Pengikut

1000 Guru Motivator Literasi

Segera Daftarkan Diri Anda.

Lintas Pagi Spirit RRI Tolitoli

Diskursus Penguatan Nilai-Nilai Pancasila di dalam Kehidupan Sehari-hari.

Dialog Lintas Pagi RRI Tolitoli

Guru Kontrak atau PPPK Menjadi Harapan Terakhir bagi para Honorer, ketika batasan usia dan kuota tidak lagi dipenuhi.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Kelas Menulis Gel 19. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas Menulis Gel 19. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Agustus 2021

Kiat Menulis Cerita Fiksi

 Resume ke-13, Senin 9 Agustus 2021


Tema            : Kiat Menulis Cerita Fiksi
Narasumber   : Sudomo, S.Pt
Gelombang    : 19
Moderator     : Aam Nurhasanah

Pengantar

Alhamdulillah, semua nikmat yang diberikan oleh Allah swt. Suasana batinku keruh karena nun jauh disana di kota pelajar Yogyakarta anak lelakiku sedang melakukan isolasi mandiri. 

Siang itu tiba-tiba telpon genggamku berbunyi. Kulihat sepintas, ternyata dari anakku amal "Pa, panas badanku, kepalaku juga sakit" suara anakku terdengar serak. "Kenapa nak, jangan-jangan nanda terpapar corona, coba ke rumah sakit di sweb" kataku. 

Aku memang sedikit panik, yang kupikirkan saat itu siapa yang dapat membantunya. Tidak ada kerabat atau keluarga, sementara kami semua berada dipulau yang berbeda. 

Pagi itu, dengan sedikit memaksa aku menyuruhnya untuk pergi ke rumah sakit terdekat. Selain untuk memastikan apakah dia benar-benar terpapar atau tidak, juga bertujuan supaya pengobatan segera dapat dilakukan. 

Beberapa kali aku menelpon untuk memastikan apakah dia sudah ada dirumah sakit atau belum, "Mal, sudah dimana sekarang" tanyaku. "Sebentar pa, ini juga lagi menunggu hasil" sahutnya dari seberang sana. 

Selang beberapa saat teleponku berdering "Papa, itu hasilnya ada saya kirim lewat WA" , "Bilang saja sama papa, tidak usah papa lihat WA" sergahku. Terdengar suara lirih dari baling telpon genggamku "Saya positif pa". "Yah sudah, tidak apa-apa, yang penting sudah dikasi obat kan?" tanyaku. "Sudah pa".

Aku sebetulnya tidak terlalu kaget, karena dengan keluhan yang disampaikannya aku sudah menduga kemungkinan besar anakku terpapar. Meskipun demikian rasa khawatir terhadap keadaan anakku selalu saja menghantui pikiranku. Aku bersyukur dan sedikit legah karena dia sudah mendapat penagangan dokter. Tidak dirawat di rumah sakit memang, tetapi dia harus isolasi mandiri dirumah. 

Sambil menulis resume ini, pikiranku terus melayang memilikirkan keadaan anakku yang entah bagaimana kondisinya. Hanya doa yang dapat aku panjatkan kehadirat Allahurabbi semoga anakku senantiasa diberikan kekuatan dan kesabaran menghadapi cobaan ini. Dalam suasana yang sedikit tidak nyaman, aku mencoba terus menulis.

Kiat Menulis Cerita Fiksi

Narasumber kali ini adalah Bapak Sudomo, S.Pt. Beliau adalah seorang Guru IPA di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat. Dari biodata yang dibagikan, momo DM demikian nama pena beliau, diketahui sudah aktif menulis sejak lama. Hal ini dapat dilihat dari rekam jejaknya dalam dunia tulis menulis. 

Sederat kejuaraan menulis, tertulis rapi menghiasi biodata beliau, membuat siapapun yang membacanya akan berdecak kagum. Puluhan buku fiksi telah ditulisnya, seakan menjadi peneguhan akan bakat khusus yang dimilikinya. Membuat siapa saja yang mengetahui hal itu akan terpikat untuk mengikuti paparannya.

Bu Aam Nurhasah yang beruntung bisa mendampingi sang penulis fiksi berbakat. Menuntun acara dengan kesabaran dan keramahannya. Membuat peserta bersemangat mengikuti paparan materi sekaligus mengajukan pertanyaan atas banyak hal yang perlu diketahui dari menulis karya fiksi.

Pokok-Pokok Materi

Pertama, yaitu mengapa kita harus menulis fiksi?  Setidaknya ada dua alasan, yaitu:

  1. Salah satu materi dalam tes Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)  adalah Teks Literasi Fiksi. Artinya saat ini guru harus bisa menulis fiksi. Tujuannya agar mudah menyediakan soal latihan bagi peserta didik.
  2. Dengan menulis fiksi akan bermanfaat dalam pengembangan profesi guru. Kumpulan cerita fiksi bisa dibukukan sebagai syarat kenaikan pangkat. Novel termasuk kategori karya seni kompleks. Kumpulan cerpen bisa termasuk kategori karya seni sederhana.

Kedua, syarat menulis fiksi, yaitu komitmen, melakukan riset, membaca karya fiksi, mempelajari KBBI dan PUEBI, memahami dasar menulis fiksi, dan menjaga konsistensi menulis fiksi.

Ketiga, bentuk-bentuk cerita fiksi, yaitu fiksimini, flash fiction, pentigraf, cerpen, prosa, novela, dan novel. Perbedaan terletak pada kompleksitas konflik cerita. Selain itu ada juga batasan kata dan ada juga yang menggunakan batasan paragraf.

Keempat, unsur-unsur pembentuk cerita fiksi, yaitu tema, premis, alur/plot, penokohan, latar/setting, dan sudut pandang. Dari sekian unsur ada premis yang mungkin baru bagi penulis 

Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat. Terdiri dari karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi. Contoh premis: Seorang anak memiliki kemampuan sihir bersekolah di sekolah sihir yang harus melawan penyihir jahat demi kedamaian bumi.

Dari contoh di atas jika dijabarkan sebagai berikut: 

  1. karakter: anak
  2. tujuan tokoh: kedamaian bumi
  3. rintangan: melawan penyihir jahat
  4. resolusi: belajar sihir

Kelima, kiat menulis fiksi. Untuk menulis sebuah karya fiksi diperlukan:

  1. Niat, terkait motivasi diri memulai dan menyelesaikan tulisan;
  2. Baca karya orang lain, bahan referensi, gaya bercerita, menambah diksi
  3. Ide dan Genre, terkait mencatat ide dan pilihan genre yang disukai dan dikuasai
  4. Outline, terkait kerangka tulisan berdasarkan unsur-unsur pembentuk cerita fiksi
  5. Menulis, terkait membuka  cerita, mengenalkan tokoh, menguatkan konflik, menggunakan pertimbangan logika cerita, susunan kalimat pendek dan jelas, pilihan kata, teknik show don't tell, dan ending yang baik.
  6. Swasunting, dilakukan setelah selesai menulis, jangan menyunting sambil menulis, fokus penyuntingan pada kesalahan penulisan, ejaan, kata baku, aturan penulisan, dan logika cerita. Selain itu harus kejam pada tulisan sendiri. Terakhir adalah berpegangan pada KBBI dan PUEBI.

Satu hal yang menarik dari teknik menulis fiksi adalah teknik show don't tell, yaitu teknik menulis kata sifat tanpa harus menyebutkan sifat tersebut. contohnya adalah kata sedih. Dengan teknik ini kita dapat membangun suasana sedih tokoh tanpa harus menuliskan kata sedih.

Contoh:

Tehnik tell, Mira sangat sedih melihat jenazah ibunya.

Tehnik show, Dadanya terasa sesak, napas terasa tersekat di tenggorokan, terdengar isakan dibarengi dengan derai air mata yang tak kunjung usai sembari menatap tubuh wanita yang melahirkannya terbujur kaku di ranjang.

Menurut bang Momo DM kisah nyata sangat bisa dijadikan cerita fiksi. Istilah kerennya based on true story. Ini akan membuat cerita fiksi lebih dekat dengan pembacanya. Sedangkan cara memanjangkan cerita fiksi salah satunya adalah menggunakan teknik show don't tell . Kalau untuk jenis novel panjang, perlu disiapkan outline/kerangka dengan beberapa konflik yang baik.

Cerita fiksi yang menarik salah satunya dengan membuat cerita tersebut hidup. Untuk membuat cerita hidup bisa dengan cara menguatkan karakter tokoh dan membangun suasana yang baik. 

Demikian pula soal ending, akhir cerita sebaiknya menjawab konflik cerita. Namun demikian, cerita yang sengaja dibuat menggantung (plot twist) juga akan disukai oleh pembaca. 

Kesimpulan

Membuat cerita fiksi memang sedikit berbeda dengan cerita non fiksi. Tetapi cerita non fiksi dapat disampaikan dengan gaya cerita fiksi agar lebih menarik. Tentu sepanjang tidak bertentangan dengan aturan penulisan karya non fiksi yang telah ditentukan, seperti makalah ilmiah, laporan penelitian, dan sejenisnya.

Cerita fiksi merupakan salah satu karya yang diakui sebagai persyaratan kenaikan pangkat karena dapat dipandang sebagai karya seni kompleks atau sederhana.

"Musisi harus menciptakan musik. Pelukis harus menggoreskan lukisannya. Penyair harus menulis sajaknya. Mereka harus melakukannya agar mencapai puncak kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka bisa jadi" (Abraham H Maslow, jagokata.com)

Wassalam

Jumat, 06 Agustus 2021

Menjadi Penulis Buku Mayor

 Resume ke-12, Jum'at 6 Agustus 2021

Tema              :  Menjadi Penulis Buku Mayor
Narasumber     :  Joko Irawan Mumpuni
Gelombang      : 19
Moderator       : Mr. Bams

Alhamdulillah, rasanya malam ini Allah swt memberikan nikmat sehat dan kuat kepada saya dan Insya Allah kepada kita semua, bil khusus kepada Om Jay dan tim, Mr. Bams dan teristimewah narasumber pada malam ini. 

Temanya tidak main-main "Menjadi Penulis Buku Mayor". Satu tema yang menantang rasa ingin tahu. Sehingga penikmatnya hampir melupakan rasa ingin tempe, maaf bercanda. 

Sangat terasa aroma pilihan menu makin ke depan makin mengasikkan dan menggiurkan. Sehingga wajar saja, jika para peserta menulis semakin hari semakin antusias berebut menjadi menjadi yang terdepan..he..he... Maaf ini bukan iklan motor loh.

Ok, malam ini moderator kita adalah Mr. Bams, sang pegiat literasi dari kota kembang. Beliau bertugas memandu acara dengan hikmat seraya menyampaikan salam dan memandu doa bersama semoga semua peserta dan narasumber senantiasa dalam keadaan sehat. 

Dengan gaya selorohnya yang menawan, Mr. Bams mengingatkan agar peserta jangan melupakan 4 hal, yaitu:

1. Nikmati kelas ini dengan bahagia, tersenyumlah agar imun bertambah.
2. Sediakan air minum juga cemilan agar tambah bahagia.
3. Siapkan pertanyaan, kirim ke 088809405468 sebutkan nama dan asal.
4. Nikmati materi dari narasumber dengan antusias

Mr. Bams langsung mempersilahkan narasumber, yaitu Bapak Joko Irawan Mumpuni. Beliau adalah direktur penerbitan pada penerbit Andi. Tercatat sebagai anggota Dewan Pertimbangan IKAPI DIY sekaligus sebagai ketua I, IKAPI DIY. Beliau sendiri merupakan seorang penulis bersertifikat BNSP yang juga berprofesi sebagai asesor BNSP. Berikut profilnya. 


Penjelasan

Secara garis besar narasumber menjelaskan perbedaan penerbit mayor dan minor. Menurut Pak Joko, bahwa perbedaan paling mendasar terletak pada jumlah terbitan buku per tahun. Pada penerbit mayor jumlah buku yang terbit jauh lebih banyak daripada jumlah buku yang diterbitkan oleh penerbit minor.

Dari sisi penulis, ada kebanggaan tersendiri jika bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor. Hal ini beralasan karena :
  1. naskah karya penulis akan dikelola lebih profesional, 
  2. penerbit mayor biasanya memiliki fasilitas lebih baik, 
  3. memiliki modal, percetakan, SDM dan juga jaringan pemasaran yang lebih luas (Joko Irawan).
  4. Ada seleksi yang ketat, sehingga jika diterima menjadi hal sangat luar biasa bagi penulis.
Di Penerbit ANDI, tiap bulan naskah yang masuk bisa mencapai 300 sd 500 naskah dan yang diterbitkan hanya 50 sd 60 judul saja. Sisanya dikembalikan ke penulis atau DITOLAK.

Ketatnya persaingan dalam menembus penerbit profesional yang minor atau mayor, maka para penulis ada yang menerbitkan secara mandiri melalui jasa penerbit Indie.

Lalu naskah buku seperti apa yang berpeluang diterima dan diterbitkan oleh penerbit profesional seperti penerbit Andi? yang jelas adalah buku yang laris dijual atau buku yang paling disukai oleh pembaca.

ada dua kelompok buku yang cukup diminati oleh pasar dan penerbit Andi (Mayor), yaitu kelompok buku teks dan kelompok buku non teks. 

Buku teks adalah buku yang digunakan olah mahsiswa atau siswa dalam proses pembelajaran. Ditingkat sekolah disebut buku pelajaran disingkat BUPEL sedangkan untuk kelompok mahasiswa disebut buku perguruan tinggi disingkat PERTI.

Sedangkan buku non teks adalah sebaliknya dan cenderung disebut sebagai buku-buku populer karena memang kontennya berupa apa saja yang populer dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Namun dalam prakteknya pemakaian buku oleh pembacanya tidak lagi terbagi-bagi menurut kelompok-kelompok tadi, apapun buku yang dibaca bisa dijadikan referensi untuk praktek kehidupan sehari hari maupun dalam rangka mendapatkan jenjang akdemik yang lebih tinggi.Berikut adalah gambaran jenis produk buku di pasar.



Intinya adalah Penerbit adalah lembaga profitable yang mencari keuntungan untuk bertahan hidup dan berkembang sehingga karyawan sejahtera, konsumen puas dalam jangka waktu yg tidak terbatas. oleh karena itu Penerbit boleh dikatakan industri. Naskah yang masuk pun akan dianggap sebagai bahan baku output industri, jika bahan baku bagus maka akan menghasilkan produk yang bagus pula. Oleh karena itu para penulis dan calon penulis harus paham cara berfikir industri penerbitan agar naskah tidak ditolak.



Ini adalah gambaran industri penerbitan secara lengkap, namun jika disederhanakan akan menjadi seperti ini


Naskah yang bisa diterima oleh penerbit mayor adalah naskah yang bisa dijadikan buku dan bukunya laku terjual. Untuk menentukan nilai kalayakan suatu buku, maka dilakukan pembobotan sebagai berikut:


Ada 4 kuadran penilaian yang menentukan sebuah buku diterima atau ditolak oleh penerbit mayor, yaitu:


Untuk melihat tema-tema apa yang populer, penulis dapat melihatnya melalui google trend. Berikut contoh tema-tema populer dan tidak populer yang ada di google trend.


Trend populer pada google trend dapat menjadi panduan bagi penulis tema-tema yang paling baik untuk dibuat naskah tulisannya. 

Selain tema-tema yang populer, penerbit juga akan melihat reputasi penulisnya. Reputasi penulis ini dapat juga dilihat di google trend. Ini contohnya.


Kemudian untuk menentukan oplah atau jumlah cetak penerbit mayor menggunakan acuan ini:

Penerbit akan menentukan oplah tinggi jika buku itu dinilai mempunyai market lebar dan life sycle panjang. Life cycle panjang artinya buku itu akan tetap relevan dimasa yang akan datang dalam waktu yang panjang.

Disela-sela penjelasan soal karakteristik naskah yang akan berpeluang besar diterima oleh penerbit mayor, Pak Joko tidak lupa memberikan motivasi melalui quote berikut:

Namun seorang penulis tidak hanya memperoleh kebanggan, dia juga setidaknya akan mendapatkan ini semua.


Selengkapnya rincian manfaat yang diperoleh penulis sebagai berikut:


Penerbit membagi 4 kuadran kategori penulis, berikut pembagiannya:


Penulis yang paling ideal menurut kacamata penerbit adalah penulis yang berada dikuadran satu, yaitu penulis yang idealis sekaligus industrialis.

Kesimpulan
Penerbit mayor seperti penerbit Andi adalah penerbit dengan kacamata industri. Oleh sebab itu buatlah naskah buku yang memenuhi setidaknya dua kriteria, yaitu:
  1. Buku yang laku dijual (diminati oleh pasar)
  2. Buku yang pangsa pasarnya luas (lebar) dan berkelanjutan (life sycle) 
Bagaimana memilih tema-tema yang laku dijual (populer)? lihat trendnya di google trend. Jika bukan temanya yang populer, maka setidaknya penulisnya yang populer. Tentu saja yang paling baik adalah tema populer di tulis oleh penulis yang populer.

Mau menerbitkan buku dipenerbit mayor? jadilah penulis yang populer dengan tema-tema populer. Tapi sudahlah, jangan berpikir terlalu keras biarkan semuanya mengalir. Ingat terlalu perfeksionis justru akan mendatangkan penyakit WB. Pesan yang baik untuk camkan "menulislah dengan tulisan jelek, karena tulisan yang baik itu hanya bonus dari kebiasaan". 

Wassalam

Rabu, 04 Agustus 2021

Menguak Dapur Penerbit Mayor

 Resume Ke-11 Rabu, 4 Agustus 2021



Tema              :  Menguak Dapur Penerbit Mayor
Narasumber     : Edi S Mulyanta
Gelombang      : 19
Moderator       : Sri Sugiastuti

Pembukaan 

Alhamdulillah, rasa syukur kepada Allah swt karena malam ini, pertemuan ke-11 saya masih bisa mengikuti dengan baik. Meskipun saya harus akui, ada kepenatan yang membebani. Mungkin karena perjalanan semakin menanjak, ataukah lawan semakin kuat.. ha..ha.. maaf saya tertawa lepas, agar penat sedikit terkelupas. Lihat saja, sudah dua sesi berturut-turut saya semakin jauh terpental dalam perebutan urutan list peringkat pada kompetisi balapan menulis cepat.

Materi malam ini "Menguak Dapur Penerbit Mayor" menurut hemat saya cukup sensional. Bukankah masalah dapur itu, masalah yang sensitif dan rahasia? kenapa harus dibongkar-bongkar? 

Tapi saya berpikir positif saja, mungkin pak Edi S. Mulyana Narasumber kita malam ini menganggap bahwa seluruh peserta kelas belajar menulis om Jay sudah seperti keluarga sendiri. Keluarga besar penerbit mayor .. he...he. Sebab kalau bukan, mana boleh kita diajak menguak dapur segala. Tapi saya yakin itu hanya sebuah ungkapan, cara tim kerja belajar penulis om Jay menarik perhatian peserta menulis. hebat...hebat...salut.

Alhamdulilah, malam ini kita kembali ditemani oleh bu Kanjeng yang ayu bersahaja. Dengan keramahan khas keraton solo berpadu dalam bingkai kemapanan sebagai penulis dan pembicara. Bu Kanjeng membuka acara dengan santun dan salam, seraya mengucapkan rasa syukur atas nikmat sehat dan sempat. Tak lupa Bu Kanjeng mengajak kepada semua peserta berdoa, memohon kehadirat Allahurabbi agar materi yang disampaikan dapat memberikan manfaat dan inspirasi bagi semua.

Bu Kanjeng  memperkenalkan profil narasumber melalui tautan ini:  https://omjaylabs.wordpress.com/2020/04/22/biodata-edi-s-mulyanta/

Secara singkat Narasumber bernama E.S Mulyanta, S.Si,M.T. Beliau lahir di Jogyakarta, tanggal 24 Mei 1969. Kedudukan beliau pada penerbit Andi sebagai sebagai Publishing Consultant Andi Publisher. Beliau sudah menikah dengan pujaan hati ibu Retna G, dan telah dikaruniai 3 orang anak.

Pak Edi (saya memanggilnya demikian) sebenarnya adalah penulis lepas. Diawal karirnya sebelum bergabung dengan penerbit Andi publisher, beliau justru banyak mengandalkan hidupnya dari kegiatan menulis. Pak Edi seakan ingin menunjukkan pada penulis pemula, bahwa jika kegiatan menulis itu benar-benar ditekuni, maka sangat mungkin kita dapat mencari kehidupan dari sana. Ini tertentu tergantung motif kita menulis. Tapi kan menulis dengan motif ekonomi sah-sah saja. 
 

Paparan materi.

Pak Edi, mengawali pemaparan dengan menggambarkan bagaimana terpuruknya dunia industri di masa pandemi covid-19. Semua industri, tidak terkecuali industri penerbitan dan percetakan mengalami guncangan hebat selama masa pandemi berlangsung. Kondisi tersebut memaksa setiap industri berupaya melakukan inovasi untuk menemukan siasat dan strategi baru agar mampu survive dalam badai ekonomi yang berkepanjangan, khususnya dibidang pemasaran produk, dalam hal ini buku.

Mau tidak mau, di era pandemi ini pola distribusi buku mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya saluran outlet menjadi jalur utama pemasaran. Justru saat ini menjadi korban dari keganasan virus Covid 19, karena ditutupnya jaringan-jaringan toko buku atau dibatasinya aktivitas pusat perbelanjaan. Situasi ini memaksa penerbit menggunakan strategi pemasaran lain, diantaranya melalui pendekatan serangan udara (ini istilah pak Agust Subardana).

Dampak dari menurunnya omset penjualan akibat dari pembatasan operasi outlet toko buku fisik karena kebijakan PSBB atau PPKM, secara otomatis telah membuat proses penerbitan buku menjadi melambat menyesuaikan dengan kondisi output penjualan buku yang melambat. Bagaimanapun Outlet toko buku, merupakan sarana pemasaran yang cukup efektif dibandingkan dengan strategi pemasaran lainnya.

Namun dengan berlakunya PSBB di beberapa daerah, dengan otomatis Toko buku andalan penerbit yaitu Gramedia memarkirkan bisnisnya di sisi pit stop dan terhenti sama sekali. Dari omzet normal dan terhenti di pit stop menjadikan omzet terjun bebas berkisar 80-90% penurunannya. Outlet yang tertutup menjadikan beberapa penerbit ikut terimbas, sehingga mereposisi bisnisnya kembali. Hal ini berdampak secara langsung ke produksi buku hingga ke sisi penulis buku yang telah memasukkan naskah ke penerbit menanti bersemi di Toko Buku.

Sebetulnya menurut pak Edi, sebelum hari raya 2021, perkembangan penjualan buku cukup baik. Kondisi tersebut membuat banyak penerbit menaruh harapan yang cukup tinggi pada saat itu. Setelah hari raya, ternyata gelombang Covid mengembalikan penjualan buku ke titik terendah sejak 2020, sehingga  penerbit akhirnya harus mencoba outlet-outlet baru.

Sementara itu, penerbitan sebagai dapur pengolahan naskah dari penulis, menurut pak Edi sebenarnya tidak ada masalah berarti, khususnya dari sisi penerimaan naskah baru. Di era pandemi ini, naskah masih saja mengalir dengan cukup baik. Bisa jadi ini karena banyak calon penulis yang melakukan WFH sehingga banyak waktu untuk menulis naskah buku.

Tuntutan untuk tetap produktif kepada para pengajar baik guru maupun dosen, menjadikan laju naskah baru masih tetap terjaga dengan baik. Yang menjadi kendala adalah justru dipengolahan naskah, mulai dari editorial, setting perwajahan dan cover hingga produksi buku cetak.

Terbitnya UU nomor 3 Tahun 2017 yag diikuti oleh Peraturan Pemerintah 2 tahun kemudian yaitu PP No 75 tahun 2019 sebetulnya telah memperkuat posisi penerbit dan penulis. Dalam UU tersebut dijelaskan dengan detail bagaimana proses industri penerbitan dan unsur-unsur yang ada di dalamnya. PP No 75 sebagai aturan pelaksana kemudian mengatur secara lebih detail bagaimana proses membuat naskah hingga menyebarluaskannya.

Penulis sebaiknya memperhatikan dengan seksama peraturan pemerintah no 75 tersebut. Mengingat dengan PP ini proses penerbitan buku akan mejadi lebih cepat. Kenapa lebih cepat, karena ada aturan-aturan yang detail bagaimana sisi penulis mengajukan naskah hingga sisi penerbit dalam mengelola naskah menjadi buku.

Terkait dengan penerbit mayor dan minor, menurut pak Edi sebenarnya tidak ada dalam Undang-undang perbukuan no 3 tersebut. Jadi ini hanya pembagian yang secara alamiah terjadi, dimana penerbit mayor tentu mempunyai jumlah produksi yang lebih tinggi dibanding dengan penerbit minor.

Perpustakaan nasional sendiri, menggolongkan penerbit kedalam penerbit yang berproduksi ribuan dan ratusan yang terlihat dalam pembagian ISBN yang dikeluarkannya. Jadi tidak ada mayor dan minor

Dikotomi penerbit mayor dan minor, terjadi di sisi pemasaran buku. Dimana ada penerbit yang mampu menjangkau secara nasional dan ada yang regional saja. Hal ini diperuncing lagi dengan pembagian yang dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi di Indonesia atau Kemendikbud DIKTI, yang mensyaratkan terbitan buku harus berskala nasional penyebarannya.

Penerbit yang sudah terlanjur beroplah besar tentu tidak ada masalah dengan hal ini, karena memang skala produksi dan skala mesin produksinya memang sudah terlanjur besar, sehingga untuk memenuhi pasar nasional tidak terlalu sulit.

Sebetulnya yang tidak kala penting dari aspek penjualan buku adalah minat pembaca. Ketepatan dalam merespon kebutuhan dan keinginan pembaca tentu akan memberikan dampak yang baik terhadap nilai penjualan buku. Pengalaman penerbit Andi dalam mengidentifikasi tema buku yang paling diminati menjadi sangat penting saat keadaan chaos seperti ini. Suatu keberuntungan, tema-tema yang upto date mengenai virus corona, mampu dengan cepat ditebarkan ke penulis-penulis penerbit Andi sebelumnya. Dengan begitu para penulis dengan cepat pula mendapatkan bahan-bahan atau buku-buku yang berkaitan dengan virus.

Kesiapan penulis, dalam menuliskan materi dalam sebuah buku menjadikan tantangan tersendiri, mengingat bahan-bahan sumber rujukan masih belum tersedia dengan mudah. Namun kabar baiknya penerbit Andi telah mempunyai database penulis yang cukup baik, sehingga dengan cepat dapat mengidentifikasi siapa penulis yang berkompeten di bidang ini. Dan dengan cepat pula meramu materi, kemudian kita launch, dan beruntung mendapatkan sambutan yang baik.

Kesimpulannya adalah kesiapan penulis dalam updating materi tulisannya adalah menjadi mutlak diperlukan untuk dapat ditawarkan hasil tulisannya tersebut ke penerbit.

Saat ini penerbit Andi mereposisi produksi buku fisik untuk tidak dilakukan pencetakan secara massal, akan tetapi menyesuaikan dengan kondisi pasar yang fluktuatif. Hal ini tentunya memberikan kesempatan yang lebih lebar kepada calon penulis untuk mencoba memasukan era baru ini, dimana produksi buku akan mengikuti keinginan pasar secara lebih spesifik.

Produksi penerbit Andi saat ini mencoba memenuhi permintaan cetak dari 10 eksemplar hingga 300 eksemplar. Range produksi ini disesuaikan dengan keadaan daya serap pasar yang cenderung mengikuti komunitas dari penulis bukunya sendiri.

Selain itu penjualan online cukup membantu untuk tetap menjaga cash flow. Dan yang paling penting penerbit Andi mencoba untuk memproduksi buku dalam bentuk digital atau e-book supaya kesempatan untuk terbit menjadi lebih luas.


Pada kesempatan yang sama pak Edi membagikan website yang dapat dikunjungi untuk melihat buku-buku digital yang telah diproduksi selama ini yaitu bukudigital.my.id 

Para penulis yang ingin agar bukunya cepat bisa ditebitkan, maka salah satu triknya adalah mengikuti arahan dari PP 75, yaitu melakukan editing mandiri dari sisi penulis, sehingga akan sangat membantu dalam proses editorial di sisi penerbit.



Sedangkan editorial di sisi penerbit adalah


Kesempatan ini sangat layak untuk dicoba dengan cara mempelajari bagaimana melakukan editing mandiri sebelum diserahkan ke penerbitan, sehingga proses penerbitan akan dapat dipersingkat.

Hal lain yang perlu diketahui oleh penulis adalah naskah dapat diterima oleh penerbit mayor apabila :
  1. Tulisan harus baik dan Unik, baik dalam arti pemilihan tema yang menarik dan yang paling penting adalah unik, karena mempunyai hal yang berbeda dengan yang lain dan mempunai nilai kebaruan.
  2. Banyaknya naskah yang masuk, sehingga waktu seleksi dan produksi terbebani dengan antrian yang sangat banyak.
Untuk dapat deal dengan cepat, semua penerbit mayor akan sangat tertarik jika penulis mempunyai captive market sendiri. Captive market merupakan sebuah pasar dimana calon pembeli hanya dihadapkan pada pilihan yang sangat terbatas. Sehingga penulis yang mempunyai massa (guru, dosen, penggiat, artis) menjadi magnet yang cukup menarik untuk dapat diterbitkan karyanya.

Buku sebaiknya sudah diputuskan formatnya oleh penulis, dalam arti penulis sudah mempunyai bayangan ukuran buku, ketebalan, dan siapa pembacanya. Struktur buku yang baik, juga sangat menarik editorial untuk memutuskan diterbitkan atau tidak sebuah buku. Dengan struktur buku yang baik, tentu akan memudahkan naskah untuk diolah secara optimal.

Penutup
Penerbit mayor sebagai pemain utama dalam industri perbukuan mengalami penurunan omset penjualan yang cukup tajam dimasa pandemi ini. Hal ini terjadi karena Outlet toko buku yang merupakan sarana pemasaran yang paling diandalkan terpaksa harus menghentikan kegiatannya akibat kebijakan PSBB maupun PPKM. Meskipun demikian dari sisi penerbit,  tidak ada masalah berarti dari sisi penerimaan naskah baru. Sehingga produktivitas menulis tetap bisa berjalan. 

Agar proses penerbitan bisa lebih cepat, maka sebaiknya para penulis memperhatikan dan mengikuti UU nomor 3 tahun 2019 dan PP nomor 75 yang mengatur secara detail tentang cara melakukan editing mandiri dari sisi penulis, sehingga akan sangat membantu dalam proses editorial di sisi penerbit. Pada UU atau PP nomor 75 tidak diatur soal penerbit mayor atau penerbit minor.

Menerbitkan buku di penerbit mayor seperti penerbit Andi adalah sebuah tantangan bagi penulis. Oleh sebab itu, memahami karakteristik dan seluk beluk proses penerbitan di penerbitan mayor sangat perlu bagi seorang penulis.

Buku adalah sahabat paling setia rela mendampingi di mana pun dan kapan pun tanpa pernah memikirkan dirinya. Sebaik-baik teman sepanjang zaman adalah buku. Maka, mari menulis, wujudkan mimpi besarmu dengan membut buku dan diterbitkan oleh penerbit. Ada penerbit mayor ada penerbit minor, anda pasti tau penerbit mana yang akan menjadi tujuan pelabuhan bukumu.

Wassalam 



Senin, 02 Agustus 2021

Pemasaran Buku

 Resume Ke-10 Senin, 2 Agustus 2021


Tema              :  Pemasaran Buku
Narasumber     :  Agus Subardana, S.E, M.M
Gelombang      : 19
Moderator       : Aam Nurhasanah

Malam ini kegiatan belajar menulis PGRI mengambil tema yang cukup menarik "Pemasaran Buku". Narasumber yang akan menyampaikan materi berasal dari salah satu penerbit mayor, yaitu penerbit Andi. Penerbit Andi adalah jenis penerbitan profesional dengan dukungan sumber daya yang besar, baik permodalan maupun SDM. Penerbit mayor merupakan pemain utama dalam industri perbukuan. 

Bapak Agust Subardana, S.E, M.M sebagai direktur marketing pada penerbit Andi Yogyakarta. Berkesempatan berbagi bersama peserta kelas menulis, tentang seputar pemasaran buku. Suatu kesempatan yang sangat berharga, mendapat pencerahan dari pakar sekaligus praktisi di industri perbukuan. Menjadikan kita lebih kaya pengetahuan dan pengalaman, bagaimana sebuah industri perbukuan berjalan.  

Dapat dikatakan bahwa pemasaran buku merupakan ujung tombak dari industri perbukuan. Maju mundurnya industri perbukuan akan bergantung pada keberhasilan pemasaran buku. Karena bagaimanapun keberhasilan pemasaran buku akan mempengaruhi unsur-unsur lain dalam sistem industri perbukuan baik langsung atau tidak langsung, seperti penerbit, distributor, toko buku, penikmat buku, termasuk para penulis buku.

Dalam relasi antara penerbit dan penulis, proses pemasaran buku tentu akan saling menguatkan diantara keduanya. Bagi penerbit buku, semakin laris buku yang dijual, maka akan semakin optimal keuntungan yang diperoleh. Pada saat yang sama penulis akan memperoleh keuntungan dari royalti hasil penjualan buku yang ditulisnya. Namun sebaliknya juga akan berlaku pada keduanya. Artinya jika penerbit tidak dapat menjual buku secara maksimal, maka otomatis royalti yang dibayarkan kepada penulis juga akan menurun.

Oleh karena itu, menarik untuk disimak bersama bagaimana proses penjualan buku dan seluk beluknya. Terutama ditengah hantaman badai ekonomi akibat pandemi covid-19. Melalui suguhan materi ini, penulis berkesempatan menambah wawasan tentang industri perbukuan, khususnya pada bidang pemasaran buku. Kehadiran Bapak Agust Subardana tentu sangat tepat sesuai kapasitas beliau sebagai direktur pemasaran pada penerbit Andi.

Pengalaman selama 17 tahun bekerja di Penerbit Andi Yogyakarta, khususnya pengalaman dibidang pemasaran sejak tahun 1999 sampai saat ini tentu Bapak Agust sangat berkompeten menjelaskan pengalaman seputar marketing. Terutama strategi pemasaran buku dimasa pandemi Covid-19. Beliau didampingi oleh Bu Aam Nurhasanah yang bertindak selaku moderator yang memandu acara ini dari awal sampai akhir acara.

Diawal materi, narasumber sedikit menjelaskan tentang pentingnya buku sebagai sumber ilmu, sarana belajar maupun informasi. Olehnya itu, maka sejak dini anak-anak telah diperkenalkan dengan buku. Pemerintah terus mendorong kegiatan membaca sejak dini. Dengan makin banyaknya masyarakat membaca, selain makin cerdas, kebutuhan buku juga meningkat. Yang pada gilirannya mampu menciptakan peluang usaha dibidang penerbitan buku.

Namun ditengah hantaman pandemi covid-19, hampir semua industri mengalami penurunan, tidak terkecuali industri perbukuan. Bahkan tidak sedikit yang harus gulung tikar. Penerbit Andi mencatat sejumlah dampak pandemi terhadap penjualan buku di tanah air sebagai mana ditunjukkan pada caption berikut:


Selama masa pandemi, diakui oleh Bapak Agust penjualan buku mengalami pasang surut. Hal ini dapat dilihat dari data penjualan pada periode januari s.d juni 2021. Dari data tersebut terlihat, omset penjualan buku terus mengalami penurunan, meskipun pada beberapa titik mengalami kenaikan, tetapi tidak signifikan.


Tentu saja melihat kondisi ini, penerbit harus lebih kreatif dan inovatif menciptakan peluang pasar agar tetap bisa bertahan. Seiring dengan masifnya penggunaan teknologi digital, penerbit Andi melihat adanya peluang pemasaran yang dapat dimanfaatkan. Dalam hal ini strategi yang digunakan adalah digital marketing sebagai bentuk transformasi mendasar pada bisnis penerbitan buku. Ditengah pandemi covid-19, hidup dalam situasi new normal harus dijalani. hal ini ditandai dengan minimnya sentuhan fisik (low-touch), sehingga interaksi antar manusia bergeser dengan memanfaatkan fasilitas digital.



Pilihan strategi pemasaran penjualan buku sangat dipengaruhi oleh banyak aspek dan unik. Hal ini dapat dilihat dari jenis-jenis buku yang di terbitkan. Jenis-jenis buku yang di terbitkan tersebut dikelompokan menjadi katagori buku. Penerbit ANDI Offset menerbitkan cukup banyak katagori produk, yaitu ada 32 katagori produk buku (Katagori buku Anak, buku Bisnis, Buku Pertanian, Buku Fiksi - Novel, Buku Pengembangan Diri, Buku Teks , dll ).

Dari jenis-jenis katagori buku tersebut kemudian dilakukan pemetaan berdasarkan segmentasi jenis katagori buku yang diterbitkan. Pada umumnya kegiatan pemasaran buku berkaitan dengan beberapa kegiatan bisnis.  Sehingga strategi pemasaran pada umumnya di pengaruhi oleh bebera faktor, yaitu:
  1. Faktor Mikro , yaitu perantara, pemasok, pesaing dan masyarakat.
  2. Faktor Makro yaitu demografi-ekonomi, politik-hukum, teknologi-fisik dan sosial-budaya.
Saat ini dalam menjalankan bisnisnya, Penerbitan Buku yang sedang dijalankan masuk dalam faktor Mikro dan Makro. Hal ini karena Penerbit ANDI Offset sudah termasuk Industri Penerbitan buku sangat berpengalaman.  Selama 40 tahun, Penerbit ANDI Offsetdan telah menerbitkan buku lebih dari 10.000 judul buku yang telah di kelompokkan menjadi 32 katagori.

Ada dua strategi pemasaran buku yang dilakukan oleh penerbit Andi, yaitu
  1. Strategi Pemasaran Buku serangan Udara 
  2. Strategi pemasaran buku serangan Darat, 
Dengan berlandaskan pada faktor mikro dan faktor makro tersebut di atas. Dua strategi tersebut dapat kita jelaskan secara singkat sebagai berikut :

Strategi pemasaran udara adalah strategi pemasaran online dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial, dan marketplace yang ada. Sedangkan pemasaran darat umumnya dilakukan dengan memanfaatkan 87 cabang penerbit Andi yang tersebar dari Aceh s.d Papua, dengan menempatkan tenaga pemasaran di tiap kantor cabang tersebut.
Strategi pemasaran buku serangan darat dikelompokkan berdasarkan target pasar yang dituju, antara lain :
  1. Toko buku modern
  2. Toko buku semi modern 
  3. Toko buku tradisional
Pada toko modern, penerbit biasanya menawarkan buku kemudian diberi PO sesuai dengan kapasitas exemplar masing-masing toko.Yang tidak penting adalah penerbit harus menguasai display. Hal ini akan memudahkan pembeli menemukan buku yang diinginkan.

Buku adalah muara dari kegiatan menulis. Sedangkan penjualan adalah muara dari bisnis dan industri perbukuan. Penulis dan penerbit pada satu titik memiliki kebutuhan yang sama. Oleh sebab itu, mengerti dan memahami sistem penjualan buku juga bagian dari pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang penulis.

Wassalam