Ketika Data Menjadi Refleksi
Tolitoli, 23-5-2026
Saya merasa ada sebuah ironi yang menyayat hati ketika menatap lembaran data ini. Di satu sisi, coba lihat profil siswa baru yang datang, tidak jauh berbeda dengan profil siswa kita saat ini atau siswa baru tahun sebelumnya.
Mereka datang dengan tangan kosong—secara ekonomi dan intelektual. Sementara di sana, di sisi yang lain, kita melihat data kinerja kita seolah berbisik: "Ampun, kami juga tidak punya banyak yang bisa diberikan."
Mari kita renungkan sejenak sambil melihat dengan jernih siapa murid-murid kita sebenarnya.
Data Penerimaan Murid Baru (PMB) 2026 melukiskan potret sosiologis yang tegas. Sebanyak 77,14% orang tua mereka adalah petani, dan 8,57% adalah nelayan.
Data ini hampir tidak berbeda dengan data siswa baru tahun sebelumnya. Lebih dari 70% orang tua mereka hanya menamatkan pendidikan hingga SD atau SMP.
Saya tidak bermaksud mengklaim, tetapi data ini jelas menggambarkan anak-anak ini lahir dari rahim kemiskinan struktural dan keterbatasan wawasan. Di rumah, mereka hamper pasti tidak menemukan bapak yang membantu mengerjakan tugas matematika, atau ibu yang mendampingi belajar bahasa Inggris.
Bagi anak-anak ini, sekolah adalah satu-satunya harapan. Guru menjadi satu-satunya jembatan yang bisa membawa mereka menuju cita-cita besar mereka, pun menjadi jalan mereka untuk keluar dari lingkaran kemiskinan orang tua mereka.
Namun, apakah jembatan itu kuat? disanalah masalahnya.
Data pertama menyajikan sebuah kenyataan yang mengusik nurani kita. Angka 'Persentase Keterisian KBM'—yang sejatinya mencerminkan denyut kehadiran dan dedikasi kita di ruang kelas—ternyata masih tertahan di rentang 48% hingga 66%.
Bayangkan anak dari keluarga petani di jurusan NKPI misalnya, hanya 48,54% dari waktu yang seharusnya ia belajar di sekolah yang benar-benar diisi oleh guru. Artinya, lebih dari separuh waktu, ia duduk di kelas tanpa bimbingan, atau kelas itu kosong sama sekali. Untuk anak yang orang tuanya sibuk di sawah dan tidak punya bekal pendidikan, jam-jam kosong ini adalah bencana. Ia kehilangan kesempatan emasnya.
Data kinerja guru seolah menegaskan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Ketika rata-rata kinerja guru PNS tertahan di angka 59,42% dan guru PPPK berada di angka 49,72%, kita dipaksa untuk mengetuk kembali pintu hati kecil kita: apakah ini standar terbaik yang mampu kita persembahkan?
Angka di bawah paruh 60% ini adalah alarm keras yang melampaui urusan birokrasi dan sekat-sekat administratif; ia adalah bukti autentik bahwa ruang-ruang kelas kita sedang tidak baik-baik saja. Mereka sedang menagih komitmen yang utuh dari kita sebagai pendidik.
Kenyataan ini terasa kian mengusik nurani ketika kita dihadapkan pada eksistensi dua status ASN. Kehadiran PPPK sebagai status baru ASN sejatinya dinantikan sebagai motor penggerak dan simbol penguatan kinerja yang menginjeksi energi segar di sekolah, namun nyatanya justru terpuruk jauh di bawah capaian rekan-rekan PNS.
Perbedaan angka statistik yang mencolok seolah menggugat kembali janji dan komitmen awal saat kita menerima amanah dibalik status tersebut—sebuah pengingat tajam bahwa status yang lebih mapan seharusnya melahirkan militansi semangat yang baru, bukan justru melonggarkan kualitas pengabdian kita di hadapan anak-anak didik yang menaruh harapan.
Namun, kita patut bersyukur, di tengah pekatnya potret data agregat tersebut, histogram kinerja individual kita menyibak sebuah realitas yang kontras—sebuah jurang pemisah yang teramat tajam antarindividu. Di satu sisi kita melihat kelesuan, tetapi di sisi lain, guratan grafik itu justru melahirkan nama-nama yang bersinar sebagai pahlawan sunyi.
Di antara kita, ada sosok-sosok luar biasa yang mampu menembus batas keterbatasan hingga meraih capaian gemilang di angka 96,08% dan 92,65%. Mereka adalah manifesto hidup bahwa tantangan sistem dan latar belakang siswa bukanlah alasan untuk menyerah pada keadaan. Mereka memilih untuk selalu hadir, mendedikasikan seluruh energi mereka di atas podium kelas, dan melarung jam-jam kosong yang menjemukan dengan torehan makna.
Bagi anak-anak didik kita—para putra-putri petani yang kerap tak memiliki tempat untuk bertanya di rumah—kehadiran guru-guru seperti ini bukan lagi sekadar pemenuhan tugas formal yang melekat pada status ASN, melainkan uluran tangan penyelamat yang sedang menuntun dan menyelamatkan masa depan mereka dari jerat ketidakpastian.
Memang sulit dinapikan, di sudut grafik yang sama, kita masih disugukan potret yang mengusik rasa keadilan dan memicu kekecewaan mendalam. Sungguh di luar nalar sehat, bagaimana mungkin di tengah institusi yang mulia ini, masih ada rapor kinerja yang terpuruk sangat dalam di angka 4,41%, 5,88%, bahkan hanya tertahan di kisaran 23%.
Bagaimana mungkin seorang yang menyandang gelar pendidik bisa membiarkan dedikasinya menguap hingga hampir tak bersisa? Bukankah ketika seorang guru memilih untuk tidak hadir, maka secara tidak langsung sebenarnya ia sedang mengunci rapat-rapat pintu masa depan anak didiknya sendiri?
Atau jika itu sengaja: secara sadar melalaikan pengisian jurnal untuk menyembunyikan absennya kita di kelas, bukankah itu adalah wujud sikap masa bodoh, pembangkangan pasif, dan pengkhianatan etis sebagai seorang pendidik yang bernaung di institusi yang terhormat?
Terlepas dari itu, semestinya kita sadar bahwa bagi anak seorang petani atau nelayan yang datang ke sekolah dengan harapan besar bahwa pendidikan dapat mengubah nasib keluarga mereka, absennya kehadiran dan bimbingan guru bukanlah sekadar kelalaian administratif—ia adalah sebuah pengkhianatan nyata terhadap masa depan mereka.
Jeritan harapan anak-anak kita itu terekam jelas dalam data minat mereka. Jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) misalnya kini menjelma menjadi magnet utama dengan dominasi pendaftar yang kuat. Angkanya jauh melonjak melampaui jurusan lainnya. Lonjakan itu tentu bukan sekadar statistik pilihan jurusan, dia bukan sekedar angka, tetapi ini adalah deklarasi aspirasi yang kuat dari anak-anak didik kita. Mereka seakan mengirimkan pesan moral yang kuat bahwa mereka ingin menggenggam modernitas, ingin melompat lebih jauh, dan merindukan takdir yang berbeda dari garis profesi orang tua mereka.
Dimana harapan itu digantungkan? tentu melalui bangku sekolah ini, mereka berjuang keras untuk bangkit dan berusaha melangkah keluar dari pekatnya lumpur demi menjemput masa depan yang lebih cerah.
Namun, coba lihat lagi mimpi besar anak-anak kita yang harus berhadapan dengan kenyataan pahit yang terekam jelas pada data keterisian KBM kita. Di sekolah—tempat di mana harapan-harapan modernitas itu digantungkan—persentase keterisian kelas ternyata hanya mampu menyentuh angka rata-rata 59,60%. Angka ini sejalan dengan potret buram rata-rata keterisian pembelajaran di setiap jurusan yang masih tertatih diangka kurang dari 70%.
Sebuah kontradiksi yang menyakitkan. Di satu sisi, anak-anak kita datang membawa sejuta asa, namun di sisi lain, kita justru menyambut mereka dengan ruang kelas yang seringkali kosong.
Mari kita tanyakan pada kedalaman nurani profesi kita: Apakah kita masih layak menerima titipan cita-cita luhur mereka, jika untuk memberikan pengajaran yang layak saja kita belum mampu?
Apakah adil bagi anak-anak yang bermimpi menjadi ahli dibidangnya ini, jika pada kenyatannya mereka hanya mendapatkan separuh dari hak belajar yang seharusnya mereka miliki? Kesenjangan antara impian mereka dan kelalaian kita adalah utang moral yang harus segera kita bayar lunas dengan perubahan nyata.
Data-data ini bukan sekadar laporan tahunan. Ini adalah cermin retak dari tanggung jawab moral kita.
Posisi guru di sekolah dengan latar belakang siswa seperti ini bukanlah posisi yang nyaman. Kita tidak bisa bersandar pada asumsi bahwa "siswa akan belajar sendiri di rumah". Tidak. Di sini, guru adalah segalanya. Guru adalah pengganti orang tua, guru adalah mentor, dan guru adalah penentu nasib.
Ketika guru dengan seenaknya membolos atau tidak mengisi jam mengajar yang tercermin dari rendahnya prosentase keterisian jurnal mengajar, ia bukan hanya melanggar disiplin pegawai. Ia sedang merampas masa depan anak petani yang tidak punya pilihan lain.
Kita butuh lebih banyak sosok yang rela melampaui batas untuk mendedikasikan dirinya, dan mengikis habis sikap masa bodoh yang merugikan anak didik kita. Kita perlu menyadari bahwa mengajar di sekolah ini bukanlah sekadar rutinitas mencari nafkah, melainkan sebuah panggilan kemanusiaan yang suci.
Jika kita tidak sanggup hadir seutuhnya—baik raga maupun jiwa—100% untuk mereka, maka sudah saatnya kita mempertanyakan kembali kelayakan kita berdiri di depan kelas sebagai seorang pendidik. Sebab kita harus selalu ingat: bagi murid-murid di sekolah ini, setiap detik ketidakhadiran kita adalah vonis mati bagi mimpi-mimpi yang sedang mereka rajut.
Wassalam








