1000 Guru Motivator Literasi
Segera Daftarkan Diri Anda.
Lintas Pagi Spirit RRI Tolitoli
Diskursus Penguatan Nilai-Nilai Pancasila di dalam Kehidupan Sehari-hari.
Dialog Lintas Pagi RRI Tolitoli
Guru Kontrak atau PPPK Menjadi Harapan Terakhir bagi para Honorer, ketika batasan usia dan kuota tidak lagi dipenuhi.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Senin, 06 Juni 2022
Duka Guru
Kamis, 26 Mei 2022
Menjaga Komitmen CGP
Kesepakatan peran CGP dan KS seiring perjalanan program PGP akan terus diperbaiki. Kesepakatan ini penting karena menjadi salah strategi yang efektif untuk membantu CGP melakukan tranformasi perubahan di sekolah. Mengapa efektif? karena kesepakatan adalah jalan bersama atau jalan kompromi yang telah terpilih dari sejumlah jalan berliku dan terjal yang umumnya dihadapi oleh CGP.
Semakin nyata dan operasional kesepakatan yang dibuat bersama dengan KS, maka semakin mudah CGP mewujudkan rencana perubahan yang akan dilakukan. Oleh sebab itu, kesepakatan akan terus kita perbaiki dan sempurnakan.
Kita juga telah menyepakati bahwa salah satu strategi penting dalam mewujudkan harapan dan mengurangi kekhawatiran adalah komitmen maka teguhkan hati, luruskan niat, dan yakinkan bahwa menjaga komitmen adalah amanah yang tidak saja berdimensi horisontal (antar manusia) tetapi lebih dari itu komitmen adalah janji kita kepada Allah SWT Tuhan yang maha kuasa (berdimensi vertikal).
Tidak ada perjalanan yang mudah, semua pasti penuh dengan tantangan dan jalan terjal. Tapi saya juga yakin CGP bukan guru kaleng-kaleng. CGP adalah guru pilihan yang sudah terseleksi secara ketat. Tidak ada sedikitpun keraguan pada diri saya dan bahkan masyarakat umumnya bahwa CGP terpilih karena kualitas dan bukan karena undian. Sehingga tantangan apapun yang hadir sepanjang perjalanan PPGP ini, CGP pasti mampu mengatasinya.
CGP tidak perlu meremehnya diri dengan pandangan-pandangan skeptis yang melemahkan program PPGP. Memang tidak ada yang sempurna karena kita manusia bukan sang Khalik yang Maha paripurna. Namun kita manusia normal yang memiliki kesadaran bahwa dibalik ketidaksempurnaan itu justru terdapat hikmah bahwa setiap diri perlu dan wajib memperjuangkan kesempurnaan itu. Itulah visi dan untuk itulah tujuan hidup manusia ada.
Coba tanya diri kita masing-masing, layakkah kita bekerja, layakkah kita berjuang, layakkah kita berprestasi, layakkah kita mengajak orang lain mencapai kebaikan jika semua yang ada di muka bumi ini telah dibuat sempurna oleh Tuhan. Tidak ..... kita tidak layak berjuang, kita tidak layak lagi bekerja, kita tidak layak lagi mencari kebaikan, kita tidak layak lagi melakukan apapun jika semuanya sudah sempurna.
Jadi, ketidaksempurnaan adalah jalan yang sediakan oleh Tuhan untuk kita. Ketidaksempurnaan adalah triger untuk memacu setiap orang untuk berjuang menemukan yang terbaik dalam hidupnya, dan ukuran kebaikan itu adalah kebermanfaatan. Rasulullah bersabda “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad).
Program pendidikan guru penggerak adalah salah satu jalan untuk menjadi bermanfaat bagi manusia lainnya, maka bersungguh-sunggulah menjalaninya. Maka jadilah CGP yang visioner yang selalu berikhtiar dengan nalar kritis dan kreatifitas.
Buang pikiran negatif, tumbuhkan pikiran positif, luruskan niat untuk memberikan kebaikan pada murid kita tercinta. Mereka adalah masa depan kita, mereka adalah investasi kita dunia dan akhirat. Keselamatan kita dan bangsa ini di masa depan akan sangat bergantung pada doa-doa terbaik mereka. Oleh sebab itu beri mereka bekal yang relevan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. mereka harus kuat, mereka harus menjadi generasi emas bangsa ini di bawah lindungan Allah swt.
Allah SWT di dalam Alquran, Surat An-Nisa ayat 9 berfirman, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
Guru Besar Agama Islam IPB Bogor, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS, ketika menjelaskan makna ayat di atas mengatakan bahwa, lemah yang dimaksudkan dapat menyangkut beberapa hal. “Yang utama adalah jangan sampai kita meninggalkan generasi penerus yang lemah akidah, ibadah, ilmu, dan ekonominya, Generasi penerus atau anak di sini, tidak hanya anak biologis, melainkan juga anak didik (murid)” (Sumber: Republika.co.id).
Berpijak pada komitmen bersama di bawah kesadaran atas perintah sang Kuasa, mari bangun semangat dan motivasi intrisik. Amanah telah dipikulkan dipundak sebagai CGP, maka jadilah CGP yang layak sebagai calon pemimpin pendidikan. CGP calon kepala sekolah, CGP calon pengawas, CGP bahkan calon instruktur dan calon pemimpin birokrasi pendidikan. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Tidak ada kesempatan yang sama datang dua kali, maka kesempatan yang ada wajib dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Kerjakan tugas dengan visi untuk memberikan perubahan, dan bukan sekedar menyelesaikan tanggungjawab program. Berpikir dan bertindaklah ideal, karena berpikir dan bertindak ideal pun belum tentu sempurna hasilnya. Apalagi lagi berpikir dan bertindak apa adanya atau ada apanya. Materi itu penting, tetapi bukan segala-galanya. Motivasi karena materi pun cenderung dangkal dan relatif singkat bertahan. Tumbuhkan niat tulus dan ikhlas untuk kebaikan bersama, itulah visi sejati seorang CGP.
Lakukan refleksi (muhasabah), karena refleksi adalah jalan terbaik untuk memperbaiki diri. Kelemahan dan kekuatan yang teridentifikasi melaui proses refleksi menjadi jalan dan arah meningkatkan performa. Siklus perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi sejatinya adalah putaran roda kehidupan agar kita menjadi lebih baik.
Allah swt sendiri berfirman dalam surah Al-Mulk ayat 2 "Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di atara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Mahas Perkasa lagi Maha Pengampun". Jadi jelas Tuhan menghendaki kepada umatnya untuk selalu memperbaiki amalnya, dan bukan hanya banyak amalnya.
Hasil kerja yang baik adalah buah dari usaha yang sungguh-sungguh yang berpijak pada komitmen yang kuat dan visi yang jauh ke depan. Langkah awal baru saja dijejakkan, waktu 6 bulan bukan waktu singkat. Dibutuhkan niat ikhlas, motivasi, komitmen, kerja keras dan usaha cerdas dengan nalar kritis dan kreatifitas untuk mewujudkan perubahan yang fundamental di sekolah dan dunia pendidikan pada umumnya.
Jangan lupa negosiasi, komunikasi, dan kolaborasi menjadi pelumas dalam memuluskan setiap usaha transformasi perubahan di sekolah agar sekat-sekat dan gesekan kepentingan dapat di atasi secara mulus dan lancar. Berusaha, berikhtiar dan berdoa patut dilakukan agar panen hasil belajar menjadi maksimal.
#tergerakbergerakbergerak
#semangatkelasB5.49
Jumat, 20 Mei 2022
Koordinasi Fasilitator, PP, dan CGP angkatan 5
Sejak dibuka secara resmi oleh mendikbud pada tanggal 18 Mei 2022, kegiatan calon guru penggerak angkatan 5 tahun 2022 secara resmi telah berjalan. Salah satu daerah yang mendapat kesempatan pada PGP angkatan 5 tahun ini adalah Kabupaten Tolitoli. Angkatan 5 adalah angkatan pertama di daerah kami. Berbeda dengan daerah tetangga, mereka telah mendapat PGP pada angkatan ke-4. Tapi kami bersyukur, akhirnya bisa berpartisipasi pada program guru penggerak.
Dari grup WA yang sengaja dibuat oleh pak Sutrisno. Saya tahu bahwa hari ini akan ada pertemuan koordinasi Fasilitator, PP, dan CGP angkatan 5. Pertemuan di gagas oleh Fasilitator pak Sutrisno. Pertemuan dilaksanakan secara virtual dengan aplikasi gmeet. Melalui koordinasi virtual diharapkan sinergitas dan peran masing-masing aktor pendukung PGP dapat berjalan lancar.
Dalam program guru penggerak ada beberapa aktor yang terlibat. masing-masing aktor memiliki peran sendiri-sendiri. Saya bersama 4 teman lainnya, pak Gafar, pak Amri, pak Hasbullah, dan Ibu Anna Mulyana kebetulan mendapat kepercayaan sebagai pendamping CGP. Masing-masing PP akan mendampingi 5 orang CGP. Saya sendiri mendapat mitra CGP yang terdiri dari Wici Trawilya, Ismi Daulika Qalbi, Murniaty, Asri, dan Julvian Fredy.
Tugas PP menjadi mitra belajar bagi CGP sekaligus memberikan pendampingan individu ketika melaksanakan aksi nyata di sekolah masing-masing. Rencananya metode pendampingan dilakukan dengan teknik coaching. Melalui teknik coaching, CGP diharapkan dapat menggali potensi diri secara optimal dalam menyelesaikan tantangan tranformasi perubahan di sekolah masing-masing. Sebulan sekali CGP akan melaksanakan lokakarya untuk melakukan presentasi hasil aksi nyata mereka. Kegiatan lokakarya didampingi oleh PP dan di koordinasikan oleh dinas terkait.
Pak Sutrisno membuka petemuaan koordinasi dengan memperkenalkan diri. Dari proses perkenalan saya ketahui kalau pak Sutrisno berasal dari pemalang Jawa Tengah. Pak Sutrisno berbeda pulau dengan kami. Namun berkat kemajuan teknologi, jarak, waktu, dan tempat bukan masalah. Pak Sutrisno yang nun jauh di Pemalang dapat memimpin jalannya rapat koordinasi baik dengan peserta yang semuanya ada Tolitoli Sulawesi Tengah. Satu di pulau Jawa dan satunya di pulau Sulawesi. Ya, bencana covid-19 dinilai turut berperan dalam percepatan transformasi teknologi di dunia pendidikan, setidaknya begitulah yang saya ketahui dari media.
Pak Sutrisno mempersilahkan semua peserta, PP dan CGP memperkenalkan diri. Sebenarnya sebagian besar kami sudah saling mengenal satu dengan lainnya. Selain karena satu daerah yang tidak begitu luas, banyak juga di antara CGP dan PP yang berasal dari sekolah yang sama. Saya sendiri, ibu Anna Mulyana, pak Asri, dan pak Badwi berasal dari SMK Negeri 1 Tolitoli. Sementara pak Amri, dua orang lainnya berasal dari SMA Negeri 1 Tolitoli. Hanya beberapa peserta saja yang mungkin masih belum saling mengenal.
Meski demikian kami semua tetap memperkenalkan diri dengan sedikit profil tempat tugas, terutama para CGP yang akan kami dampingi. Ternyata dari perkenalan tersebut diketahui ada beberapa CGP yang telah mengalami mutasi dari tempat tugas awal saat mendaftar dan dinyatakan lulus CGP ke tempat tugas baru. Memang belum lama ini beberapa kepala sekolah dan guru di daerah kami telah mengalami mutasi. Hal ini sudah biasa terjadi, mungkin juga di daerah anda, terutama pasca pilkada.
Ini sudah menjadi ritual pilkada, sepertinya tidak sah atau kurang apdol kalau tidak melakukan mutasi pasca pilkada. Alasannya bisa macam-macam, bisa untuk penyegaran, promosi, tapi juga bisa motif lain. Sebenarnya itu tidak masalah karena salah satu kewenangan pemerintah daerah adalah mengatur tata kelola guru. Mutasi merupakan bagian dari proses tata kelola guru.
Namun yang menjadi masalah adalah ada sejumlah kepala sekolah yang telah melakukan pendaftaran seleksi PSP (Program Sekolah Penggerak), telah lulus tahap 1 dan sedang menunggu kelulusan tahap 2 atau tahap terakhir juga terkena mutasi. Jika misalkan kepala sekolah yang telah dimutasi tersebut dinyatakan lulus sekolah penggerak, bagaimana nasib kelulusannya? apakah mereka sekolah mereka yang lama tetap menjadi sekolah penggerak? lalu bagaimana dengan kepala sekolah yang telah mengikuti tahapan seleksi? hanya pihak kementerian yang mengetahui.
Kita berharap semoga semua program yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan baik dari pusat maupun di daerah bisa berjalan seiring, bersinergi, dan saling menguatkan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan kewenangan kuat yang melekat pada masing-masing pihak jika tidak berjalan seiring sepenanggungan, maka akan memberikan kerugian yang besar kepada semua pihak, terutama masyarakat sebagai penikmat layanan pendidikan.
Dalam koordinasi itu, sebetulnya tidak ada materi khusus yang dibahas. Kami hanya mendiskusikan hal-hal yang sekiranya perlu diketahui dan dilakukan lebih awal sebelum memasuki kegiatan belajar mandiri atau kegiatan berikutnya. Pak Sutrisno selaku fasilitator membuka forum diskusi dan memberi kesempatan kepada peserta pertemuan untuk menyampaikan pertanyaan maupun pernyataan.
Ibu Anna mendapat kesempatan pertama untuk bertanya. Bu Anna menanyakan soal fitur penilaian di LMS. Pada waktu pembekalan kami memang sempat mendapatkan informasi soal tugas PP dalam kaitan dengan penilaian terhadap CGP. Tetapi setelah kami menelusuri menu-menu di LMS, kami belum menemukan menu khusus melaporkan atau menuliskan hasil penilaian.
Saya tidak terlalu yakin, namun saya merasa ada sedikit perbedaan antara tampilan LMS waktu pembekalan dengan tampilan LMS setelah menjadi PP. Pak Sutrisno hanya mengajurkan kami agar banyak-banyak mengeksplorasi secara mandiri LMS nya biar semakin familier dan memahami fungsi dan tujuan setiap menu yang ada di LMS. Pak Fadli salah CGP dari SMK Negeri 1 Galang malah bertanya soal kemungkinan jika CGP tidak lulus.
Dengan tersenyum pak Sutrisno yang bersahaja memberikan jawaban bahwa setiap CGP harus dapat menyelesaikan seluruh program kegiatan dengan baik. Menurut pak Sutrisno CGP dinyatakan lulus jika minimal mendapat nilai 70 atau predikat cukup. Pak Sutrisno juga sempat menayangkan bahan presentasi yang berisi antara informasi tentang proporsi penilaian antara PP dan Fasilitor. Pak Asri termasuk salah satu CGP yang paling aktif bertanya. Beliau termasuk guru yang berpengalaman. Di sekolah kami beliau menjabat sebagai wakasek kurikulum. Disamping itu beliau juga perna mengikuti materi kurikulum merdeka sebagai salah satu materi wajib SMK PK.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WITA, saatnya shalat ashar. Karena dirasa semuanya sudah cukup, maka pak Sutrisno menawarkan rapatnya di tutup. Hal-hal lain yang sekiranya perlu di ketahui, dapat disampaikan melalui grup WA yang telah ada. Alhamdulillah akhirnya rapat koordinasi hari itu ditutup oleh pak Sutrisno.
Kami berdoa semoga seluruh rangkaian kegiatan PGP mulai dari lokakarya orientasi, LK 1 sampai dengan LK 7 dan Pendampingan Individu dapat berjalan lancar. CGP yang berjumlah 25 orang dan merupakan wakil guru terbaik juga diharapkan benar-benar dapat melakukan transformasi perubahan menuju pendidikan yang lebih baik berdasar nilai-nilai filososfi Ki hajar Dewantara dalam mewujudkan profil pelajar pancasila yang berakhlak mulia, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, mandiri, bernalar kritis, kreatif, berkebinekaan global, dan bergotong royong
Berpikir Ideal Bertindak Rasional
1. nama baik sekolah akan turun,
3. siswa kesulitan masuk perguruan tinggi pavorit,
















