Pengikut

Jumat, 02 Juli 2021

Mungkinkah PJJ tanpa learning lost?



Melihat kondisi saat ini kecil kemungkinan pembelajaran dapat dilaksanakan dalam bentuk tatap muka. Peningkatan jumlah penderita covid yang cenderung naik, yang dikuti dengan keluarnya edaran gubernur tentang PPKM mikro mengisaratkan bahwa tatap muka pembelajaran belum akan diizinkan, setidaknya dalam waktu dekat ini. Andaikan pembelajaran tatap muka belum dapat dilaksanakan pada awal tahun pelajaran, maka mau tidak mau pembelajaran masih akan menerapkan model PJJ.

Masalahnya adalah pembelajaran PJJ yang dilaksanakan satu tahun belakangan dinilai kurang efektif. Jika kondisi pembelajaran yang demikian terus berlanjut, maka dikhawatirkan dampak “learning lost” akan semakin masif. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bahkan mencatat, tanda-tanda learning lost sudah mulai terjadi. Hal ini berdasarkan hasil asesmen diagnostik yang dilakukan guru selama masa pandemi Covid-19 sebagaimana dilaporkan republika.com, 21 Januari 2021. Ini menunjukkan bahwa dampak learning lost sudah terjadi di awal tahun 2021 dan cenderung semakin buruk jika tidak segera ditangani dengan baik. 

Learning lost adalah kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar pada siswa. Learning loss merupakan kerugian jangka panjang terhadap pembelajaran anak-anak akibat penutupan sekolah sementara. Sebuah studi menunjukkan Learning loss, akan berdampak panjang sehingga menyebabkan masalah ekonomi dan sosial di masa depan. 

Peneliti RISE (Research on Improving System of Education) dari Universitas Oxford di Inggris , Michelle Kaffenberger menyatakan “Siswa yang kehilangan kesempatan belajar selama 1,5 tahun akan kehilangan pendapatan sebesar 15% saat dewasa. Sedangkan siswa yang kehilangan kesempatan belajar selama 2 tahun akan kehilangan pendapatan sebesar 20% saat dewasa,” (Kandera news.com, 1 Juli 2021). 

Jika apa yang disinyalir oleh Kaffenberger tersebut benar-benar terjadi, maka hal ini akan semakin menurunkan daya saing SDM kita dimasa depan, mengingat dalam kondisi normal sekalipun SDM kita masih kala bersaing dengan negara lain. Hal ini dapat dilihat dari laporan Pathways to Middle Class Jobs in Indonesia, Bank dunia melaporkan rata-rata pekerja di Indonesia berkualitas rendah. 

Bank dunia bahkan menyebutkan bahwa sebagian besar tenaga kerja Indonesia saat ini tidak dilengkapi keterampilan selayaknya pekerja kelas menengah. Keterampilan yang dimaksud Bank dunia adalah keterampilan digital, interpersonal, kognitif serta pengetahuan penunjang seperti tehnologi, sains, teknis, bisnis, dan matematika. 

Sejatinya keterampilan digital dan pengetahuan teknologi dapat berkembang dengan baik selama proses PJJ. Mengingat platform utama yang banyak digunakan selama PJJ adalah teknologi digital. Individu yang memiliki keterampilan digital dan pengetahuan tehnologi cenderung memiliki akses yang luas terhadap berbagai informasi. Dari sini kita bisa berasumsi bahwa seharusnya peningkatan pengetahuan dibidang sains, teknis, bisnis, dan matematika akan lebih baik. 

Lalu benarkah PJJ penyebab learning lost ? belum tentu. Buktinya ada lembaga pendidikan terkemuka di Indonesia yang justru menjadikan PJJ sebagai platform utama pembelajaran, yaitu UT. UT atau Universitas Terbuka merupakan perguruan tinggi negeri ke-45 yang berdiri di Indonesia. Diresmikan pada 4 September 1984, pendirian kampus ini didasari oleh Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1984. 

Salah satu pertimbangan mendirikan Universitas Terbuka adalah dalam rangka memperbesar daya tampung perguruan tinggi sehingga sejauh mungkin mampu menjangkau calon mahasiswa di seluruh pelosok Tanah Air. Karena itu, Universitas Terbuka dinilai sebagai cara dan pendekatan baru dalam hal perkuliahan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang telah ada. Terbukti hingga saat ini bahkan UT tercatat sebagai salah satu universitas terbaik dengan akreditasi A. 

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya PJJ berpeluang untuk dilaksanakan secara efektif. Yang perlu kita cermati adalah dimana titik lemah PJJ yang selama ini dilaksanakan. Bahkan jika perlu kita belajar kepada UT bagaimana seharusnya mengelola PJJ yang berhasil. Jika PJJ yang efektif dapat kita laksanakan menghadapi kemungkinan pembelajaran tanpa tatap muka saat ini, maka bukan tidak mungkin PJJ tanpa learning lost dapat kita wujudkan.

2 komentar:

  1. UT, peserta belajarnya adalah orang dewasa yang secara sadar belajar untuk mencapai suatu tujuan, juga sudah diterapkan sejak lama,jadi wajar saja kalau tidak mengalami kendala. sementara peserta belajar di SD dan SMP adalah anak-anak yang mungkin belum mengerti apa-apa tentang tujuan pendidikannya, sedangakan siswa SLTA adalah remaja yang sedang bereksplorasi mencari jati diri yang terkadang masih samar tujuannya. Belum lagi tentang waktu, begitu mendadak terjadi. Karenanya, benar, perlu kerja super keras dan cerdas agar loss learning tidak terjadi. Perlu kolaborasi yang baik, saling menguatkan antara sekolah, orang tua, dan instansi terkait agar kita tidak kecolongan.

    Tulisan yang tertata rapi. Semoga saya dapat belajar banyak dari karya Bapak. Sukses ya, Pak.

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas tanggapannya

    BalasHapus