Guru Kontrak atau PPPK Menjadi Harapan Terakhir bagi para Honorer, ketika batasan usia dan kuota tidak lagi dipenuhi.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 28 September 2021

Keberuntunganku itu disini

 


Saya benar-benar merasa menjadi orang yang paling beruntung. betapa tidak, pada kelas menulis om Jay ini, saya termasuk salah satu orang yang paling banyak mendapat hadiah buku. Ada empat buku yang saya peroleh, (1) 1 dari penerbit andi, (2) 1 dari bu Iis, (3) 2 buah buku dari kelas bicara. Luar biasa? Belum lagi di kelas menulis gelombang 19 saya di angkat menjadi ketua kelas. Mungkin bagi orang lain itu biasa saja, tidak ada hal yang istimewa. Tapi lain halnya bagi saya, ini juga satu keberuntungan. Karena seandainya saya tidak diangkat ketua, bisa jadi saya tidak sampai dititik ini, dimana saya akhirnya berhasil memenangkan tantangan menulis resume sebanyak 30. Bahkan akhir saya berhasil menerbitkan sebuah buku solo dengan judul "Belajar di Balik Layar" yang diterbitkan Oase Pustaka. 

Siapa pun pasti mengerti bahwa menjalani tantangan menulis bukan hal yang mudah. Diperlukan motivasi tinggi yang terus menerus. Sebab jika tidak, waktu belajar menulis yang dilaksanakan sebanyak 30 kali pertemuan itu bisa jadi berakhir di tengah jalan. Terbukti tidak sedikit dari peserta belajar menulis yang awalnya bersemangat, namun setelah beberapa kali mencoba, akhirnya kabur entah kemana. Coba anda bayangkan, dari 275 orang yang terdafar di WA, ternyata yang aktif hanya kurang dari 30 orang. Ini bukti bahwa belajar menulis itu bukan aktivitas biasa bagi sebagian besar orang.

Jika niat dan tujuan belajar menulis tidak ikhlas dan kurang fokus, maka orang biasanya sangat mudah goyah. Ada banyak alasan yang digunakan untuk membenarkan keinginan berhenti belajar menulis. Tidak punya waktu, terlalu sibuk, atau banyak tugas lain  sering menjadi alasan pembenar untuk tidak meneruskan belajar menulis. Belum lagi soal alasan tidak bisa menulis, padahal justru disinilah tempatnya kita belajar menulis. Kalau kita tidak bisa menulis, seharusnya belajar menulis, bukan sebaliknya justru berhenti belajar menulis ..he...he... 

Menulis adalah keterampilan. Oleh karena itu, untuk membuatnya mahir, menulis harus dibiasakan berulang-ulang. Menulis harus didril, jika masih kurang bagus ulang lagi, dan ulang lagi. Jangan malu menulis jelek, karena tulisan yang baik itu hanya buah dari tulisan yang diulang-ulang. Jika kita malu dengan hasil yang jelek, maka biasanya kita akan segera berhenti menulis. Menurut saya jangan menghakimi diri sendiri sedemikian kejam, padahal kita tau bahwa kita selalu punya peluang untuk berhasil. Berhenti menulis karena merasa tulisan jelek adalah keputusan yang keliru. Lihat saja tukang mebel, pasti diawal produknya tidak sebaik tukang mebel yang sudah punya jam terbang tinggi. Tetapi seiring waktu, produk mebelnya semakin baik dan berkualitas. Kenapa? karena dia tidak berhenti membuat mebel.

Menulis seperti tukang mebel, jika tukang mebel dapat membuat produknya semakin baik seiring jumlah produknya yang semakin banyak. Maka menulis juga demikian, semakin banyak menulis, pasti akan semakin baik tulisannya. Mengapa demikian? sederhana alasannya, setiap orang adalah pebelajar, ketika kita menyadari tulisan kita kurang baik, maka pasti kita akan mencoba memperbaikinya. Itu sipatnya alamiah. Ketika kita membuat kalimat, mungkin awalnya kurang enak dibaca, tetapi karena terus diperbaiki, akhirnya bagus juga kalimatnya. Sebagai penulis kita juga pasti belajar. Belajarlah tentang teknik menulis, belajar tentang KBBI dan PUEBI, atau belajar tentang membuat kalimat, paragraf, dan lain-lain. Dari proses belajar itu pasti tulisan kita berikutnya akan semakin bermutu.

Saya dapat menjelaskan hal seperti di atas, karena saya telah membuktikannya. Dulu tulisan saya juga kurang baik, atau bahkan mungkin sampai saat ini. Tapi saya tetap menulis. Kalimat yang selalu menginspirasi saya adalah tulislah, biarkan tulisanmu menemukan takdirnya sendiri. Setiap tulisan ada penikmatnya. Bisa jadi memang tidak semua orang suka dengan tulisan kita, tapi biarkan saja. Itu hal yang lumrah. Jangankan tulisan, makanan yang enak saja tidak semua suka, seperti makanan berminyak kan tidak semua suka. Bagi yang punya kolesterol pasti tidak suka. Begitu juga dengan tulisan, jangan berharap semua suka. Jangan pikirkan yang kita tulis, tetapi tulislah yang kita pikirkan.

Sebelum saya bergabung dengan kelas menulis om Jay, saya sudah sering menulis. Jika saya protes terhadap sesuatu hal yang menurut saya keliru atau tidak tepat, maka saya tulis. Awalnya pendek, tetapi karena terus dijelaskan akhirnya menjadi tulisan yang panjang. Suatu ketika saya menulis tentang juknis penilaian SMK. Saya tulis langsung di WA, tulisan saya awalnya singkat saja. Tapi lama-lama makin panjang. Saya baru menyadari kalau tulisan saya itu sedang ditunggu oleh beberapa rekan kerja, setelah saya menuntaskan tulisan. Sampai-sampai mereka berkomentar "kenapa lama sekali menulisnya, saya jadi penasaran". Maklum di WA itu kan kalau kita menulis, pasti ketahuan. Sehingga orang kadang-kadang menunggu apa yang sedang kita tulis. Alhamdulillah, setelah tulisan selesai, saya kirim, wow.. ramai-ramai teman mengomentarinya.

Pada suatu kesempatan lain sebelum bergabung di kelas menulis om Jay, saya pernah mengikuti kelas menulis artikel yang dikelola oleh bapak Encon Rahman. Proses belajarnya juga mirip dengan kelas om Jay, pakai WA grup. Perbedaanya, kang Con begitu beliau biasa sapah, menggunakan pesan suara dan bukan pesan tertulis sebagaimana kelas om Jay. Selain itu, di kelas kang Con, penulis tidak langsung membuat resume dan menulis di blog. Namun ada juga kelebihannya, penulis yang ingin membuat buku, jika belum mempunyai rencana buku sendiri, maka disediakan draf buku berupa outline yang siap pakai. Jadi dengan outline yang sudah diberikan oleh kang Con penulis didorong membuat buku solo. Bukan hanya dibekali dengan outline yang lengkap, tetapi juga dibimbing selama tiga bulan. 

Bagi saya pendekatan yang dilakukan oleh kan Con itu cukup menarik. Alhamdulillah saya memang sempat mengikutinya. Saya bahkan sampai saat ini masih mengoleksi semua materi yag disampaikan oleh kang Con. Seharusnya saya sudah memiliki buku solo sebelum mengikuti kelas om Jay. Sayangnya draf buku yang saya sudah susun sebagian itu, ketika dikirimkan ke kang Con untuk diberi masukan tidak kunjung dibalas. Terus terang saya kecewa, karena saat itu sebenarnya saya sangat berharap ada koreksi dari kang Con. Menurut saya apabila kang Con merespon draf buku saya, maka saya akan lebih bersemangat melanjutkannya. Kedua jika dibalas atau direspon, saya merasa kang Con benar-benar serius ingin membantu atau membimbing. Sayang seribu sayang, naskah yang sudah melayang tidak kunjung berbalas. Akhirnya saya memutuskan tidak melanjutkan. Saya tidak bermaksud menyalahkan kang Con. Saya percaya kang Con tidak demikian, tetapi mungkin peruntungan saya bukan disitu.

Berbeda ketika saya belajar di kelas om Jay. Belum lagi saya benar-benar aktif belajar, om Jay dan timnya sudah memberikan motivasi bertubi-tubi. Saya merasa dan mungkin juga kawan-kawan lain juga merasakannya, seperti memperoleh suplemen energi yang luar biasa. Kedekatan emosional yang ditunjukkan oleh om Jay dan tim melalui komentar-komentarnya membuat saya seperti orang yang sudah kenal lama. Inilah yang disebut engagement. Sehingga wajar saja saya merasa keberuntungan saya itu di sini. 

Dari pengalaman bersama kelas om Jay itu, saya berkesimpulan betapa pentingnya komentar-komentar yang menyentuh sisi emosional itu. Apalagi bagi mereka yang belum memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Saya menjadi semakin yakin kesimpulan saya benar, ketika saya mengajak sahabat satu daerah bergabung di kelas om Jay. Kebetulan beliau baru bergabung setelah pertemuan ke-10. Awalnya beliau begitu bersemangat. Hal ini dapat dilihat dari komentar-komentarnya di WA grup. Saya merasakan adanya harapan dari sahabat itu untuk disapa secara khusus oleh om Jay. Tetapi sayangnya harapanya tidak kunjung terkabul. Padahal sahabat saya itu termasuk orang yang cukup berbakat menulis. Beliau juga sejak bergabung sangat rajin membuat resume. Bahkan khusus untuk memancing komentar om Jay, sahabat saya itu sering menyapa secara khusus kepada Om Jay melalui WA grup. Tapi beliau mungkin belum beruntung, om Jay tak kunjung menyapa. 

Entah kecewa atau atau putus asah, terakhir saya melihat sebuah tulisan panjang dari beliau yang dibagikan di WA grup, saya lupa judulnya. Tulisan itu isinya mengungkapkan terimakasih terkhusus kepada om Jay. Saya mencoba men-scrool lagi tulisan itu untuk memastikan lagi, tapi sudah terlalu jauh memanjat. Saya tidak berhasil menemukannya. Yang jelas setelah surat tersebut, saya tidak menemukan lagi postingan-potingan berikutnya. Bahkan resume yang sudah sampai pada pertemuan motivasi, sudah tidak berlanjut. Makanya saya berkesimpulan beliau kecewa karena tidak mendapatkan sapaan akrab secara pribadi dari om Jay maupun tim kelas menulis lainnya. Terakhir saya menemukan beliau malah aktif di grup menulis yang lain.

Sampai disini kita semestinya semakin paham, di dunia digital sekalipun. Meski dengan pertemuan yang tidak mendekatkan fisik, tetapi sisi emosional setiap orang tetap sensitif. Jika sisi emosional tersebut terkelola dengan baik, dalam arti terbangun hubungan timbal balik yang positif diantara person-person yang terlibat interaksi, maka sangat mungkin engagement terbentuk dan pasti efek positifnya akan sangat luar biasa. Orang menjadi bersemangat dan bergairah menjalani komunikasi, interaksi dan aktivitas yang terkait meskipun hanya melalui dunia maya. 

Inilah yang saya rasakan bersama dengan kelas belajar Om Jay. Saya benar-benar merasakan tempat nyaman untuk berdiskusi, berbagi pengalaman dan ilmu, saling mengomentari, saling menguatkan, memotivasi dan yang pasti saya memperoleh banyak manfaat terutama untuk pengembangan diri dibidang tulis menulis. Maka keberuntunganku itu disini.

Tolitoli, 1 Okrober 2021
Muliadi 






Minggu, 26 September 2021

Menulis itu Mudah



Menulis itu mudah, semudah berbicara kata pak Thamrin Dahlan. Menulis itu mudah, semudah membuat telur ceplok kata Bu Iis. Itulah menulis, menulis bukan hal sulit. 

Kalau pun ada yang sulit dari menulis, itu hanya isi tulisannya saja. Misalnya kita menulis tentang matematika, padahal kita ahlinya bahasa, yah mungkin sulit. Kita guru, tapi mau menulis soal virus, yah mungkin sulit.

Itulah makanya kita dianjurkan menulis yang kita kuasai. Tujuannya agar menulis menjadi mengalir semudah kita berbicara. Menulislah yang kita alami, agar menulis semudah kita membuat telur ceplok. 

Lalu apakah kita tidak bisa menulis yang kita tidak kuasai? Jawabannya tidak bisa. Misalnya kita ingin menulis tentang literasi digital, tetapi materi itu tidak kita kuasai, pasti tidak bisa. Supaya bisa bagaimana? Baca dulu materinya, kuasai dulu, baru tulis.

Nah, disinilah kaitan eratnya antara menulis dengan membaca. Penulis yang mahir pastilah pembaca yang rajin. Tetapi pembaca yang rajin belum tentu penulis yang mahir. Kalau dalam statistik ini namanya regresi dan bukan korelasi, karena tidak bersifat timbal balik. 

Membaca itu menangkap makna, sedangkan menulis itu mengikat makna. Jadi jika ingin mudah menulis hal-hal yang rumit, baca dulu, tangkap maknanya dengan baik. Setelah dikuasai lalu ditulis. Dijamin menulisnya pasti akan lancar.

Ada juga yang bilang, saya tidak bisa menulis karena tidak bisa membuat kalimat dengan benar. Itu yang keliru, kita tau kalimat kita benar atau salah itu setelah tulisannya di edit. Kalau kita tau tulisan kita salah padahal tulisannya belum jadi, itu namanya menulis sambil menghapus. Pasti tidak jadi menulis. 

Nah, disini pentingnya teknik menulis. Salah satu tekniknya adalah jangan mengoreksi sambil menulis, atau jangan melakukan editing sambil menulis, karena pasti tulisannya akan selalu terlihat jelek. Seharusnya yang dilakukan adalah tulis saja dulu sampai tuntas, kemudian Proofreading. 

Sekarang untuk apa saya menulis, bukankah penulis sudah banyak? Nah, ini dia yang harus kita ingatkan. Menulis itu kebutuhan, apalagi kalau kita berprofesi sebagai guru. Menulis itu salah satu cara belajar yang efektif. Jika ingin menguasai suatu ilmu atau keterampilan maka cobalah tulis tentang hal itu pasti akan lebih dikuasai.

Menulis itu obat hati dan pikiran. Jika hati galau, sedih, atau resah cobalah menulis. Tulis tentang keresahan, kegalauan hati, kita pasti akan lega. Menulis itu sebuah katarsis untuk melepaskan emosi negatif. Sehingga wajar ada yang bilang menulis itu menyehatkan.

Tolitoli, 26 September 2021

Muliadi


Jumat, 24 September 2021

Presentasi Melawan Rasa Minder

 Belajar Bicara ke-14, Kamis 16 September 2021



Kamis, 23 September 2021

Kupasrahkan Semua Kepada-Nya



Kupasrahkan Semua Kepada-Nya

Oleh: Muliadi

Keluarga kecilku terdiri dari lima anggota keluarga. Dua anak laki-lakiku kini sedang melanjutkan pendidikan di luar daerah. Satu di kota palu, kebetulan masih satu provinsi. Satunya lagi di pulau Jawa tepatnya di kota Bantul Yogyakarta. Sementara anak perempuanku kebetulan masih duduk di bangku SMP. 

Kami bersyukur setelah kepergian dua anak lelakiku kami masih ada yang menemani. Suasana rumah tidak terlalu sepi karena ada anak perempuan satu-satunya yang selalu membuat keadaan selalu ramai. Apalagi saat pandemic mewabah, kami lebih sering berada di rumah. Kalaupun keluar rumah selalu bersama. Tujuannya lebih banyak ke rumah orang tua atau mertua yang kebetulan keduanya tinggal di luar kota di dua desa yang berdekatan.

Meskipun terpisah jarak yang jauh. Komunikasi hampir setiap hari dapat kami dilakukan. Kemajuan teknologi saat ini sangat membantu. Kalau ada kendala, umumnya karena faktor jaringan atau data internet yang habis. Informasi dan komunikasi tidak lagi menjadi perkara yang sulit. Hal ini sangat jauh berbeda saat aku masih kuliah dulu. Pada waktu itu, berita atau kabar hanya dapat disampaikan melalui surat. Surat dikirim melalui pos. Kalau bukan pos biasanya melalui kerabat, tetangga atau siapapun yang bisa menyampaikan pesan kepada keluarga di kampung. 

Waktu itu sebenarnya sudah ada pesawat telepon. Tetapi fasilitas ini hanya ada di kota. Belum lagi pesawat telepon umumnya hanya dimilik oleh segelintir orang. Sehingga kami mahasiswa saat itu tidak dapat mengandalkan telepon sebagai alat komunikasi. Satu-satunya alat komunikasi melalui surat atau berita yang dibawa oleh kerabat atau kenalan.

Meskipun perjalanan surat bisa sampai berminggu-minggu baru tiba ditangan penerima pesan. Tetapi anak yang di rantau biasanya tidak terlalu risau. Semuanya berjalan normal, seakan tanpa kerumitan. Mungkin inilah kuasa ilahi. Jarak dan waktu tidak menjadi beban serius meskipun kadang-kadang kiriman bekal lebih sering terlambat.

Berbeda dengan kondisi sekarang. Hampir semua aktivitas berjalan begitu cepat. Komunikasi tinggal pencet tombol saja, dengan seketika terhubung kepada lawan bicara. Bukan hanya pesan suara yang dapat didengar untuk melepas rindu atau sekedar minta bekal. Tetapi juga wajah dan penampilan lawan bicara bisa disaksikan secara langsung melalui fasilitas videocall. Demikian majunya dunia sekarang, seakan semua persoalan dapat diselesaikan dengan instan.

Tetapi itulah hidup, tidak selalu yang terlihat mudah dan cepat mampu membawa semua urusan menjadi semudah yang terbentang. Kenyataannya kecepatan informasi dan komunikasi tidak serta merta menghilangkan semua kepelikan. Apalagi ketika akses pergerakan manusia dibatasi akibat adanya pandemi covid-19 yang menerjang.

Serangan pandemi covid -19 yang masuk ke Indonesia diakhir 2019, telah memberikan perubahan pada pola interaksi manusia. Interaksi yang sebelumnya dapat dilakukan secara langsung, kini harus berjarak. Semua masyarakat harus menerapkan pola kehidupan baru. Pemerintah menetapkan kebijakan new normal dengan 3 M, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan. Hal ini semua dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan virus yang semakin masif.

Penyesuaian pola interaksi tidak hanya terjadi pada interaksi sosial. Tetapi hampir semua aspek kehidupan harus melakukan adaptasi, termasuk pendidikan. Proses pembelajaran tatap muka dihentikan. Bahkan akses keluar masuk daerah dibatasi. Hal ini menimbulkan konsekuensi bagi anak- anak yang sedang kuliah di luar daerah. Jika mereka dikampung, maka mereka sampai waktu tertentu harus di kampung. Perkuliahan dilakukan secara online. Tetapi jika mereka di tempat kuliah maka mereka harus bersedia bertahan hidup di sana karena tidak mungkin lagi balik ke kampung.

Salah satu dari anakku harus bertahan di rantau orang. Perkuliahan yang dijalaninya tidak memungkinkan untuk ditinggalkan. Anakku menjalani pendidikan di bidang kesehatan. Sehingga kegiatan praktek di rumah sakit yang dilaksanakan secara periodik harus diikuti secara fisik. Kegagalannya mendaftar ke fakultas kedokteran membawanya pada pilihan jurusan Radiologi. Aku sebenarnya sedih karena tidak mampu memenuhi harapan anakku. Besarnya biaya pendidikan di fakultas kedokteran sulit aku penuhi jika harus membayar biaya tambahan yang di luar kelaziman.

Tapi aku yakinkan anakku bahwa keberhasilan hidup tidak selalu ditentukan oleh jenis pekerjaan tertentu. Ingat kataku "Rezeki dari Allah, Allah lah yang mengatur segalanya, pekerjaan hanyalah jalan dan ikhtiar, jikalau Allah menghendaki, hidup sejahtera dan bahagia dapat diraih dari jenis profesi apapun". Hidup mulia tidak harus menjadi dokter. Profesi apapun yang kita jalani, asal dengan keikhlasan, kesabaran, dan kerja keras Insya Allah akan memberikan keberkahan dan kemuliaan hidup.

Aku selalu mengingatkan kepada anak-anakku, carilah ilmu, karena dengan ilmu kamu akan mampu mengelola masalah hidupmu. Jangan cari ijazah, karena ijazah saat ini kadang-kadang diperoleh meskipun tanpa ilmu. Ijazah memang menjadi bukti formal bahwa kita telah menyelesaikan suatu proses pendidikan. Tetapi memiliki ijazah bukan jaminan kompeten pada suatu bidang ilmu.

Alhamdulillah, kedua anakku bisa menjalani pendidikannya dengan baik. Kendatipun mereka harus hidup berjauhan dari orang tua. Tinggal di rumah kontrakan bersama dua orang temannya tentu tidak selalu mudah. Apalagi ketika kedua temannya ternyata sudah terpapar covid-19. Dia tidak bisa meninggalkan tempat kontrakannya karena di sana tidak ada sanak saudara. Akhirnya anakku memilih bertahan sambil berharap untuk tidak tertular.

Namun takdir berkata lain, pertahanannya akhirnya jebol. Dengan suara lirih dari ujung telpon anakku menyampaikan kepada ibunya bahwa badannya panas dan perasaannya tidak enak. Mendengar penjelasannya, saya dan istri sudah menduga anakku telah terpapar covid-19. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, yang ada hanya kecemasan membayangkan hal buruk terjadi padanya. Untuk memastikan kondisinya sekaligus mengantisipasi berbagai kemungkinan, aku memintanya segera ke rumah sakit untuk melakukan sweb.

Anakku harus berangkat sendiri, kedua temannya tidak bisa menemani karena sedang menjalani masa isolasi. Dengan kondisi tubuh yang kurang baik, anakku berangkat menuju rumah sakit terdekat untuk melakukan sweb. Benar dugaanku anakku positif terpapar covid-19. Perasaanku limbung aku tidak tahu harus berbuat apa. Terbayang anakku yang terpaksa harus berjuang sendiri menghadapi ganasnya virus sars-cov 2. 

Setelah menerima resep dari dokter, anakku langsung pulang ke kontrakannya. Dia memang tidak dirawat intensif di rumah sakit, karena dinilai hanya bergejala ringan. Oleh sebab itu dokter menganjurkan untuk melakukan isolasi mandiri. Meskipun demikian, hati dan perasaanku tidak tenang. Hampir setiap saat aku memantau perkembangannya. Tidak ada hal lain yang dapat kami lakukan, selain terus berdoa bermunajat kepada Allah wajalla agar anakku diberi kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi cobaan ini.

Aku semakin menyadari, secanggih apapun tekhnologi di dunia ini tidak akan membebaskan manusia dari segala kekusutan. Jika Allah SWT menghendaki kesulitan kepada seseorang maka kesulitan itulah yang akan terjadi. Sebaliknya jika Allah SWT menghendaki kelapangan urusan pada seseorang, maka kelapanganlah yang akan diterima olehnya. 

Atas kesadaran itu, aku menasehati anakku bahwa yang terpenting bukan karena kedua orang tua selalu ada di sampingmu disaat nanda kesulitan seperti saat ini. Tetapi yang terpenting adalah seberapa yakin nanda akan kekuasaan Allah SWT atas semua yang terjadi. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Qadarulullah wama Safaa a afa'la, berkat kesabaran dan keikhlasan menjalani semua cobaan yang ada akhirnya anakku terbebas dari covid-19. 

Saat ini anakku kembali menjalani hari-harinya dengan normal. Proses pendidikannya juga memasuki tahap akhir. Beberapa saat lalu iya meminta aku merapikan jurnal yang telah disusunnya. Insya Allah di bulan Desember mendatang dia akan segera menuntaskan pendidikannya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan atas segala urusannya.

Tolitoli, 23 September 2021

Muliadi

Belajar Coding untuk guru dan orang tua

 Belajar Bicara ke-14, Kamis 21 September 2021


Motivasi Berprestasi

 Belajar Bicara ke-13, Kamis 16 September 2021


Kiat Bicara Di Depan Juri Lomba untuk guru & Kepala Sekolah

 Belajar Bicara ke-12, Selasa 14 September 2021




Jumat, 17 September 2021

Menulis Semudah Ceplok Telur

 Resume ke-30, Jum'at 17 September 2021

Tema            : Menulis Semudah Ceplok Telur
Narasumber   : Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H 
Gelombang    : 19
Moderator     : Ms. Phia


 "As shobru yu'ienu a'la kulli amalin."

(Kesabaran itu akan menolong segala pekerjaan)

"Pikirkan hal-hal yang paling hebat, dan engkau akan menjadi yang terhebat. Tetapkan akal pada hal tertinggi, dan engkau akan mencapai yang tertinggi.”

Akhirnya episode pendakian puncak gunung "belajar menulis gel 19 & 20 PGRI" mencapai titik klimaks. Semua atas keyakinan bahwa  "As shobru yu'ienu a'la kulli amalin." Kesabaran itu akan menolong segala pekerjaan. Tanpa kesabaran semua mungkin telah berakhir sebelum waktunya. Bagai bunga yang layu sebelum berkembang. Patut disyukuri, Allah swt masih memilih kita, diantara sekian ratus orang untuk terus bertahan dan sabar menapaki jalan terjal mewujudkan mimpi menulis dengan penuh optimisme dan kesabaran. 

Perjalanan kelas belajar menulis sudah berhasil menumbuhkan pohon kepercayaan, bahwa menulis adalah keniscayaan dan pasti akan berbuah manis pada waktunya. Pohon itu sudah berbuah, meskipun masih buah pemula dalam bentuk antologi. Sekarang tinggal tergantung kepada kita. Mau terus merawat pohon yang telah tumbuh dan berbuah itu dengan komitmen kuat sampai dia berbuah ranum dan manis dalam bentuk buku solo / karya bersama, atau membiarkannya gersang tidak terawat dan akhirnya mati.

Sepuluh episode terakhir dari sesi kelas belajar menulis, merupakan pupuk kualitas unggul yang ditujukan untuk mengokohkan pohon menulis. Sampai pada malam terakhir pun suguhan pupuk yang diberikan oleh Om Jay, masih pupuk dengan kualitas istimewa. Tak perna kendor, gass full, om Jay benar-benar ingin peserta kelas belajar menulis memiliki daya tumbuh yang tinggi serta produktif pasca episode belajar menulis. Nama pupuk tersebut adalah "Menulis semudah ceplok telur". Pupuk ini diramu dengan sangat apik oleh ibu Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H. Pipin adalah nama kecil beliau merupakan seorang guru yang bertugas di SMP Negeri 2 Nekamese, Kab. Kupang - NTT. Berkat keikhlasan dan kerja kerasnya dalam mengembangkan dunia literasi, sejumlah prestasi telah diraihnya. Diantara prestasi tersebut adalah Juara kategori kedua tingkat Nasional dalam Lomba Guru “My Teacher My Hero Award Indonesia Digital Learning Tahun 2015” Bersama Telkom dan Intel Prosessor. Penggiat literasi Nusantara dan motivator menulis buku.

Selain sebagai guru, ibu Pipin adalah seorang Instuktur Provinsi NTT pada Mata Pelajaran PPKn Jenjang SMP Kurikulum 2013. Narasumber literasi daerah perbatasan. Narasumber literasi tingkat nasional bersama PGRI Pusat (dalam kelas belajar menulis bersama Om Jay, Blogger Ternama Indonesia). Narasumber Lesson Study dalam projeck JICA (Japan International Cooperation Agency) Program PELITA, Program Kerjasama dengan Sampurna Foundation (2008 – 2012) dan Program Perluasan Lesson Study untuk Penguatan LPTK (LEDIPSTI) Tahun 2008 - 2014, Instuktur Provinsi NTT Mata Pelajaran PPKn Jenjang SMP Kurikulum 2013 (Tahun 2014 – 2019), Narasumber Literasi daerah perbatasan (Tahun 2017 – 2020), Narasumber Literasi tingkat Nasional bersama PGRI Pusat (Dalam kelas belajar menulis Blog bersama Om Jay, Blogger Ternama Indonesia) Tahun 2019 - 2021. Penggiat literasi Nusantara, dan Motivator menulis buku. Founder KELAS WAG MBI (Kelas WhatsAap Group Menulis Buku Inspirasi), wadah bagi penulis pemula belajar menulis pasti menjadi buku.

Dengan segudang bukti prestasi dibidang literasi, maka "Menulis semudah ceplok telur" bukan hanya sekedar quote penggugah motivasi. Tetapi benar-benar sebuah menjadi sebuah tips jitu yang dapat dijalani secara nyata dan terbukti hasilnya. 

Lalu bagaimana resep telur ceplok yang dibuat, menghasil telur ceplok yang nikmat, matang, dan siap saji? Berikut proses mengolah yang benar dan efektif menurut ibu Pipin.

1. PENSIL DIGERAKKAN OLEH TANGAN MANUSIA
Mulailah dengan doa, sebab ada tangan Tuhan yang selalu membimbing ketika kita menulis. Tulisan yang diawali dengan doa, akan menghasilkan ilmu yang bersumber dari hati nurani yang bersih. Tulisan yang keluar dari hati akan diterima oleh hati pembaca, serta manfaatnya banyak kepada semua umat.

2. KETIKA PENSIL TUMPUL KITA PERLU MERUNCINGKANNYA
Dalam menulis kita akan menemui banyak kesulitan, berjumpa pada penderitaan, dan kesusahan (khususnya yang baru pertama kali menulis). Kita perlu menajamkan pikiran. Ketika pensil tumpul kita harus merautnya dahulu, jika pikiran kita buntu tak ada ide maka beristirahatlah dan tutup buku/laptop. Pertajam pikiran dan bacalah buku (khususnya yang berhubungan dengan tulisan kita).

3. PENGHAPUS : 
Ada penghapus untuk menghapus tulisan kita, ketika kita salah menulis. Dalam hidup selalu ada kesempatan, jika kita melakukan kesalahan ada kesempatan untuk kita bertaubat. Begitu pula dalam menulis, kalau salah bisa di tipo dulu, lalu perbaiki agar menjadi baik dan sempurna.Tapi bukan berarti menulis hapus, menulis hapus, menulis hapus. Nanti malah tulisannya tidak jadi-jadi. Lalu bagaimana agar tulisan kita menjadi bagus? Tulis, kemudian diamkan. Jika buntu ide kita. Tutup laptop, lalu simpan, rilek dulu. Lalu buka ke-esokan harinya untuk di revisi ulang.

4. PENSIL YANG DIGUNAKAN UNTUK MENULIS BAGIAN DALAMNYA
Manusia dilihat dari bagian dalam hatinya (Begitupun dengan pensil, yang tajam untuk menulis adalah bagian dalamnya). Dalam menulis gunakan hati untuk menggerakkan tangan kita, sebab menulis dari hati itu akan menghasilkan karya yang luar biasa. Selain itu, menulis dari hati akan diterima oleh pembacanya dari hati pula.

5. SETIAP TULISAN KITA AKAN BERDAMPAK
Belajar dari pensil akan selalu meninggalkan goresan (selalu ada bekas tulisan pensil untuk itu tinggalkan dampak positif dalam hidup kita). Tinggalkan jejak dalam setiap tulisan kita dengan yang baik dan memberikan inspirasi kepada setiap pembacanya.  

Judul di atas adalah Quote bu Pipin dalam memberikan motovasi menulis kepada siapa saja yang memiliki cita-cita untuk menjadi penulis hebat dunia.
  1. Bahwa menulis itu tidak sulit
  2. Menulis itu sangat mudah
  3. Semudah Anda membuat ceplok telur
  4. Telur yang tadinya bulat, bisa langsung dihidangkan di meja makan. Tanpa harus ribet membuatnya/memasaknya.
Langkah kedua kita mudah dalam menulis adalah bergabung dalam komunitas menulis seperti kelas menulis bersama Om Jay

MENGAPA HARUS MENULIS?
Dalam Al-Qur'an dan Hadist Nabi Muhammad saw disebutkan tentang menulis 
Secara lengkapnya akan diuraikan sebagai berikut :

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ

Qoyyidul ‘ilma bilkitabi  (Jagalah ilmu dengan menulis) 
(Shahih Al-Jami’, No.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Yang dimaksud qayyidul ‘ilma adalah kuatkan dan hafalkan serta jaga jangan sampai lepas. Ilmu jika terus didengar, hati akan sulit mengingatnya. Ilmu itu diikat lalu dijaga. Jika hati sering lupa, ilmu itu perlahan-lahan akan hilang. Itulah sebabnya kenapa penting untuk mencatat. 

Sebagai umat Islam perlunya kita membiasakan diri untuk belajar menulis, karena sahabat Rasulullah SAW juga menulis Al-Qur’an dan Hadits kemudian dibukukan.
 
FIRMAN ALLAH DALAM AL-QUR’AN UNTUK MENULIS
Allah pun telah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk mencatat karena itu bermaslahat untuk mereka, dan Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ
Arab-Latin: Yā ayyuhallażīna āmanū iżā tadāyantum bidainin ilā ajalim musamman faktubụh,
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)

Imam Asy-Sya’bi pernah berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok.”

Imam Syafi’i rahimahullah juga pernah bertutur, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)

Disini, ilmu di ibaratkan seperti hewan buruan (kijang) apabila tidak di ikat akan terlepas, begitu pula ilmu apabila tidak ditulis maka akan hilang atau tidak ingat dikarenakan daya ingat manusia terbatas.

Dalam PERMEN No. 23 tahun 2015. Ditegaskan Penumbuhan Budi Pekerti melalui gerakan literasi. 
Lalu apa apa yang harus ditulis?
Kok semudah ceplok telur?
Mikir?
Berpikir?
Jangan!!!
Jangan berpikir apa yang akan di tuliskan, nanti malah kita pusing. Yang benar adalah TULISKANLAH APA YANG ADA DIPIKIRAMU. Yang ada di pikiran kita tentang apa saja.

Menulis semudah ceplok telur adalah quotes yang memiliki kekuatan luar biasa dalam memberikan pengaruh terhadap semangat menulis. Jika dilakukan dengan teknik yang benar, maka Insya Allah hasilnya bisa sangat luar biasa. Kembali lagi kepada quote om Jay "Menulislah setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi". Kemudian jangan pikirkan apa yang engkau tuliskan, tetapi tuliskan apa yang kau pikirkan. Menulis tidak akan jadi jika hanya angan, tetapi dia akan berbuah karya jika dilakukan.

Selamat Berkarya, Landasan telah disiapkan, pesawat siap diluncurkan, adakah keberanian sang pilot tinggal landas menggampai angkasa yang luas tak berbatas menuju satu tempat dimana karya besar berjejer bebas dari sang penulis hebat. 

Tolitoli, 18 September 2021
Muliadi

Namanya Agmatino Mazen Muqaffa

 


Akhirnya ayah bisa memberi nama anak ayah "Agmatino Mazen Muqaffa". Nama ini akhirnya menjadi pilihan ayah setelah 4 hari kelahirannya Selasa, 14 September 2021. Memang terkesan cukup lama baru ayah memutuskan nama itu. Tetapi bukan berarti  belum ada nama yang diancar-ancar sebelumnya. Beberapa nama dari anak-anak ayah yang tertua dan ke dua sudah diberikan. Namun ayah harus memberikan pertimbangan yang matang dari berbagai sisi. Ayah bahkan sempat meminta saran dari penulis, alternatif nama yang cocok. Pada suatu kesempatan hari kelahirannya, ayah juga bertepatan bertemu pak ustadz, ayah pun bertanya soal nama yang cocok.

Ayah tidak ingin kehilangan momentum yang baik, dalam pemberian nama ini. Kata orang nama itu adalah doa. Kawan ayah dari pangkal pinang, menyarankan namanya harus unik. Jangan pasaran. Dua kriteria inilah yang membuat ayah cukup selektif memberikan nama buat nanda. Setelah melakukan browsing untuk menemukan makna setiap nama, akhirnya ayah mulai menemukan titik terang.

Bukan kalkulasi yang mudah untuk mengkombinasikan nama unik, indah, dan bermakna doa. Diperlukan pertimbangan yang benar-benar komprehensif. Nah, setelah melalui proses tersebut, ayah memberi nama "Agmatino Mazen Muqaffa". 

Lalu apa maknanya? Ada tiga susunan nama yang dirangkai menjadi satu, yaitu Agmatino, Mazen, dan Muqaffa. Agmatino adalah akronim dari Agama matematika dan teknologi. Pemberian nama ini terkandung doa semoga nanda sebagai anak generasi Alfa, akan memiliki bekal Aqidah dan agama yang kuat, memiliki kemampuan matematika yang baik sebagai dasar logika mengenal alam seisinya, sementara teknologi adalah kebutuhan adaptif untuk hidup di zaman generasi Alfa. Nama Agmatino juga unik, tidak ada itu di internet.


Mazen artinya berani, cerdas, dan pekerja keras. Nama ini nama yang umum dan berasal dari bahasa arab. Ayah memilihnya  selain karena maknanya yang baik, juga karena nama ini diberikan oleh anak tertua ayah. Selanjutnya Muqaffa, orang yang memiliki nama ini menurut salah satu situs dapat menjadi teman setia dan selalu memberikan nasehat yang baik.

Oleh sebab itu, pemberian nama "Agmatino Mazen Muqaffa" ayah ambil sebagai nama anak laki-laki ke 4, terkandung doa dan harapan dengan izin dan kehendak Allah SWT semoga kelak menjadi sosok yang banyak memberikan manfaat kepada masyarakat dan lingkungannya, agama dan bangsanya, terutama pada kedua orang tuanya dengan segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya. 

Rabu, 15 September 2021

Blog Sebagai Sarana Belajar

 Resume ke-29, Rabu 15 September 2021


Tema            : Blog Sebagai Sarana Belajar
Narasumber   : Nani Kusmiyati, 
Gelombang    : 19
Moderator     : Aam Nurhasanah

Malam ini, tanggal 15 September 2021, merupakan malam pra finis pada kelas belajar menulis. Artinya tinggal satu kali pertemuan lagi, maka seluruh proses pembelajaran menulis gelombang 19 dan 20 akan berakhir. Sebentar lagi seluruh cerita suka dan duka, tentang peserta, moderator, narasumber, dan seluruh tim kelas belajar menulis om Jay hanya akan tinggal kenangan. Sehingga sangat sayang rasanya, jika semua cerita penuh makna yang pernah ditorehkan bersama terhapus begitu saja. Laksana penonton cerita film yang hanya akan diingat sesaat setelah film itu berakhir.

Alhamdulillah, meskipun pertemuan kelas belajar menulis telah memasuki detik-detik terakhir, namun suguhan materi dan narasumber yang dihadirkan selalu menarik dan menantang untuk terus diikuti. Termasuk malam ini,  narasumber yang dihadirkan adalah narasumber spesial, seorang Mayor TNI tapi berjiwa guru. Moderator memperkenalkan namanya adalah Mayor Nani Kusmiyati, S.Pd. M.M., CTMP. Istimewahnya adalah beliau juga adalah salah satu alumni kelas menulis. Saya semakin bangga dengan kelas menulis ini, karena ternyata mampu melahirkan penulis-penulis hebat bukan hanya dari kalangan guru dan dosen, tetapi juga profesi lainnya. 

Pada kesempatan yang baik itu, Mayor Nani menyampaikan tema "Blog Sebagai Sarana Belajar". Ini adalah tema kedua yang berkaitan dengan blog. Tema ini menjadi pilihan beliau karena menulis di blog seperti menulis dibuku catatan kita. Berbeda namun memiliki manfaat yang sama yaitu mengabadikan buah pikiran kita sendiri maupun pelajaran yang kita dapatkan dari sumber lain. Sumber lain itu dapat berupa buku, digital book, pengalaman orang lain maupun ilmu yang kita dapatkan dari guru kita, ketika kita masih belajar di bangku sekolah maupun kuliah. Demikian alasan bu Nani mengapa tema blog menjadi penting.

Maskipun bu Nani berprofesi sebagai seorang TNI AL, tetapi beliau juga seorang penulis yang andal. Sejumlah buku telah berhasil diterbitkan oleh penerbit yang berbeda. seperti Omera Project dan Nubala Project. Buku antologi yang sudah publish bersama Omera Project: (1) Semesta Merestui (2) Kulminasi (3) Eksplorasa Edisi 1 (4) Simpang Maya (5) Kuputuskan menjadi (6) Monolog Cinta (7) Titik Balik (8) Thank you 2020 (9) Puisi Untuk Yang Terkasih (10) Favorite Teacher (11) Manisan Rindu (12) Kota Kenangan. Nubala Project: (1) Surat Kepada Ibu (2) Kabar Untuk Ayah (3) 2020 bercerita (4) I’m jealous of the rain (5) Di Celah Senja (6) Sepanjang Tapak Kaki, (7) Manisan Rindu, (8) Surat Terakhir (9) Hilang Tanpa Bilang (10) Teruntuk HUJAN. Project Literasi : (1) Moment Special Sang Guru. (2) Sang Guru (3) Puisi Rona Korona (4) Oktober bermakna jilid 1 (5) Kobaran Semangat Ngeblog (7) The Meaningfull of True Story (8) All about Teacher (9) Pahlawan Hidupku (10) Traveling.

Penasaran rasanya jika kita tidak mengenal lebih dekat siapa sebenarnya Mayor Nani dengan aktivitas menulis yang begitu produktif. Berikut adalah profil lengkap beliau: Nama lengkap mayor Nani adalah Nani Kusmiyati, S.Pd., M.M., CTMP. Lahir di Kediri, 12 September 1966. Beliau lulusan S1 Bahasa Inggris di UIA (Universitas Islam Assyafiiyyah) Pondok Gede dan S2 MSDM di UPN Veteran Jakarta. Berpangkat Mayor TNI AL. Dinas pertama di Disminpersal (Dinas Personel TNI AL) selama 5 tahun, kemudian di Pusdiklat Bahasa selama 8 tahun, selanjutnya berdinas di Dinas Pendidikan TNI AL selama 20 tahun. Saat ini berdinas di Lemhannas, Jabatan Kasubbag Kerma Multilater Luar Negeri. Beliau juga perna menjadi pramugari haji pada tahun 1997 dengan Garuda Indonesia, home base di Makasar. Dalam kedinasan sebagai anggota TNI, beliau perna ditugaskan di Lebanon sebagai Pasukan Perdamaian PBB selama satu tahun dengan jabatan MILSTAF SO1-JLOC.

Mayor Nani juga pernah mengikuti kursus AELIC (Advanced English Language Instructor Course) selama 4 bulan di DLI (Defense Language Institute) San Antonio Texas, US; MELT (Methodology English Language Teaching) tahun 2002 dan ETDC (English Teaching Development Course) tahun 2007 di Australia. Dalam dunia kepenulisan beliau sudah menulis 32 antologi dan 2 buku solo, termasuk diantaranya sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Menurut Bu Nani, saat ini blog bukanlah sesuatu yang baru karena hampir setiap orang mengenal tentang blog. Bahkan bertahun-tahun yang lalu para penulis juga kaum akademia menggunakan blog untuk mengekspresikan ide, pengalaman dan ilmu yang di dapatkannya. Dengan menulis di blog kejadian-kejadian menarik masala lalu dapat tersimpan dengan rapih yang kemas kembali menjadi cerita yang menarik. Sementara untuk kejadian saat ini, sangat baik segera ditulis diblog agar dapat tersimpan dan dapat dimanfaatkan dilain waktu. Menuliskan setiap momen kejadian, ide, atau isi pikiran di blog akan memberikan referensi yang baik jika suatu saat kita akan menuangkannya menjadi tulisan.  

Menulis tidak dapat kita lakukan ketika kita sedang mengendarai mobil dan kita berada di belakang kemudi. Akan berbeda jika menjadi penumpang maka akan lebih mudah menuliskannya di HP selama perjalanan bekerja atau pulang. Draf tulisan pasti masih kasar, biarkan saja, yang terpenting poin-poin itu sudah ada deskripsinya. Ketika ada waktu barulah dibaca kembali untuk menyempurnakan tulisan tersebut.

Blog dapat menjadi sarana belajar, tenjadi paragraf per paragraf yang memiliki makna. Sebagai guru, blog dapat menjadi salah satu alternatif di dalam mengajar. Beberapa guru dapat menggunakan google form, whatsApp atau media lain namun jika media tersebut dapat saling melengkapi akan lebih bagus. Blog dapat menjadi suatu pilihan sebagai media pembelajaran. Bagi guru blog bisa sebagai media pembelajaran bagi dirinya sendiri dengan menuliskan inovasi di dalam mengajar baik berupa teknik mengajar maupun materi ajaran. Walau sebenarnya dapat di simpan di flash disk atau laptop. Kekurangannya jika laptop atau flasdisk terkena virus maka akan sangat riskan hilangnya materi ajaran.

Blog adalah salah satu media aman untuk menyimpan materi pelajaran kita karena tidak akan terkena virus. Yang terpenting tidak lupa nama blog dan password-nya. Jika lupa password masih bisa dipulihkan melalui email atau nomor HP kita. Karena blog bersifat umum atau dapat dibaca orang lain, sebaiknya kita pandai memilih materi mana yang boleh dibaca orang lain. Jika guru memiliki soal-soal dan dianggap masih bersifat konfidensial atau rahasia, sebaiknya jangan disimpan di blog.

Ketika mengajar, saya gunakan blog untuk mengirimkan tugas-tugas ke siswa dan saya meminta mereka menjawab di blog mereka dan mengirmkan linknya ke group. Saya juga memberi tugas ke siswa lain untuk berkunjung ke blog teman-temannya minimal dua blog. Saya tidak dapat memaksa mereka untuk visit ke semua blog karena mereka juga mendapatkan banyak pekerjaan rumah dari guru berbeda.

Jika di kelas sebenarnya dapat di praktekkan karena dapat menjadi mix method dalam mengajar. Dalam bahasa Inggris, writing termasuk salah satu skill yang tersulit karena budaya menulis masih di dominasi kaum akademia atau pegiat literasi. Untuk siswa dengan level bahasa Inggris elementary, Bu Nani biasanya memberikan topik umum dan memberikan contoh cara mendeskripsikan topik tersebut. Beliau juga menyarankan menggunakan google translate untuk membantu mengerti isi dari reading. Kemudian menceritakan kembali dengan bahasa mereka sendiri.

Bagi yang benar-benar level begginer Bu Nani meminta mereka membuat kalimat dalam bahasa Indonesia dengan berpedoman SPOK (Subyek, Predikat, Obyek dan Kata keterangan), baru mereka terjemahkan dengan google translate untuk mengetahui bahasa Inggrisnya. Mereka belajar menganalisa tulisan mereka sendiri juga memperhatikan kalimat bahasa Indonesia dan bahasa Inggrisnya.

Bagaimana dengan siswa SD atau SMP? Menurut Bu Nani mereka bisa memiliki blog namun dengan bantuan orang tua atau kakak-kakaknya yang mengerti blog dengan segala etika bersosial media. Jika perlu yang mengetahui passwordnya hanya orang tua atau kakak-kakaknya yang dapat diandalkan. Walau blog milik pribadi namun konten yang di tulis khusus untuk belajar atau menyampaikan pendapat yang tidak menyinggung siapapun.

Ibu Guru SD atau SMP yang pandai IT bisa membantu mereka dengan bertatap muka via daring atau bertemu langsung dengan para orang tua dan mengajarkannya cara membuat blog dengan etika bersosial media. Guru bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dapat menggunakan blog untuk mengajarkan reading dan writing. Jika speaking dapat melalui zoom atau whatsApp call. Penggunaan blog sebagai sarana pembelajaran adalah salah satu alat untuk mengajar atau belajar. Silakan menggunakan media yang dianggap mudah untuk meningkatkan ilmu dengan berbagi kebaikan dengan murid-murid, sahabat atau orang lain.

Jika setiap saat menulis materi mengajarnya di blog, selama 1 bulan akan memiliki kumpulan materi yang kemudian dapat dibukukan. Maka jadilah sebuah buku pelajaran karya pribadi dengan tidak lupa mencantumkan referensinya.

Saya pikir inilah satu best practice yang sangat kontekstual dan sangat mudah diimplementasikan. Mayor Nani yang seorang anggota TNI ternyata mampu menunjukkan dengan sangat baik bagaimana blog dapat meningkatkan efektifitas proses pembelajaran. Bahlan lebih dari itu, jika benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal, maka blog dapat memberikan dua keuntungan sekaligus, yaitu sebagai sarana belajar dan pembelajaran, juga sebagai sarana mengembangkan tulisan menjadi buku yang bermutu. 

Tolitoli, 15 September 2021

Muliadi

Senin, 13 September 2021

Pengalaman Menang Penghargaan Buku Dari Perpusnas

 Resume ke-28, Senin 13 September 2021


Tema                    :  Pengalaman Menang Penghargaan Buku Dari Perpusnas
Narasumber           : Musdafiatun Isriyah
Gelombang            : 19
Moderator             : Ms.Phia


Pertemuan ke-28 sungguh luar biasa. Suguhan pengalaman yang inspiratif dari seorang jebolan kelas menulis om Jay, menjelma menjadi seorang penulis handal  dengan prestasi kemenangan diajang penghargaan Perpusnas, bukanlah suguhan pengalaman yang biasa. Tapi ini benar-benar excited. Betapa tidak, dikala orang lain masih berpikir cara menembus penerbit mayor melalui tantangan menulis seminggu dari sang maestro digital education bapak prof.Dr Eko Indradjit, ternyata ibu Mudafiatu Isriyah telah melampaui ekspektasi para penulis umumnya dengan meraih kemenangan di ajang bergengsi perpusnas.

 Tentu ini bukan penghargaan biasa. Tetapi penghargaan yang menunjukkan kualitas mumpuni seorang penulis. Bukan hanya kekuatan memainkan diksi. Tetapi lebih dari itu kekuatan konten tulisan harus benar-benar mampu  menjawab tantangan kebutuhan kontemporer. Dalam hal ini apa yang disebut social presence dalam konteks PJJ.

Apa yang telah dilakukan oleh ibu Iis demikian sapaan akrab Mudafiatun, dan bagaimana dia menata semua potensi yang dimiliki hingga demikian produktif, melampaui tiga challenge sekaligus, menulis dalam seminggu, menembus penerbit mayor, dan memenangkan penghargaan buku dari perpusnas?  Maka sajian pengalaman ini akan memuaskan keingintahuan anda. 

Terlebih sang moderator,  Ms.Phia telah membangun komitmen bersama Narasumber untuk menyajikan materi secara interaktif melalui live by wa. Dengan cara seperti itu, peserta kelas menulis bisa berinteraksi langsung dengan narasumber untuk membongkar semua rahasia keberhasilan ibu Mudafiatun Isriyah dalam memenangkan berbagai tantangan menulis.

Dengan gaya khas penutur asing Ms. Phia membuka pertemuan dengan salam "Assalamuaikum Wr. Wb. Selamat Malam, Good Evening, Gütten Nacht pada Ladies & Gents of future famous writers from all over Indonesia! Hoping everybody in this group is healthy and wealthy, always". Ini mungkin yang namanya personal brand ya he...he..

Selanjutnya sang moderator, yang sebentar lagi bakal menyusul prestasi sang narasumber memperkenalkan secara singkat profil Ibu Mudafiatun Isriyah. Perkenalan ini langsung mendapat respon dari Om Jay "luar biasa!"

Ibu Iis mengawali sajian pengalaman dengan menceritakan secara garis besar proses penyusunan buku sampai memenangkan penghargaan sebagai penulis terbaik. Setelah itu para peserta kelas menulis langsung dipersilahkan menuliskan pertanyaan.

Berikut cerita Ibu Iis seputar proses penulisan buku sampai menjadi juara. 


Jawaban atas pertanyaan peserta ibu Iis menjelaskan sebagai berikut:
Bagaimana cara menghasilkan karya tulisan yang bermutu dan out of the box tetapi menarik dan enak untuk dinikmati para pembaca sehingga buku kita bisa jadi best seller? dan bagaimana proses kreatifitasnya? Langkah-langkah apa yang dilalui dalam kolaborasi menulis buku yang berprestasi dengan Prof. Eko?








Bagaimana bisa menyelesaikan tulisan dalam 7 hari apa kiat menulisnya. Karena sehari menghasilkan 2 ribu sangat sulit dan butuh sampai 1 bulan. Mohon trik dan kiat bisa super menjadi buku dalam 7 hari. 



Bagaimana trik dan motivasi ibu Mudiafiatun sehingga sukses dalam menulis buku dan berperestasi. Bagaimana trik menulis yang baik untuk bacaan tentang pendidikan saat ini yang memotivasi siswa?


Bagaimana  menjaga konsistensi dalam menyelesaikan buku dalam 1 Minggu? Mulai dari nol atau sudah berkonsep sebelumnya?


Bisakah bu is sebutkan dengan sedikit rincian yang ibu kerjakan perhari tersebut. dilanjutkan dengan pertanyaan "Tepatnya berapa lama proses menyusun buku bersama prof Eko sudah sampai ke penerbit?"







Apakah tantangan terbesar bagi ibu dalam proses menulis. Apakah ibu pernah mengalami mind blocking saat menulis? Untuk penulis pemula kira-kira langkah apa yg harus kita lakukan supaya semangat dalam menulis ? Apa yg harus kita lakukan jika banyak hambatan yang kita lalui ketika menulis 







Kesibukan adalah tantangan dan bukan hambatan. Buang kata negatif..segera ganti dengan kata positif. Karena kata negatif hanya akan merusak syaraf kita akhirnya kita menjadi lemah.

Pelajaran berharga telah diberikan oleh pakarnya. Sekarang tergantung pada kita, mau diambil dan diterapkan, atau diambil lalu didiamkan saja. Anda boleh memilih, setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi.



Sabtu, 11 September 2021

Menulis Auto Biografi

 Resume ke-27 Jum'at 10 September 2021

Tema                    :  Menulis Autobiografi
Narasumber           : Suparno, S.Pd, M.Pd
Gelombang            : 19
Moderator             : Ms.Phia

Pertemuan ke-27 dilaksanakan pada hari jum'at tanggal 10 September 2021. Ini adalah pertemuan ke-7 dari 10 pertemuan motivasi menulis yang direncanakan. Harapannya pada 10 pertemuan terakhir ini proses menulis buku semestinya telah berjalan. Sehingga pemberian materi tambahan, seharusnya menjadi tambahan energi untuk meningkatkan daya dorong terwujudnya buku yang dicita-citakan. Syukur-syukur Buku solo yang diharapkan, naskah maupun proses penerbitannya telah selesai sebelum kegiatan pertemuan kelas menulis usai. Tapi kalaupun belum, setidaknya proses menulis buku solo telah memasuki tahap akhir, seperti profreading atau koreksi beberapa kesalahan (typo). Dengan demikian cita-cita dan harapan untuk menyelesaikan kelas belajar menulis dengan sukses segera dapat diwujudkan.

Pertemuan ke-27 dibuka oleh om Jay sebagai founder kelas menulis PGRI. Setelah menyapa peserta beliau menyerahkan acara kepada Ms. Phia sebagai moderator untuk memandu jalannya acara belajar menulis. Ms. Phia sebenarnya masih peserta kelas belajar menulis yang seangkatan dengan peserta. Tetapi mungkin karena kelebihannya beliau mendapat penilaian tersendiri dari tim om Jay, dan akhirnya dipercaya untuk mendampingi narasumber pada kelas belajar menulis. Sudah dua kali seingat saya Ms. Phia menjadi moderator. Pada pertemuan sebelumnya menggantikan ibu Maesaroh yang tidak dapat melanjutkan tugas sebagai moderator. 

Tetapi siapapun yang menjadi moderatornya tidak masalah, yang penting acara belajar menulis dapat berjalan sebagaimana seharusnya. Sudah direncanakan bahwa pada sesi ke-27 ini tema yang akan menjadi perhatian peserta adalah "Menulis Auto Biografi". Banyak yang menunggu materi ini, termasuk saya. Saya sendiri tidak menduga jika materi ini ada dalam list tema yang akan disampaikan pada kelas menulis. Kebetulan saya sendiri sedang merintis sebuah karya berbentuk autobiografi. Sebetulnya autobiografi yang saya rencanakan bukan murni sejarah kehidupan pribadi, tetapi meliputi keturunan nenek. Tetapi materi ini tetap relevan dengan rencana  menulis saya. 
  
Mungkin sebelum kita lanjut pada pembahasan materi diklat, ada baiknya kita kenali dulu siapa narasumber kita. Beliau adalah Bapak Suparno, S.Pd, M.Pd seorang Kepala Sekolah dari SMPN  2 Karangrejo Magetan. Beliau gemar membaca, menulis, dan juga motivator Literasi. Kesukaan Beliau akan menulis dan membaca membuatnya dipercaya sebagai Pemimpin  Redaksi majalah  Pena Mageti. 

Pada resume ini, izinkan saya menyajikan paparan Bapak Suparno melalui pesan suara sebagaimana yang beliau lakukan pada proses penyajian materi.
Perkenalan lisan





Kita tidak tahu berapa  umur seseorang,  kita tidak tahu  kapan ajal  datang, kapan maut menjemput, maka menulislah  buku  biografi  agar  anak  cucumu  tahu  sejarah perjalanan kehidupan Anda. Dari sejarah  perjalanan  kehidupan Anda, anak  cucumu bisa belajar  betapa  untuk  mencapai  kesuksesan  itu  butuh  perjuangan  yang luar biasa. Suatu  saat  pasti  ada diantara  anak  cucu kita yang cinta pada ilmu pengetahuan dan ingin tahu  sejarah  perjalanan  kehidupan  nenek moyangnya. Di saat itu  buku   biografi  sangatlah berharga.




Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa karya autobiografi dapat dijadikan bukti (Evidance) fisik karya tulis untuk memenuhi syarat kenaikan pangkat.

Bagaimana  menyusun  buku  biografi?




Sebelum menulis buku autobiografi, sebaiknya kita membaca buku biografi orang-orang terkenal. Dari sana kita dapat belajar, bagaimana cara menulis dan mengembangkan ide menulis buku biografi. Jangan  hanya satu buku tetapi minimal  3 buku sehingga kita bisa memiliki  pembanding yang baik. Jangan  hanya  orang-orang  ternama,  tetapi  juga  membaca  buku  biografi orang-orang  yang selevel  dengan kita. Sehingga  kita tidak  berkecil  hati  untuk menuliskan  perjalanan  hidup  kita.

Langkahnya bagaimana? Mulailah  dengan  membuat outline. Atau kerangka  tulisan. Misalnya  dimulai  dari kelahiran kita, masa masa sekolah TK, SD,SMP,SMA, Kuliah,  Bekerja, menikah,  punya anak,  pergi  jauh, ke  luar kota, luar negeri dll. Masalah -masalah  yang pernah dihadapi,  kenangan pahit, kenangan indah dsb. 

Langkah  selanjutnya  adalah  menyiapkan  data data pendukung,  misalnya  foto, buku diary  dsb. Kemudian  membuat  jadwal  menulis,  taatilah  jadwal  yang telah Bapak Ibu  Buat. Setelah itu  kita bisa mulai  menulis per outline atau per judul. 

Tulislah mengalir  saja  jangan  diedit  dulu ,walaupun  ada kesalahan  biarkan saja, terus menulis  sampai selesai. Tulislah  dengan pikiran dan perasaan, dengan akal budi dari hasil merenung yang dalam maka pikiran akan terbimbing oleh ilham yang mengarahkan. Ketika kita menulis kadang muncul ilham atau ingatan sesuatu yang pantas ditulis. Tuliskan saja judulnya, dibuku yang berbeda. Kemudiaan segera  kembali  fokus  ke  outline. Setelah semua judul sudah terbahas kemudian sisipkan  judul yang terjeda tadi sesuai dengan urutan  sejarah  perjalanan  kehidupan  kita.

Agar tampilan buku tampak menarik dan menginspirasi, jika dalam suatu judul  ada frase, atau kata-kata mutiara yang menginspirasi bisa dituliskan di atas, sebelum  uraian  tulisan. Kemudian  lakukan editing  mulai  awal  hingga  akhir. Misalnya seperti  ini.

Bapak Suparno menunjukkan buku  autobiografinya yang berjudul  "Perjuangan  Hidupku". Buku tersebut berisi motivasi agar anak muda itu semangat kerja,  semangat  belajar,  dan semangat  berdoa.

Setelah editing selesai mintalah orang lain yang kita percaya  untuk  menjadi editor yang berkaitan  dengan  ejaan, tata bahasa dan lain-lain. Langkah terakhir  kirimkan pada penerbit. Kemudian buatlah cover buku yang baik, mintakan kata pengantar  pada tokoh tokoh  terkenal. 

"Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak". - Ali bin Abi Thalib

Tolitoli, 10 September 2021
Muliadi