Oleh: Muliadi, M.Pd
Dalam beberapa tahun terakhir, wacana peningkatan kualitas sumber daya manusia terus menjadi agenda utama pembangunan nasional. Pemerintah menempatkan pendidikan vokasi sebagai ujung tombak untuk menyiapkan tenaga kerja yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi perubahan global. Hal ini tercermin dalam berbagai kebijakan seperti program revitalisasi SMK dan penguatan link and match dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Program revitalisasi SMK, misalnya, dirancang untuk memperbaiki sarana prasarana serta meningkatkan kualitas layanan pendidikan agar mampu mencetak lulusan yang siap kerja dan relevan dengan kebutuhan industri. Bahkan, pemerintah menegaskan bahwa pengembangan SMK menjadi strategis karena berperan penting dalam menyiapkan tenaga kerja terampil yang adaptif terhadap perubahan global.
Namun, di balik berbagai kebijakan tersebut, masih ada persoalan mendasar yang sering luput dari perhatian: krisis karakter kerja. Banyak lulusan yang secara teknis cukup kompeten, tetapi belum memiliki disiplin, etos kerja, dan budaya keselamatan yang kuat.
Di sinilah kita perlu jujur mengakui bahwa persoalan utama bukan hanya kurikulum atau fasilitas, melainkan budaya belajar itu sendiri.
Lebih dari Sekadar Kebijakan
Transformasi pendidikan vokasi tidak cukup hanya dengan perubahan regulasi atau penambahan program. Perpres tentang revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi menekankan pentingnya keterlibatan industri serta peningkatan mutu secara menyeluruh dan terintegrasi.
Artinya, perubahan harus menyentuh level paling dasar: kebiasaan sehari-hari di bengkel dan laboratorium.
Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar keterampilan teknis, tetapi harus menjadi ruang pembentukan budaya kerja industri.
Mendesain Habitasi Industri di Sekolah
Menghadapi krisis karakter ini, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan imbauan moral atau ceramah motivasi. Kita membutuhkan sebuah sistem habitasi industri yang benar-benar terintegrasi dalam napas pembelajaran sehari-hari.
Solusinya bukan terletak pada penambahan jam teori, melainkan pada perombakan total atmosfer bengkel dan laboratorium sekolah.
Bengkel sebagai Miniatur Industri
Langkah pertama adalah menghilangkan jarak antara kebiasaan di sekolah dan realitas di tempat kerja. Bengkel harus diperlakukan sebagai miniatur industri dengan aturan non-toleransi terhadap pelanggaran keselamatan dan disiplin kerja.
Penerapan sistem “pintu gerbang K3” menjadi simbol bahwa setiap siswa yang masuk area praktik harus siap secara mental dan fisik. Tidak ada kompromi terhadap penggunaan alat pelindung diri, kerapihan, dan kesiapan kerja.
Di titik ini, nilai tidak lagi sekadar diajarkan, tetapi dipraktikkan hingga menjadi kebutuhan.
Standarisasi Proses yang Konsisten
Masalah lain yang sering muncul adalah budaya praktik yang terlalu berorientasi pada hasil akhir. Padahal, dunia industri menilai kualitas dari proses.
Karena itu, penerapan logbook alur kerja yang ketat menjadi penting. Setiap praktik harus melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, evaluasi, dan perapihan. Jika satu tahap terlewati, proses harus diulang.
Pengulangan yang konsisten akan membentuk pola pikir sistematis dan disiplin.
Mengukur Karakter Secara Objektif
Karakter tidak bisa lagi dinilai hanya berdasarkan persepsi guru. Dibutuhkan indikator yang terukur melalui sistem poin atau “paspor karakter”.
Ketepatan waktu, kepatuhan terhadap keselamatan kerja, budaya kebersihan, serta sikap profesional harus menjadi bagian dari penilaian yang menentukan kelayakan siswa mengikuti praktik kerja lapangan.
Dengan cara ini, siswa memahami bahwa karakter adalah kompetensi utama, bukan pelengkap.
Guru sebagai Role Model
Semua perubahan ini tidak akan berhasil tanpa keteladanan guru. Guru harus menjadi auditor budaya kerja yang berjalan di antara siswa, menunjukkan disiplin, profesionalisme, dan konsistensi.
Keberhasilan pembelajaran tidak lagi diukur dari banyaknya tugas yang selesai, tetapi dari kualitas proses dan minimnya pelanggaran budaya kerja.
Menuju Generasi Siap Kerja
Kebijakan nasional telah memberikan arah yang jelas: pendidikan vokasi harus menghasilkan lulusan yang kompeten dan relevan dengan kebutuhan industri. Namun kebijakan hanya akan menjadi dokumen jika tidak diterjemahkan menjadi budaya di tingkat sekolah.
Transformasi sejati terjadi ketika disiplin, keselamatan, dan etos kerja menjadi kebiasaan harian, bukan sekadar slogan.
Jika habitasi industri ini dilakukan secara konsisten, sekolah akan benar-benar menjadi kawah candradimuka pembentukan karakter.
Saat para siswa melangkah keluar dari gerbang sekolah menuju dunia kerja, mereka tidak lagi datang sebagai pencari pengalaman semata, tetapi sebagai profesional muda yang siap bekerja, siap belajar, dan memiliki karakter yang kuat.
Karena pada akhirnya, masa depan pendidikan vokasi tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan, tetapi oleh kebiasaan apa yang dibentuk setiap hari.










