Pengikut

1000 Guru Motivator Literasi

Segera Daftarkan Diri Anda.

Lintas Pagi Spirit RRI Tolitoli

Diskursus Penguatan Nilai-Nilai Pancasila di dalam Kehidupan Sehari-hari.

Dialog Lintas Pagi RRI Tolitoli

Guru Kontrak atau PPPK Menjadi Harapan Terakhir bagi para Honorer, ketika batasan usia dan kuota tidak lagi dipenuhi.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 06 Juni 2022

Duka Guru

 Tiba-tiba telpon berdering. Pak Asri. "Assalamu'alaikum, pak Mul ada berita duka ini, ibu Samsidar meninggal dunia barusan" Suara lirih pak Asri diujung telpon. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. 

Yah, hari ini keluarga besar guru kembali berduka. Ibu Samsidar guru Agama di SMK Negeri 1 Tolitoli meninggal dunia. Beliau menghembuskan napas terakhir pukul 21.00 WITA minggu malam, tanggal 5 juni 2022.

Sejak tiga bulan terakhir almarhumah menderita sakit. Maaf saya tidak akan menceritakan sakitnya apa. Kami ingin menjenguk tetapi dia menolak. Entahlah, mungkin tidak ingin merepotkan. Sampai akhirnya berita duka itu datang. Kami semua begitu kehilangan. 

Ibu Samsidar guru Agama Islam. Masih cukup mudah, usia beliau sekitar 49 tahun. Dedikasi almarhumah di dunia pendidikan sangat tinggi. Dalam kondisi sakit pun beliau masih berusaha melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. 

Beliau juga guru yang ramah, sabar, dan suka berbagi. Sering kali kami menikmati makanan kecil yang di bawanya dari rumah. Sudut ruang Guru yang terletak disisi kanan pintu masuk menjadi tempat paporit kami berkumpul. Sendah gurau atau sekedar ngobrol ringan soal aktivitas mengajar sering kami lakukan di sana.

Beliau selalu terlibat pembicaraan, karena di sanalah tempat duduknya. Sepasang meja dan kursi di sudut ruang guru menjadi tempat nyaman baginya. Raut wajah yang selalu ceria dan senyumnya yang tulus membuat kami tertipu. 

Kami tertipu, karena kami tak tahu kalau dia ternyata menyimpan luka dan duka untuk dirinya sendiri. Bodohnya kami, naifnya kami atas semua sikapmu yang begitu baik dan normal. Maafkan kami yang tidak bisa memahamimu apalagi membantumu dari sakit yang kau derita selama ini. 

Kini tempat itu telah sepi membisu dari derai tawa dan senyum manismu. Tidak ada lagi jajanan kecil yang biasa kau bawah sekedar menggoda selera makan sahabatmu. Semua sudah berakhir, namun kenangan tentang dirimu tetap abadi dihati dan pikiran sahabat-sahabatmu. 

Upacara persemayaman yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah provinsi Sulawesi Tengah menandai akhir dari pengabdiannya di dunia. Pak Baharuddin, S. Pd , KTU dinas pendidikan menengah wil VI Buol dan Tolitoli bertindak sebagai pembina upacara. Pemimpin upacara dari personil satpolpp. Sahabat guru dengan seragam PGRI mengambil barisan di depan sebagai peserta upacara. 

Saya bertugas membacakan riwayat hidup singkat almarhumah. Saya bersyukur bisa mengambil bagian dalam upacara penghormatan terakhir untuknya. Setelah sambutan keluarga dan penyerahan jenazah kepada pihak Pemda, upacara dilanjutkan dengan pembacaan sambutan gubernur sulteng. 

Suasana duka menyelimuti para pelayat yang hadir. Suasana haru makin terasa saat mata tertuju pada seorang gadis belia yang tertunduk sedih seakan menahan beban yang demikian berat. 

Almarhumah meninggalkan 4 orang putra. Satu-satunya perempuan adalah gadis belia berumur 20 tahun. Masih kuliah. Semester 4 di universitas Tadulako. Dia juga anak tertua. Tiga adiknya semua laki-laki. Satu kuliah di Universitas yang sama. Sementara dua adik lainya masih sekolah di SMP dan SD. Kini mereka telah yatim. 

Pemakaman almarhumah dilaksanakan di pekuburan keluarga. Di desa sabang. Kurang lebih 20 km dari rumah duka di perumahan BTN Nabila Tolitoli. Kami mengantar almarhumah sampai pekuburan. 

Sebelumnya almarhumah di shalatkan di Masjid desa sabang yang jaraknya tidak jauh dari lokasi pemakaman. Alhamdulillah, jumlah jamaah yang ikut shalat jenazah cukup banyak. Saya tidak ikut. Terlambat. Padatnya kenderaan yang turut mengantar membuat sebagian pelayat tidak dapat melaksanakan shalat jenazah. 

Kini almarhumah telah kembali ke haribaan Tuhannya. Hanya untaian doa yang dapat kami panjatkan. Semoga almarhumah, ibu Samsidar, S. Ag., M. Pd. I mendapat tempat yang membahagiakan, dilapangkan kuburnya, dan semua amal ibadahnya mendapat ganjaran pahala disisi Allah SWT amiin. 





Kamis, 26 Mei 2022

Menjaga Komitmen CGP

Kesepakatan peran CGP dan KS seiring perjalanan program PGP akan terus diperbaiki. Kesepakatan ini penting karena menjadi salah strategi yang efektif untuk membantu CGP melakukan tranformasi perubahan di sekolah. Mengapa efektif? karena kesepakatan adalah jalan bersama atau jalan kompromi yang telah terpilih dari sejumlah jalan berliku dan terjal yang umumnya dihadapi oleh CGP. 


Semakin nyata dan operasional kesepakatan yang dibuat bersama dengan KS, maka semakin mudah CGP mewujudkan rencana perubahan yang akan dilakukan. Oleh sebab itu, kesepakatan akan terus kita perbaiki dan sempurnakan.

Kita juga telah menyepakati bahwa salah satu strategi penting dalam mewujudkan harapan dan mengurangi kekhawatiran adalah komitmen maka teguhkan hati, luruskan niat, dan yakinkan bahwa menjaga komitmen adalah amanah yang tidak saja berdimensi horisontal (antar manusia) tetapi lebih dari itu komitmen adalah janji kita kepada Allah SWT Tuhan yang maha kuasa (berdimensi vertikal). 


Tidak ada perjalanan yang mudah, semua pasti penuh dengan tantangan dan jalan terjal. Tapi saya juga yakin CGP bukan guru kaleng-kaleng. CGP adalah guru pilihan yang sudah terseleksi secara ketat. Tidak ada sedikitpun keraguan pada diri saya dan bahkan masyarakat umumnya bahwa CGP terpilih karena kualitas dan bukan karena undian. Sehingga tantangan apapun yang hadir sepanjang perjalanan PPGP ini, CGP pasti mampu mengatasinya. 

CGP tidak perlu meremehnya diri dengan pandangan-pandangan skeptis yang melemahkan program PPGP. Memang tidak ada yang sempurna karena kita manusia bukan sang Khalik yang Maha paripurna. Namun kita manusia normal yang memiliki kesadaran bahwa dibalik ketidaksempurnaan itu justru terdapat hikmah bahwa setiap diri perlu dan wajib memperjuangkan kesempurnaan itu. Itulah visi dan untuk itulah tujuan hidup manusia ada. 


Coba tanya diri kita masing-masing, layakkah kita bekerja, layakkah kita berjuang, layakkah kita berprestasi, layakkah kita mengajak orang lain mencapai kebaikan jika semua yang ada di muka bumi ini telah dibuat sempurna oleh Tuhan. Tidak ..... kita tidak layak berjuang, kita tidak layak lagi bekerja, kita tidak layak lagi mencari kebaikan, kita tidak layak lagi melakukan apapun jika semuanya sudah sempurna. 

Jadi, ketidaksempurnaan adalah jalan yang sediakan oleh Tuhan untuk kita. Ketidaksempurnaan adalah triger untuk memacu setiap orang untuk berjuang menemukan yang terbaik dalam hidupnya, dan ukuran kebaikan itu adalah kebermanfaatan. Rasulullah bersabda “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad). 

Program pendidikan guru penggerak adalah salah satu jalan untuk menjadi bermanfaat bagi manusia lainnya, maka bersungguh-sunggulah menjalaninya. Maka jadilah CGP yang visioner yang selalu berikhtiar dengan nalar kritis dan kreatifitas.


Buang pikiran negatif, tumbuhkan pikiran positif, luruskan niat untuk memberikan kebaikan pada murid kita tercinta. Mereka adalah masa depan kita, mereka adalah investasi kita dunia dan akhirat. Keselamatan kita dan bangsa ini di masa depan akan sangat bergantung pada doa-doa terbaik mereka. Oleh sebab itu beri mereka bekal yang relevan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. mereka harus kuat, mereka harus menjadi generasi emas bangsa ini di bawah lindungan Allah swt. 

Allah SWT di dalam Alquran, Surat An-Nisa ayat 9 berfirman, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Guru Besar Agama Islam IPB Bogor, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS, ketika menjelaskan makna ayat di atas mengatakan bahwa, lemah yang dimaksudkan dapat menyangkut  beberapa hal. “Yang utama adalah jangan sampai kita meninggalkan generasi penerus yang lemah akidah, ibadah,  ilmu, dan ekonominya, Generasi penerus atau anak di sini, tidak hanya anak biologis, melainkan juga anak didik (murid)” (Sumber: Republika.co.id).

Berpijak pada komitmen bersama di bawah kesadaran atas perintah sang Kuasa, mari bangun semangat dan motivasi intrisik. Amanah telah dipikulkan dipundak sebagai CGP, maka jadilah CGP yang layak sebagai calon pemimpin pendidikan. CGP calon kepala sekolah, CGP calon pengawas, CGP bahkan calon instruktur dan calon pemimpin birokrasi pendidikan. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Tidak ada kesempatan yang sama datang dua kali, maka kesempatan yang ada wajib dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. 

Kerjakan tugas dengan visi untuk memberikan perubahan, dan bukan sekedar menyelesaikan tanggungjawab program. Berpikir dan bertindaklah ideal, karena berpikir dan bertindak ideal pun belum tentu sempurna hasilnya. Apalagi lagi berpikir dan bertindak apa adanya atau ada apanya. Materi itu penting, tetapi bukan segala-galanya. Motivasi karena materi pun cenderung dangkal dan relatif singkat bertahan. Tumbuhkan niat tulus dan ikhlas untuk kebaikan bersama, itulah visi sejati seorang CGP.

Lakukan refleksi (muhasabah), karena refleksi adalah jalan terbaik untuk memperbaiki diri. Kelemahan dan kekuatan yang teridentifikasi melaui proses refleksi menjadi jalan dan arah meningkatkan performa. Siklus perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi sejatinya adalah putaran roda kehidupan agar kita menjadi lebih baik. 

Allah swt sendiri berfirman dalam surah Al-Mulk ayat 2 "Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di atara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Mahas Perkasa lagi Maha Pengampun". Jadi jelas Tuhan menghendaki kepada umatnya untuk selalu memperbaiki amalnya, dan bukan hanya banyak amalnya. 

Hasil kerja yang baik adalah buah dari usaha yang sungguh-sungguh yang berpijak pada komitmen yang kuat dan visi yang jauh ke depan. Langkah awal baru saja dijejakkan, waktu 6 bulan bukan waktu singkat. Dibutuhkan niat ikhlas, motivasi, komitmen, kerja keras dan usaha cerdas dengan nalar kritis dan kreatifitas untuk mewujudkan perubahan yang fundamental di sekolah dan dunia pendidikan pada umumnya.

Jangan lupa negosiasi, komunikasi, dan kolaborasi menjadi pelumas dalam memuluskan setiap usaha transformasi perubahan di sekolah agar sekat-sekat dan gesekan kepentingan dapat di atasi secara mulus dan lancar. Berusaha, berikhtiar dan berdoa patut dilakukan agar panen hasil belajar menjadi maksimal.

#tergerakbergerakbergerak

#semangatkelasB5.49

Jumat, 20 Mei 2022

Koordinasi Fasilitator, PP, dan CGP angkatan 5

Sejak dibuka secara resmi oleh mendikbud pada tanggal 18 Mei 2022, kegiatan calon guru penggerak angkatan 5 tahun 2022 secara resmi telah berjalan. Salah satu daerah yang mendapat kesempatan pada PGP angkatan 5 tahun ini adalah Kabupaten Tolitoli. Angkatan 5 adalah angkatan pertama di daerah kami. Berbeda dengan daerah tetangga, mereka telah mendapat PGP pada angkatan ke-4. Tapi kami bersyukur, akhirnya bisa berpartisipasi pada program guru penggerak.

Dari grup WA yang sengaja dibuat oleh pak Sutrisno. Saya tahu bahwa hari ini akan ada pertemuan koordinasi Fasilitator, PP, dan CGP angkatan 5. Pertemuan di gagas oleh Fasilitator pak Sutrisno. Pertemuan dilaksanakan secara virtual dengan aplikasi gmeet. Melalui koordinasi virtual diharapkan sinergitas dan peran masing-masing aktor pendukung PGP dapat berjalan lancar. 

Dalam program guru penggerak ada beberapa aktor yang terlibat. masing-masing aktor memiliki peran sendiri-sendiri. Saya bersama 4 teman lainnya, pak Gafar, pak Amri, pak Hasbullah, dan Ibu Anna Mulyana kebetulan mendapat kepercayaan sebagai pendamping CGP. Masing-masing PP akan mendampingi 5 orang CGP. Saya sendiri mendapat mitra CGP yang terdiri dari Wici Trawilya, Ismi Daulika Qalbi, Murniaty, Asri, dan Julvian Fredy.

Tugas PP menjadi mitra belajar bagi CGP sekaligus memberikan pendampingan individu ketika melaksanakan aksi nyata di sekolah masing-masing. Rencananya metode pendampingan dilakukan dengan teknik coaching. Melalui teknik coaching, CGP diharapkan dapat menggali potensi diri secara optimal dalam menyelesaikan tantangan tranformasi perubahan di sekolah masing-masing. Sebulan sekali CGP akan melaksanakan lokakarya untuk melakukan presentasi hasil aksi nyata mereka. Kegiatan lokakarya didampingi oleh PP dan di koordinasikan oleh dinas terkait.

Pak Sutrisno membuka petemuaan koordinasi dengan memperkenalkan diri. Dari proses perkenalan saya ketahui kalau pak Sutrisno berasal dari pemalang Jawa Tengah. Pak Sutrisno berbeda pulau dengan kami. Namun berkat kemajuan teknologi, jarak, waktu, dan tempat bukan masalah. Pak Sutrisno yang nun jauh di Pemalang dapat memimpin jalannya rapat koordinasi baik dengan peserta yang semuanya ada Tolitoli Sulawesi Tengah. Satu di pulau Jawa dan satunya di pulau Sulawesi. Ya, bencana covid-19 dinilai turut berperan dalam percepatan transformasi teknologi di dunia pendidikan, setidaknya begitulah yang saya ketahui dari media.


Pak Sutrisno mempersilahkan semua peserta, PP dan CGP memperkenalkan diri. Sebenarnya sebagian besar kami sudah saling mengenal satu dengan lainnya. Selain karena satu daerah yang tidak begitu luas, banyak juga di antara CGP dan PP yang berasal dari sekolah yang sama. Saya sendiri, ibu Anna Mulyana, pak Asri, dan pak Badwi berasal dari SMK Negeri 1 Tolitoli. Sementara pak Amri, dua orang lainnya berasal dari SMA Negeri 1 Tolitoli. Hanya beberapa peserta saja yang mungkin masih belum saling mengenal.

Meski demikian kami semua tetap memperkenalkan diri dengan sedikit profil tempat tugas, terutama para CGP yang akan kami dampingi. Ternyata dari perkenalan tersebut diketahui ada beberapa CGP yang telah mengalami mutasi dari tempat tugas awal saat mendaftar dan dinyatakan lulus CGP ke tempat tugas baru. Memang belum lama ini beberapa kepala sekolah dan guru di daerah kami telah mengalami mutasi. Hal ini sudah biasa terjadi, mungkin juga di daerah anda, terutama pasca pilkada. 

Ini sudah menjadi ritual pilkada, sepertinya tidak sah atau kurang apdol kalau tidak melakukan mutasi pasca pilkada. Alasannya bisa macam-macam, bisa untuk penyegaran, promosi, tapi juga bisa motif lain. Sebenarnya itu tidak masalah karena salah satu kewenangan pemerintah daerah adalah mengatur tata kelola guru. Mutasi merupakan bagian dari proses tata kelola guru. 

Namun yang menjadi masalah adalah ada sejumlah kepala sekolah yang telah melakukan pendaftaran seleksi PSP (Program Sekolah Penggerak), telah lulus tahap 1 dan sedang menunggu kelulusan tahap 2 atau tahap terakhir juga terkena mutasi. Jika misalkan kepala sekolah yang telah dimutasi tersebut dinyatakan lulus sekolah penggerak, bagaimana nasib kelulusannya? apakah mereka sekolah mereka yang lama tetap menjadi sekolah penggerak? lalu bagaimana dengan kepala sekolah yang telah mengikuti tahapan seleksi? hanya pihak kementerian yang mengetahui.

Kita berharap semoga semua program yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan baik dari pusat maupun di daerah bisa berjalan seiring, bersinergi, dan saling menguatkan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan kewenangan kuat yang melekat pada masing-masing pihak jika tidak berjalan seiring sepenanggungan, maka akan memberikan kerugian yang besar kepada semua pihak, terutama masyarakat sebagai penikmat layanan pendidikan.   


Dalam koordinasi itu, sebetulnya tidak ada materi khusus yang dibahas. Kami hanya mendiskusikan hal-hal yang sekiranya perlu diketahui dan dilakukan lebih awal sebelum memasuki kegiatan belajar mandiri atau kegiatan berikutnya. Pak Sutrisno selaku fasilitator membuka forum diskusi dan memberi kesempatan kepada peserta pertemuan untuk menyampaikan pertanyaan maupun pernyataan.  

Ibu Anna mendapat kesempatan pertama untuk bertanya. Bu Anna menanyakan soal fitur penilaian di LMS. Pada waktu pembekalan kami memang sempat mendapatkan informasi soal tugas PP dalam kaitan dengan penilaian terhadap CGP. Tetapi setelah kami menelusuri menu-menu di LMS, kami belum menemukan menu khusus melaporkan atau menuliskan hasil penilaian. 

Saya tidak terlalu yakin, namun saya merasa ada sedikit perbedaan antara tampilan LMS waktu pembekalan dengan tampilan LMS setelah menjadi PP. Pak Sutrisno hanya mengajurkan kami agar banyak-banyak mengeksplorasi secara mandiri LMS nya biar semakin familier dan memahami fungsi dan tujuan setiap menu yang ada di LMS. Pak Fadli salah CGP dari SMK Negeri 1 Galang malah bertanya soal kemungkinan jika CGP tidak lulus. 

Dengan tersenyum pak Sutrisno yang bersahaja memberikan jawaban bahwa setiap CGP harus dapat menyelesaikan seluruh program kegiatan dengan baik. Menurut pak Sutrisno CGP dinyatakan lulus jika minimal mendapat nilai 70 atau predikat cukup. Pak Sutrisno juga sempat menayangkan bahan presentasi yang berisi antara informasi tentang proporsi penilaian antara PP dan Fasilitor. Pak Asri termasuk salah satu CGP yang paling aktif bertanya. Beliau termasuk guru yang berpengalaman. Di sekolah kami beliau menjabat sebagai wakasek kurikulum. Disamping itu beliau juga perna mengikuti materi kurikulum merdeka sebagai salah satu materi wajib SMK PK.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WITA, saatnya shalat ashar. Karena dirasa semuanya sudah cukup, maka pak Sutrisno menawarkan rapatnya di tutup. Hal-hal lain yang sekiranya perlu di ketahui, dapat disampaikan melalui grup WA yang telah ada. Alhamdulillah akhirnya rapat koordinasi hari itu ditutup oleh pak Sutrisno. 

Kami berdoa semoga seluruh rangkaian kegiatan PGP mulai dari lokakarya orientasi, LK 1 sampai dengan LK 7 dan Pendampingan Individu dapat berjalan lancar. CGP yang berjumlah 25 orang dan merupakan wakil guru terbaik juga diharapkan benar-benar dapat melakukan transformasi perubahan menuju pendidikan yang lebih baik berdasar nilai-nilai filososfi Ki hajar Dewantara dalam mewujudkan profil pelajar pancasila yang berakhlak mulia, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, mandiri, bernalar kritis, kreatif, berkebinekaan global, dan bergotong royong 


Berpikir Ideal Bertindak Rasional

Dalam beberapa kali pertemuan atau rapat dewan guru dan staf sering terungkap kata idealisme. Diksi ini diungkapkan biasanya ketika ada peserta rapat yang mencoba mengkritik atau memberikan saran atas suatu sikap, pandangan atau tindakan yang menjadikan aturan atau norma ideal sebagai rujukan. Sementara sikap dan pandangan tersebut dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan atau kebutuhan praktis pragmatis. 

Kira-kira alasan yang di sering disampaikan adalah "anda terlalu idealis, hal yang Anda ungkapkan itu benar, tapi itu idealnya. Kenyataan dan fakta di lapangan hal itu tidak mungkin di terapkan. Kalau diterapkan dampaknya akan sangat besar, siapa yang mau tanggung jawab? 

Coba lihat saja dilema ini kata teman saya. Anda ingin menetapkan kkm sesuai kondisi siswa atau daya dukung sekolah yang dihitung secara ideal, kemudian misalnya di peroleh kkm 61 apa akibatnya ? hampir dapat dipastikan nilai yang diperoleh siswa akan dominan berada disekitar 61. Lalu apa masalahnya?

Jika rata-rata pencapaian siswa hanya 61, maka hal yang akan terjadi :

1. nama baik sekolah akan turun, 

2. siswa akan mengalami kendala saat mendaftar pada posisi tertentu yang mensyaratkan nilai inimal 70, 

3. siswa kesulitan masuk perguruan tinggi pavorit, 

4. kepala sekolah akan dianggap tidak berhasil, serta dampak lainnya 

Jadi, kesimpulannya tidak mungkin idealisme dilakukan di sekolah karena hal tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan praktis. Idealnya siswa harus mencapai kompetensi minimal, tetapi kebutuhan praktisnya harus jauh di atas kompetensi minimal. 

Idealnya mengisi evaluasi diri sekolah sesuai dengan kondisi real, tetapi kebutuhan praktisnya sekolah harus bernilai baik agar pimpinan dan guru dianggap benar-benar sudah bekerja, maka isi saja yang baik-baik. 

Harapannya, siswa yang tidak memenuhi syarat, seharusnya tidak naik kelas. Tetapi kebutuhan praktisnya sekolah ingin dianggap berhasil, tidak ingin mendapat protes dari orang tua atau kehilangan siswa (calon siswa tidak berminat masuk), maka naikkan saja semua. 

Baiknya setiap jurusan di SMK on off sesuai kebutuhan dunia kerja. Tetapi kebutuhan praktisnya  guru kejuruan membutuhkan jam pelajaran, jika tidak, guru kejuruan dan bahkan mungkin guru umum akan kehilangan pekerjaan. 

Pada konteks ini idealisme seolah-olah digambarkan sebagai sesuatu yang mustahil diwujudkan. Idealisme hanya sebuah angan-angan dan mimpi. Bahkan idealisme sering direpresentasikan sebagai pemanis kata atau retorika para pembicara termasuk para pejabat. Sementara di garda terdepan hampir tidak mungkin di wujudkan. 

Pandangan ini melahirkan dua sisi yang cenderung berseberangan. Tidak jarang diantara keduanya terjadi debat panjang yang menguras emosi dan perasaan. Orang yang selalu berusaha mengikuti nilai dan norma secara ketat senantiasa dinisbatkan sebagai orang yang terlalu idealis. Mereka seakan-akan tidak hidup di bumi. 

Sementara kenyataan atau realisme adalah kondisi kekinian yang harus segera di penuhi. Oleh sebab itu, nilai dan norma ideal bisa saja dilanggar jika dianggap menghalangi kebutuhan saat ini. Orang idealis kadang-kadang dianggap tidak berperasaan. Sedangkan motif dan pertimbangan utama kebutuhan praktis adalah emosi dan perasaan. Bukankah mengabaikan sikap ideal motif utamanya adalah rasa kasihan? 

Tapi benarkah idealisme sesuatu yang mustahil di sekolah. Benarkah idealisme mutlak berseberangan dengan kepentingan praktis pragmatis? 

Idealisme adalah pemikiran yang berfokus pada cinta terhadap nilai-nilai tertentu, termasuk kepercayaan, dan mengubah semua hal abstrak sebagai cita-cita tujuan, visi, dan misi yang diperjuangkan. Dalam KBBI setidaknya ada tiga pengertian idealisme. Namun saya mengutip yang lebih relevan dengan konteks pembahasan ini, yaitu idealisme adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita menurut patokan yang dianggap sempurna. 

Berdasarkan pengertian di atas maka idealisme merupakan perwujudan dari sikap dan padangan seseorang yang senantiasa di dasarkan pada nilai dan norma yang disepakati. Nilai dan norma yang disepakati dalam hal ini dapat berbentuk undang-undang, peraturan, juknis, maupun norma umum yang berlaku di sekolah maupun masyarakat. 

Kalau demikian adanya maka guru idealis itu pada hakekatnya adalah guru yang baik karena selalu berusaha mengikuti aturan. Guru idealis mengikuti aturan bukan tanpa alasan dan atau taklid buta. Tetapi aturan dan norma diikuti atas kesadaran moral yang berpandu pada pemikiran rasional sehingga melahirkan keyakinan akan kebenaran tujuan dari aturan atau norma yang disepakati. 

Sebut saja misalnya soal kkm 60 dan 65, kita yakin penetapan kkm itu rasional karena yang penting sebetulnya bukan soal kkm nya, tetapi kompetensi yang direpresentasikan oleh nilai kkm. Apalah gunanya nilai tinggi misalnya 90, tetapi fakta kompetensi sebenarnya adalah 50. 

Angka hanya indikasi. Angka bukan tujuan. Namun bagi pandangan realis angka menjadi penting karena menjadi syarat tertentu. Sementara kompetensi yang mengisi angka menjadi tidak penting lagi. Maka jadilah angka-angka itu dipermak sesuai kebutuhan praktis saat itu. Ini juga berlaku pada aspek lainnya. Jadi kecenderungan penyelesaian dengan cara instan telah menjadi kebiasaan yang terus berulang dan akhirnya dianggap suatu kebenaran. 

Pertanyaan nya, mana yang lebih penting kebutuhan praktis atau kebutuhan ideal dalam jangka panjang.