Pengikut

Minggu, 25 Juli 2021

Cerita dibalik Soto

Muliadi,M.Pd

Soto merupakan salah satu makanan khas Indonesia. Hampir semua masyarakat Indonesia mengenai dengan baik makanan ini. Makanan ini terkenal karena kelezatannya.

Nama boleh sama, tetapi citarasa soto setiap daerah belum tentu sama. Lain lubuk lain ikannya, lain daerah lain pula citarasa sotonya. Soto Kudus memiliki citarasa yang berbeda dengan soto Banjar, soto Banjar beda juga dengan soto Padang walau pun sama-sama bernama soto.

Pada suatu waktu saya berkunjung ke Banjarmasin ibu kota Kalimantan Selatan. Kebetulan saat itu kami diundang untuk presentasi proposal penelitian yang dibiayai oleh Kemendikbud. Disela-sela acara yang kosong, saya berkesempatan berkunjung ke rumah keluarga.

Bersama Pak Maslani yang baik hatinya, sahabat sesama peserta acara, kami pergi menemui ibu Fera. Ibu Fera adalah keluarga dekat saya yang sudah cukup lama tinggal di Banjarmasin tepatnya di kota Martapura. 

Saya beruntung, karena pak Maslani dapat mengantar saya dengan mobil miliknya sampai tujuan. Pak Maslani sangat mengenal kota ini, karena beliau orang asli Banjar. Jarak antara Kota Banjarmasin ke kota Martapura kurang lebih 40 km. Kami menempuh perjalanan kurang dari 1 jam.

Singkat cerita, saya akhirnya bisa bertemu keluarga bu Fera. Senang rasanya bisa bertemu keluarga yang sudah lama merantau. Saking asyiknya berbagi cerita, tak terasa waktu sudah sore. Karena masih ada agenda kegiatan, saya dan pak Maslani kembali ke hotel. 

Besoknya saya balik lagi ke Martapura, tapi kali ini bu Fera yang jemput. Diperjalanan Bu Fera bertanya apakah saya perna makan soto. Saya bilang, perna, di Tolitoli. Bu Fera langsung menimpali, bukan itu maksudku, tapi soto Banjar. Langsung saya bilang belumlah.

Sambil mengendarai mobil honda jazz, Bu Fera menceritakan bagaimana enaknya makanan Banjar. Salah satu makanan yang menjadi favoritnya adalah soto Banjar itu. Hampir setiap pekan Bu Fera bersama keluarga pergi ke rumah makan langganannya untuk menikmati soto Banjar. 

Kali ini, seakan ingin membuktikan ceritanya tentang soto Banjar, dibawalah saya kesana. Sayangnya saya lupa nama rumah makannya. Benar saja, setelah memarkir mobil, kami langsung memilih tempat dan memesan dua porsi soto Banjar.

Tidak berapa lama, dua piring soto Banjar pesanan kami sudah tersaji. Kepulan asap tipis dari soto Banjar yang masih panas mengantar bau harum racikan rempah khas Banjar. Selerah makanku langsung membuncah.

Sambil menikmati kuah soto, Bu Fera juga terus menceritakan tentang soto Banjar. Kelihatannya dia ingin benar-benar meyakinkan saya soal enaknya soto satu ini.

Menurut Bu Fera perbedaan soto banjar dengan soto lainnya terletak pada resepnya. Soto banjar memakai cengkih dan kapulaga. Rapi tidak dihaluskan, hanya direbus dan diambil sarinya. Soto banjar biasanya dimakan pakai lontong atau ketupat, bukan nasi.

Lain soto Banjar lain pula soto Betawi. Ciri khas soto Betawi yang membedakannya dengan soto lainnya adalah penggunaan bahan berupa susu. Selain itu soto betawi banyak yang menggunakan tambahan minyak samin.

Itulah makanan soto yang menjadi makan spesial Indonesia. Jika berkesempatan,  kita dapat mencoba berbagai varian soto yang ada di Nusantara. Ada soto Lamongan, soto Medan, soto Padang, soto lenthok, dll. Tapi jangan salah, ada juga makanan yang namanya Coto, jadi bukan soto. Coto ini makanan khas Makassar, namanya Coto Makassar. 

Selamat menikmati Coto, eh..soto.

Wassalam

3 komentar: