Pengikut

Jumat, 06 Agustus 2021

Merdeka Belajar

 

Sumber gambar: NU Online

Merdeka belajar terdiri dari dua suku kata yaitu merdeka dan belajar. Merdeka memiliki arti independen (inggris). Independen artinya bebas atau mandiri. Bebas atau mandiri adalah kata sifat (Adjective) yang menunjukkan sifat objek, subjek atau benda yang bergerak atau berubah secara dinamis tanpa dipengaruhi oleh sifat atau keadaan lainnya. 

Pada statistik misalnya, dikenal variabel independen atau variabel bebas, yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lain yang disebut variabel tidak bebas atau dependen. Dengan demikian, berdasarkan pengertian ini, maka merdeka belajar berarti suatu keadaan atau kondisi dimana subyek belajar memiliki kebebasan atau kemandirian mengelola proses belajarnya. 

Pada pengertian ini, subyek belajar (pebelajar) menjadi variabel independen yang mempengaruhi variabel lain (dependen) dan bukan sebaliknya. Ini artinya pebelajar menjadi learning center yang mempengaruhi unsur-unsur terkait untuk menyesuaikan atau melakukan adatasi dengan keadaan atau kebutuhan pebelajar dan bukan sebaliknya justru pembelajar yang harus menyesuaikan dirinya. 

Dengan demikian pada konsep merdeka belajar unsur-unsur yang terkait dengan pebelajar seperti metode atau cara, bahan, dan sumber belajar seharusnya mengikuti keadaan dan kebutuhan pebelajar. Artinya pebelajar bebas memilih cara belajar, sumber belajar, pilihan jurusan, atau pilihan kurikulum sesuai minat atau bakatnya.

Pada kondisi kekinian dimana sumber informasi sudah demikian masif, maka pembelajar tidak lagi dapat dibatasi untuk mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan. Pebelajar memiliki kemerdekaan yang sangat luas untuk menentukan pilihan (choice) sumber belajar bagi dirinya. Pebelajar bahkan memiliki kemerdekaan memilih bidang tugas (task) yang diminatinya. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar.  Pilihan jurusan di sekolah bisa jadi tidak lagi dapat membatasi pebelajar memilih bidang yang diminatinya. Itulah merdeka belajar.

Tetapi benarkah merdeka belajar memberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya kepada semua unsur pendidikan untuk melakukan  sesuatu. Belum tentu, coba kita perhatikan makna merdeka berikutnya, yaitu freedom. Freedom artinya kebebasan. Bebas dan kebebasan tentu memiliki makna yang berbeda. Dalam KBBI kebebasan diartikan sebagai keadaan bebas. Keadaan bebas adalah keadaan subyek yang terbebas dari suatu belenggu atau yang membatasi dirinya. Kemerdekaan juga selalu dikaitkan dengan keadaan yang merdeka dari penjajahan. Dalam filosofi politik kebebasan umumnya dimasukan untuk mengenali kondisi apakah individu memiliki kemampuan bertindak sesuai keinginannya atau tidak (Wikipedia). 

Orang atau entitas yang memperoleh kemerdekaan bukan berarti bebas melakukan apa saja sesuai keinginannya. Kemerdekaan adalah konsep esensi. Dia merupakan hak asasi tetapi terbatas atau tepatnya terkendali oleh hak asasi orang lain. Jadi kemerdekaan bukan berarti kebebasan mutlak untuk melakukan segala yang diinginkan. 

Demikian pula dengan merdeka belajar bukan berarti bebas belajar sesuai keinginan (semau gue), bebas memilih jadwal atau membuat jadwal masing-masing, bebas mau kumpul tugas atau tidak, atau bebas mau sekolah atau tidak, dan seterusnya. Jika ini yang terjadi ini namanya kemerdekaan yang kebablasan. Jangan berharap kemajuan yang diperoleh justru kehancuran yang menanti.

Yang menarik adalah apakah belajar ini perna terjajah. Jika terjajah pada aspek apa belajar itu terjajah. Jika mencermati perjalanan pendidikan selama ini, maka menurut hemat penulis setidaknya ada 3 hal yang membuat belajar menjadi terjajah atau tepatnya terbelenggu sehingga harus segera dibebaskan, yaitu:

 (1) sumber belajar, sumber belajar ini pernah terbelenggu oleh sistem yaitu harus pakai buku paket yang ditetapkan pemerintah. Akibatnya guru tidak memiliki kebebasan memilih atau menggunakan sumber lain. Secara mental peserta didik juga terbelenggu atas posisi guru sebagai sumber belajar. Peserta didik lebih percaya ucapan gurunya daripada sumber lain. Guru sendiri terbelenggu dengan keterbatasannya sehingga tidak mampu menyajikan sumber belajar yang beragam pada peserta didiknya.

(2) metode atau pendekatan pembelajaran, guru terbelenggu oleh keterbatasan dirinya memilih dan menggunakan berbagai metode atau pendekatan yang lebih bermakna dalam melaksanakan pembelajaran. Guru hanya terikat pada satu pakem sehingga sulit melepaskan diri dari pakem tersebut.

(3) kurikulum, guru terbelenggu pada kurikulum yang tekstual sehingga sulit keluar dan melihat kurikulum yang kontekstual. Akibatnya pembelajaran cenderung menekankan pada hal teknis dan sangat sedikit yang non teknis. Padahal yang teknis akan mudah berubah dan hilang akibat perubahan kebutuhan. Sedangkan hal non teknis justru sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi berbagai perubahan yang terjadi dimasa kini atau masa depan.

Nah, konsep merdeka belajar menghadirkan kemerdekaan dalam belajar, terutama pada aktor kunci pembelajaran yaitu guru dan peserta didik. Melalui konsep merdeka belajar guru dan peserta didik sudah semestinya terbebas dari segala macam belenggu keterbatasan baik oleh dirinya sendiri atau faktor lain diluar dirinya.  

Pemanfaatan sumber belajar yang selama ini dibatasi oleh buku-buku tertentu, sudah saatnya secara kreatif memanfaatkan berbagai sumber belajar yang tersedia, seperti media online, perpustakaan, internet, masyarakat, alam sekitar, media meinstrem, dan lain-lain. Guru juga tidak mesti harus mengikuti metode tertentu, namun secara bebas berinovasi merancang program pembelajarannya sendiri.

Namun masalahnya, idealisme soal merdeka belajar akan berpulang pada kapasitas dan kemampuan guru dalam menerjemahkan dan mengimplementasikan konsep merdeka belajar. 

Terimakasih...

    


3 komentar:

  1. Betul pak. Yg pasti kebebasan bertanggungjawab gih. Merdeka belajar fokus pada belajar yg menyenangkan tp tdk sakpenake dewe.
    Salam SEDULUR.

    BalasHapus
  2. Banyak yang salah persepsi bahwa merdeka belajar ya semau gue. Padahal bukan itu maksud dari merdeka belajar.
    Mantap ini pembahasannya.
    Guru dan pelajar ini harus baca biar tidak salah persepsi lagi.

    BalasHapus
  3. Setuju Pak, merdeka belajar bukan seenaknya.
    Namun perlu tanggung jawab dalam mengerjakannya oleh semua pihak terkait.
    Ujung-ujungnya perlu komunikasi dan koordinasi.

    BalasHapus