Pengikut

Jumat, 23 Juli 2021

Gagal Merencanakan Sama Dengan Merencakan Kegagalan


Perencanaan dalam aktivitas apapun perlu. Sesederhana apapun suatu aktivitas, tentu lebih baik dari pada aktivitas yang tidak direncanakan. Ilustrasi ini mungkin akan memperjelas perbedaan keduanya. 

"Suatu ketika anda pergi ke pasar. Perjalanan anda ke pasar tidak anda rencanakan sebelumnya. Anda pergi begitu saja tanpa berpikir lebih dahulu apa yang anda akan lakukan di pasar. Sampai di pasar anda melihat banyak barang dan kebutuhan harian yang ditawarkan penjual. Tiba-tiba anda melihat ikan batu yang relatif murah ditawarkan penjual, anda tertarik. Mumpung murah, jadi anda beli. Setelah berpindah dari penjual ikan, anda melihat rica, lemon, dan garam. Anda pun membeli dengan pertimbangan anda akan membuat ikan bakar rica, masuk akal. Kemudian anda keluar area pasar, disana ada penjual senter serba bisa, bisa buat senter juga bisa buat penerangan ketika mati lampu, anda pun membelinya. Demikianlah seterusnya, anda terus membeli barang yang menurut anda bagus. Sampai di rumah, dengan bangganya anda memberikan semua yang telah anda beli kepada istri anda. Apa yang terjadi? istri anda bukannya senang tetapi justru memarahi anda habis-habisan. Mengapa? karena belanjaan yang sudah dibeli ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan. Istri anda tidak memerlukan ikan, karena ikannya sudah ada. Istri anda ternyata sudah memesan ikan terlebih dahulu kepada tetangga. Anda pun ternyata tidak butuh senter serba bisa, karena sudah ada lampu penyimpan daya yang bisa menyala saat lampu mati. Senter pun tidak diperlukan, karena senter yang lama masih bagus. Pendek kata hari itu, apa yang anda beli ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan. Jadinya tujuan tidak sesuai harapan"

Ilustrasi di atas, adalah gambaran bagaimana sebuah aktivitas yang tidak direncanakan berlangsung. Belanja ke pasar adalah aktivitas sehari-hari yang sederhana. Tapi karena tidak direncanakan, dampak negatifnya jadi luar biasa. Pelakunya tidak mampu memprediksi akibat yang ditimbulkan. Pencapaiannya pun menjadi tidak terukur. Hasil yang kelihatannya baik, ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

Hasil diatas tentu akan berbeda, ketika anda sebelum berangkat sudah bermusyawarah dengan istri. Anda merencanakan akan ke pasar dan mencatat hal apa saja yang anda akan beli. Budget yang anda bawa pun sudah anda perhitungkan sesuai kebutuhan yang anda akan beli. Dengan catatan belanja yang anda bawa, kecil kemungkinan anda akan salah beli. Anda pun dipastikan tidak akan berselisih dengan istri karena semuanya sudah disepakati.

Aktivitas yang direncanakan paling tidak membuat pelaksanaannya menjadi lebih fokus dan terarah. Sehingga pencapaian tujuan dari aktivitas tersebut lebih terukur. Jika terjadi kesalahan atau ketidaksesuaian, memperbaikinya pun tidak perlu mengulangi dari awal. Cukup hanya bagian yang tidak sesuai yang dibetulkan. 

Stave Maraboli, seorang penulis dan motivator Amerika Serikat mengatakan "Having a goal with no plan of action is like wanting to travel to a new destination without having a man". Makna dari pernyataan tersebut kurang lebih adalah memiliki tujuan tanpa perencanaan sama dengan bepergian ke tempat baru tanpa peta. Dapat dibayangkan bagaimana pusingnya mencari satu tempat tanpa petunjuk yang jelas. Kita akan menghabiskan banyak energi yang tidak perlu dikeluarkan. Dari sini harusnya kita paham, bahwa bekerja tanpa perencanaan sama dengan bekerja tanpa tujuan. Pekerjaan menjadi boros, tidak efektif, tidak efesien, dan bahkan sangat mungkin akan menemui kegagalan. 

Perencanaan yang baik merupakan 75% dari keberhasilan. Jika anda seorang guru apalagi kepala sekolah pastilah anda seorang sarjana yang sudah menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir. Setiap skripsi atau tugas akhir diawali dengan penyusunan proposal. Anda tau berapa bab proposal yang anda susun? setiap proposal baru dianggap lengkap jika sekurang-kurangnya menyelesaikan 3 bab dari 4 bab skripsi yang akan disusun. Apa artinya itu? artinya proposal atau perencanaan 3/4 bagian dari seluruh proses penyusunan skripsi. 3/4 bagian sama dengan 75% . Hal ini membuktikan bahwa perencanaan akan menentukan 75% keberhasilan. Sisanya 25% ditentukan oleh aktivitas dilapangan.

Berdasarkan penjelasan di atas, wajar saja jika kemudian Abdullah Gymnastiar, Tokoh agama dan pendakwa kondang mengatakan "Awalilah setiap pekerjaan dengan perencanaan yang baik, karena gagal dalam merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan itu sendiri". Kegagalan menyusun proposal sama saja merencanakan kegagalan untuk menjadi sarjana. Dalam proses pembangunan konstruksi pun demikian, keberhasilan dan kegagalan sebuah konstruksi bangunan akan sangat bergantung pada rencana konstruksinya. 

Sehingga jelas, perencanaan menempati posisi yang amat strategis dari seluruh proses manajemen. Bahkan boleh dikatakan bahwa perencanan (planing) merupakan fungsi dasar (fundamental) manajemen, karena organizing, staffing, directing, dan controlling harus terlebih dahulu direncanakan. Perencanaan bersifat dinamis, karena perencanaan umumnya ditujukan pada masa depan yang penuh ketidak pastian karena adanya perubahan kondisi dan situasi. Dapat dibayangkan bagaimana rumitnya sebuah lembaga pendidikan yang tidak memiliki basis perencanaan yang memadai. 

Dari penjelasan di atas, maka menjadi sangat ironis jika masih ada manajer sekolah yang abai atau tidak membuat perencanaan dalam mengelola lembaganya. Padahal menyusun perencanaa sekolah merupakan bagian dari kewajiban manajer sekolah yang tidak dapat diabaikan. Menyusun perencanaan sekolah merupakan tanggungjawab manajer dan juga menunjukkan nilai kapabilitasnya sebagai pimpina. Artinya, jika manajer sekolah tidak menyusun rencana sekolah dengan baik, maka patut diragukan kompetensi manajerialnya.

Jika kita mau menelusuri, maka ada saja sekolah yang tidak menyusun perencanaan sekolahnya. Jangankan rencana strategis, jangka panjang, menengah, maupun jangka pendek, bahkan pada perencanaan yang paling sederhana sekalipun seperti APBS masih ada sekolah yang belum mampu menyusunnya dengan baik, tertib, dan disiplin. Kalaupun ada sekolah yang menyusun APBS ini, prosesnya pun kadang-kadang tidak sesuai. 

APBS yang disusun umumnya hanya bersifat administratif. Hal ini dapat dilihat dari suksesnya pemeriksaan administrasi. Padahal dalam prakteknya APBS tidak dibahas, tidak dibuat, atau disepakati secara bersama guru, pemangku kepentingan, atau Komite sekolah. Dengan proses seperti itu, APBS tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai perencanaan yang akan memandu setiap kegiatan pendidikan di sekolah. Akibatnya, kegiatan sekolah cenderung berjalan tanpa arah, dan berpotensi menimbulkan pemborosan, atau bahkan potensi pelanggaran. 

Lalu mengapa ini bisa terjadi? bisa jadi karena kemampuan manajemen dari para manajer sekolah ini masih belum merata. Artinya, masih saja dengan mudah ditemui manajer sekolah yang belum mampu menyusun perencanaan sekolah dengan baik, apalagi menerapkannya. Meski dibalik itu ada juga yang sudah baik.  

Kelemahan dalam menyusun perencanaan ini sudah semestinya menjadi perhatian. Karena kegagalan dalam menyusun perencanaan akan berdampak buruk terhadap pengelolaan sekolah. Dampak tersebut bisa sangat fatal dan akan terus memberikan efek domino terhadap komponen sistem pendidikan, termasuk kualitas hasil belajar peserta didik jika tidak segera diantisipasi. 

RAPBS merupakan salah satu komponen perencanaan yang penting di sekolah. RAPBS bahkan menjadi salah satu perencanaan yang paling dasar (fundamnetal) dan operasional. Sehingga wajar jika RAPBS wajib disusun oleh sekolah setiap tahunnya. Namun, harus diakui bahwa keragaman kemampuan manajer sekolah telah memberikan hasil yang berbeda-beda pada setiap sekolah. Ada sekolah yang menyusun, tetapi ada sekolah yang tidak menyusun. Dari sisi prosesnya, masih saja ditemukan sekolah yang belum mengikuti aturan penyusunan RAPBS sesuai ketentuan. Padahal jelas bahwa dalam menyusun RAPBS harus melalui pendekatan teknokratik, partisipatif, dan pendekatan atas-bawahh (top-down) dan bawah-atas(bottom-up). Dalam praktiknya, kebanyakan gagal menerapkan pendekatan tersebut.

Pendekatan teknokratik adalah sebuah pendekatan perencanaan penganggaran yang menggunakan metode dan kerangka pikir ilmiah. Jadi penyusunan RABPS memerlukan pendekatan analisis berbasis data. Untuk itu diperlukan analisis SWOT, agar setiap potensi tantangan, hambatan, kekuatan, dan kelemahan dalam antisipasi lebih awal. 

Pendekatan berikutnya adalah pendekatan partisipatif. Pendekatan partisipatif adalah pendekatan perencanaan-penganggaran yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Siapa saja pemangku kepentingan yang perlu terlibat? antara lain guru, staf tata usaha, orang tua/wali, komite sekolah, pengawas, atau pihak dinas pendidikan. Komite sekolah bukan hanya ketua komite, tetapi mencakup sejumlah pengurus komite yang telah di tetapkan. Hal bertujuan, agar rencana kerja sekolah yang tertuang dalam APBS menjadi milik bersama dan bersama-sama bertanggungjawab sesuai dengan porsi dan fungsinya masing-masing. 

Pendekatan yang ketiga adalah pendekatan atas-bawahh (top-down) dan bawah-atas(bottom-up) yaitu sebuah pendekatan perencanaan-penganggaran yang diselaraskan melalui musyawarah sekolah yang melibatkan komite sekolah dan orang tua/wali murid. 

Yang perlu dipahami bahwa ketiga pendekatan tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dalam pelaksanaan ketiga pendekatan tersebut merupakan satu kesatuan yang saling mengikat. Artinya ketiga-tiganya harus dilaksanakan secara simultan. Sehingga dengan pendekatan tersebut setiap sekolah diharapkan mampu melibatkan dan mengakomodasi saran dan masukan dari seluruh pemangku kepentingan sesuai peran dan kewenangannya masing-masing. 

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dikatakan bahwa terus menurunnya kualitas pendidikan (khususnya di tolitoli) antara lain berasal dari kontribusi rendahnya kualitas perencanaan yang dibuat oleh manajer sekolah. Hal ini sejalan oleh pernyataan W. Edward deming bahwa 80% dari masalah mutu lebih disebabkan oleh manajemen, dan sisanya 20% oleh SDM. Jadi, jelas bahwa mutu yang kurang optimal berawal dari manajemen yang tidak profesional dan manajemen yang tidak profesional artinya mencerminkan kepemimpinan dan kebijakan yang tidak profesional pula (Ketut Bali Sastrawan, 208:2019). 

Tidak hanya, itu secara empirik hasil penelitian Riskawati (2017) yang menyebutkan bahwa perencanaan sangat berpengaruh terhadap peningkatan akreditasi di SMA negeri 10 Makassar. Meskipun subyek penelitiannya hanya melibatkan sekolah tertentu dan masih debatable, tetapi hasil ini menggambarkan konteks yang relatif sama. Kita ketahui bahwa akreditasi merupakan indikator kualitas manajemen sekolah. Meskipun kadang-kadang juga masih terjebak pada pendekatan administratif.

Sejalan dengan konsep itu, dirjen dikdasmen depdiknas (1991:11) menetapkan bahwa ukuran mutu pendidikan disekolah mengacu pada derajad keunggulan setiap komponennya, bersifat relatif, dan selalu ada dalam perbandingan. Ukuran sekolah yang baik bukan semata-mata dilihat dari kesempurnaan komponennya dan kekuatan yang di milikinya, melainkan diukur dari kemampuan sekolah dalam mengantisipasi perubahan, konfik, serta kekurangan atau kelemahan yang ada dalam sekolah tersebut (dengan menggunakan analisis SWOT).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka semakin yakin kita bahwa ketidak mampuan manajer sekolah dalam menyusun perencanaan dengan baik, akan menyebabkan menurunnya kualitas pendidikan. Dwight D.Eisenhower seorang negarawan dan presiden Amerika Serikat ke-34 (1953-1961) mengatakan bahwa rencana tidak ada artinya, yang ada hanyalah perencanaan. Artinya bahwa rencana tidak memberikan pengaruh apa-apa jika tidak disusun secara baik melalui perencanaan. Gagal menyusun RAPBS sama saja dengan merencanakan kegagalan itu sendiri. Selamat bekerja, jaga imun tubuh, patuhi protokol kesehatan.

Wassalam


4 komentar:

  1. Wah... pembahasan tingkat tinggi ini kalau sudah membahas manajemen. Planning. Perlu kematangan, kejelian, kecerdasan,kejujuran, keterbukaan, kolaborasi, dll.
    Sudah kelas berapa ini ya?

    BalasHapus
  2. Mantap tulisannya tentang manajemen. Lanjutken....

    BalasHapus