Pengikut

1000 Guru Motivator Literasi

Segera Daftarkan Diri Anda.

Lintas Pagi Spirit RRI Tolitoli

Diskursus Penguatan Nilai-Nilai Pancasila di dalam Kehidupan Sehari-hari.

Dialog Lintas Pagi RRI Tolitoli

Guru Kontrak atau PPPK Menjadi Harapan Terakhir bagi para Honorer, ketika batasan usia dan kuota tidak lagi dipenuhi.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 04 Oktober 2025

Diskusi Sinkronisasi Program Berani Cerdas

Diskusi Sinkronisasi Program Berani Cerdas



Diskusi sinkronisasi program Berani Cerdas antara Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tolitoli berlangsung di Aula SKB Tolitoli pada 3 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian sinkronisasi program sembilan BERANI yang digagas Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dengan pemerintah daerah.

Hadir dalam forum tersebut antara lain Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tolitoli, Asisten I Provinsi, sejumlah kepala dinas terkait, para kepala bidang di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi, unsur perguruan tinggi, organisasi profesi guru (PGRI), serta para kepala SMA dan SMK. Diskusi dipimpin langsung oleh Asisten I Provinsi.

Fokus Diskusi: Pendidikan 13 Tahun dan Beasiswa

Terdapat dua isu utama yang menjadi fokus pembahasan, yaitu implementasi program pendidikan 13 tahun serta penyaluran beasiswa melalui program Berani Cerdas.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, sebagai pembicara pertama, menegaskan pentingnya program pendidikan 13 tahun sebagai strategi peningkatan angka partisipasi sekolah. Data menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup signifikan: angka partisipasi pendidikan dasar telah mencapai 80–90 persen, sementara angka partisipasi pendidikan menengah masih sekitar 74 persen. Pertanyaan kritis yang muncul adalah: kemana arah lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah? Isu ini menegaskan perlunya sinkronisasi data dan kebijakan antara pemerintah provinsi dan kabupaten.

Beasiswa Berani Cerdas: Capaian dan Tantangan

Topik kedua yang mendapat perhatian luas adalah implementasi beasiswa Berani Cerdas. Program ini diproyeksikan menjangkau lebih dari 50.000 penerima. Hingga saat ini, lebih dari 20.000 pendaftar telah diverifikasi, dengan sekitar 5.000 mahasiswa berhasil menerima beasiswa. Para penerima tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk mahasiswa dari Universitas Madako, STIE Mujahidin, dan STIP Mujahidin Tolitoli yang turut hadir dalam diskusi.

Menjawab pertanyaan terkait peluang bagi perguruan tinggi swasta, Kadis Pendidikan Provinsi menjelaskan bahwa beasiswa dapat dialokasikan melalui dua skema pembiayaan: UKT tunggal dan UKT variabel. Untuk skema variabel, ia menekankan perlunya penyederhanaan rumusan agar proses verifikasi lebih mudah dan cepat.

Namun, isu krusial muncul terkait mekanisme pencairan beasiswa. Saat ini, dana ditransfer langsung ke rekening mahasiswa. Aspirasi perguruan tinggi agar pencairan dilakukan langsung ke rekening institusi belum dapat dipenuhi, mengingat dana beasiswa bukan termasuk dana hibah dan belum adanya Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebagai bank penyalur. Kadis Pendidikan menyatakan bahwa ke depan, PKS dengan BPD akan dilakukan sehingga dana beasiswa dapat di-autodebet langsung ke rekening perguruan tinggi untuk pembayaran biaya kuliah.

Suara Lapangan: Sekolah dan Kebutuhan Industri

Diskusi ini juga menyedot perhatian para kepala SMA dan SMK. Beberapa isu lapangan yang mengemuka antara lain: Kendala akses siswa ke sekolah akibat faktor geografis dan ekonomi. Permasalahan terkait pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan harapan adanya program pelatihan tambahan yang relevan dengan kebutuhan industri, misalnya pelatihan operator alat berat.

Catatan Kritis

Diskusi sinkronisasi ini, yang berlangsung sejak pukul 14.00 hingga 16.30 WITA, menegaskan urgensi penyelarasan program pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten. Namun, terdapat sejumlah tantangan mendasar: pertama Kesenjangan data antara pendidikan dasar dan menengah yang perlu diurai secara lebih komprehensif, bukan hanya dipaparkan secara statistik. Kedua Mekanisme beasiswa yang masih berfokus pada transfer langsung ke mahasiswa menimbulkan potensi masalah akuntabilitas dan efektivitas dalam penggunaan dana pendidikan. Ketiga Relevansi program pendidikan dengan kebutuhan industri masih menjadi titik lemah, sebagaimana aspirasi kepala sekolah mengenai kebutuhan pelatihan vokasional yang lebih kontekstual.

Dengan demikian, keberhasilan program Berani Cerdas tidak hanya bergantung pada kuantitas penerima beasiswa atau lamanya durasi wajib belajar, tetapi juga pada kualitas sinkronisasi kebijakan, ketepatan sasaran, serta relevansinya dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Sabtu, 27 September 2025

Antara Lima Orang, Satu Teko Teh, dan Mimpi Besar

Tolitoli, 26 September 2025

Oleh: Muliadi 

Rapat Muhammadiyah di Tolitoli sore itu nyaris batal. Bukan karena hujan, bukan pula karena listrik padam. Penyebabnya sederhana: peserta rapat. Dari sekian banyak pengurus, yang datang hanya lima orang. Jumlah yang cukup untuk adzan, iqamah, sekaligus jadi makmum.

Saya tiba di sekretariat. Yang ada hanya Pak Rustam, sekretaris PDM. Ia duduk ditemani satu teko teh yang sudah dingin. Teh itu mungkin lebih sabar daripada kebanyakan pengurus. Menunggu lama, tak juga ditenggak. Kalau ia punya mulut, barangkali sudah teriak: “Hei, rapat ini untuk saya atau untuk kalian?”

Saya pun pindah ke masjid. Di sana ada Pak Ketua PDM dan Pak Nawir, sesepuh Muhammadiyah. Sesepuh itu memang punya jam biologis berbeda. Selalu datang lebih dulu. Sementara yang muda-muda sering datang belakangan—kalau datang. Alasan klasik: sibuk.

Setengah lima sore lewat, jumlah peserta masih segitu-gitu saja. Untung kemudian Pak Kepala MTs hadir. Lalu disusul Pak Rustam. Lengkaplah lima orang. Pas. Rapat pun dibuka.

Topiknya keren: Hasil kegiatan LPPCR di Gorontalo, bil khusus soal Akademi Marbut Masjid Muhammadiyah (AM3). Namanya gagah, seperti program global. Tapi apa daya, pesertanya hanya cukup untuk main kartu remi.

Pak Rustam membuka rapat sambil menceritakan bagaimana marbut mengelola masjid dengan baik dan profesional. Masjidnya sampai punya cafe dan seterusnya. 

Pak Suhaili menambahkan tentang ide kegiatan atau program tahfidz, tilawah, tahsin dan tafsir di Masjid. Program ini menurut beliau penting selain meningkatkan pemahaman tentang Al-Quran, juga dapat menjadi sarana pencetak dai Muhammadiyah. 

Pak Nawir, sang sesepuh, bicara lebih tajam: Muhammadiyah Tolitoli sedang krisis kader pendakwah. Solusinya? Segera bangun TPA di Lelean Nono. Jangan cuma wacana. TPA itu bisa jadi cikal bakal pesantren pencetak dai muda Muhammadiyah. Kata beliau, kalau Muhammadiyah tak segera mencetak kader dakwah, maka nanti khutbah Jum’at di Masjid Muhammadiyah bisa saja bukan lagi style Muhammadiyah .

Pak Ketua PDM kemudian berbagi pengalaman tentang masjid di Sragen yang dikelola profesional. Ia sudah mencoba menirunya lewat Jum’at Berkah. Bedanya, di Sragen program itu berjalan setiap subuh, sementara disini baru sebatas Jum'at subuh.

Giliran saya diminta bicara. Padahal, niat saya hanya ingin mendengar. Tapi kalau sesepuh sudah menoleh, menolak itu seperti menolak dipanggil makan gratis. Akhirnya saya bicara.

Saya sampaikan bahwa Muhammadiyah sedang digiring ke arah profesional. Tiga kali pengurus ikut pelatihan yang di selenggarakan oleh PP Muhammadiyah. Isinya sama secara garis besar: tata kelola organisasi harus rapi. Muhammadiyah punya aset besar, tapi kalau dikelola seadanya, ya hasilnya seadanya juga. Malah bisa jadi masalah.

Itulah kenapa saya selalu lebih suka bicara tentang sistem, bukan sekadar program. Program penting, tapi tanpa perencanaan matang, program hanya akan jadi foto seremonial di spanduk, hilang setelah acara bubar.

Rapat sore itu ditutup oleh suara azan. Masih ada sisa argumen yang belum tersampaikan, tetapi azan "Marbut" sudah tidak memberi toleransi. Sambil menyeruput es teh yang makin encer Pak Rustam menutup dengan ayat pamungkas " "نَصۡرٌ مِّنَ اللّٰهِ وَفَتۡحٌ قَرِيْبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ" (Nashrum minallahi wa fathun qarib wa basyiril mu'minin)

Apa tindak lanjutnya? Itu urusan nanti. Di Muhammadiyah, rapat memang sering jadi ajang tafsir: serius saat bicara, cair saat bubar.

Tapi jangan salah. Justru dari rapat lima orang, satu teko teh, dan sejuta tafsir inilah Muhammadiyah Tolitoli membuktikan diri: ia mungkin lambat, tapi tetap bergerak. Dan bergerak, sekecil apa pun, masih lebih mulia daripada diam sambil berdebat di warung kopi.

Rabu, 10 September 2025

Manusia, Fitrah, dan Konsep Diri: Pentingnya Lingkungan Positif dalam Pendidikan

Palu, 10 September 2025

Islam mengajarkan bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah, yaitu keadaan suci, bersih, dan terbuka untuk menerima kebenaran. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa manusia sejak lahir membawa potensi alami untuk kebaikan, namun arah perkembangan dirinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama orang tua, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya. Dengan kata lain, konsep diri seorang manusia tidak lahir begitu saja, melainkan dibentuk oleh referensi dan pengalaman yang diperolehnya setiap hari.

1. Perspektif Islam: Fitrah dan Lingkungan

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
(QS. Ar-Rum: 30)

Ayat ini menunjukkan bahwa potensi iman dan kebaikan sudah tertanam dalam diri setiap manusia, namun lingkungan—baik keluarga maupun masyarakat—berperan besar dalam mengarahkan fitrah itu menuju kebaikan atau sebaliknya.

2. Perspektif Psikologi dan Sosial

Pandangan ini sejalan dengan teori psikologi dan sosiologi modern:

  • Teori Belajar Sosial (Albert Bandura): manusia belajar melalui pengamatan (observational learning). Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan dari orang-orang di sekitarnya menjadi model yang ditiru dan diinternalisasi.

  • Teori Interaksionisme Simbolik (Mead & Cooley): konsep diri terbentuk melalui interaksi sosial. Looking glass self menyatakan seseorang melihat dirinya sebagaimana ia membayangkan orang lain menilainya.

  • Teori Ekologi Perkembangan (Urie Bronfenbrenner): perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai lapisan lingkungan, mulai dari keluarga (mikrosistem) hingga budaya dan kebijakan (makrosistem).

Ketiga teori ini memperkuat bahwa lingkungan yang konsisten memberikan nilai, contoh, dan penguatan positif akan membentuk konsep diri positif pada individu.

3. Bagaimana Sekolah Membentuk Lingkungan Positif

Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, melainkan lingkungan sosial kedua setelah keluarga yang sangat menentukan pembentukan kepribadian siswa. Agar sekolah mampu memberikan pengaruh nyata terhadap perilaku siswa, ada beberapa langkah strategis:

  1. Budaya Sekolah yang Religius dan Berkarakter

    • Membiasakan doa bersama, shalat berjamaah, salam, senyum, dan sapa.

    • Menanamkan nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab melalui kegiatan sehari-hari.

  2. Keteladanan Guru dan Tenaga Kependidikan

    • Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan. Sikap guru dalam berbicara, berpakaian, bekerja, dan menghadapi masalah menjadi cermin langsung bagi siswa.

  3. Lingkungan Fisik yang Tertata dan Ramah

    • Sekolah yang bersih, hijau, dan nyaman menciptakan suasana hati yang positif. Tata ruang yang rapi mengajarkan keteraturan.

  4. Sistem Pembelajaran yang Menguatkan Karakter

    • Pembelajaran berbasis proyek, kolaboratif, dan kontekstual menumbuhkan tanggung jawab, kreativitas, serta kepedulian sosial.

    • Penilaian tidak hanya kognitif, tetapi juga aspek sikap dan keterampilan.

  5. Penguatan Komunitas Sekolah

    • Menciptakan komunitas belajar yang sehat, saling menghargai, tanpa perundungan (bullying).

    • Melibatkan orang tua dan masyarakat agar nilai yang ditanamkan di sekolah berkesinambungan dengan rumah.

  6. Konsistensi dalam Aturan dan Penguatan Positif

    • Aturan ditegakkan secara adil dan konsisten.

    • Siswa diberi apresiasi atas perilaku baik, bukan hanya dihukum ketika salah.

Dengan demikian, lingkungan sekolah yang positif akan menjadi referensi sehari-hari bagi siswa dalam membentuk konsep dirinya. Apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan di sekolah secara konsisten akan menuntun mereka pada perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.

Kesimpulan

Islam melalui konsep fitrah dan hadits Nabi ﷺ menekankan pentingnya lingkungan dalam membentuk kepribadian manusia. Hal ini senada dengan teori psikologi dan sosial yang menyatakan bahwa konsep diri terbentuk melalui interaksi dan pengalaman dari lingkungan. Oleh sebab itu, pendidikan tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan, melainkan yang paling utama adalah menciptakan lingkungan sekolah yang positif, konsisten, dan bernilai, sehingga siswa tumbuh menjadi pribadi beriman, berakhlak mulia, dan memiliki perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Rabu, 27 Agustus 2025

Aneh

 Rabu, 27 Agustus 2025.

Hari itu, saya melangkah ke sebuah kelas dengan perasaan biasa saja, tanpa firasat apa pun. Namun, apa yang saya temukan di dalamnya benar-benar di luar dugaan.

Seorang guru duduk di depan kelas, matanya terpaku pada layar ponsel. Tidak ada suara penjelasan, tidak ada diskusi, hanya keheningan yang aneh. Sementara itu, beberapa siswa juga sibuk dengan HP mereka sendiri. Saya tak bisa menebak, apakah mereka sedang membaca materi, mengerjakan tugas, atau justru bermain game. Yang pasti, suasana kelas itu lebih mirip ruang tunggu ketimbang ruang belajar.

Namun yang paling mengejutkan bukanlah itu. Di sudut ruangan, empat atau lima siswa terlihat berbaring santai di lantai. Ada yang merebahkan diri seolah berada di rumah, bahkan salah satu di antaranya melepas seragamnya, bertelanjang dada di tengah pelajaran. Pemandangan itu membuat langkah saya seketika terhenti.

Saya menatap sang guru, menunggu reaksi. Tapi tidak ada. Wajahnya datar, seakan-akan semua itu adalah hal biasa. Dengan nada datar pula ia menjawab pertanyaan saya:

“Pelajaran apa ini, Pak?”

“KJ 2,” katanya singkat.

“Bapak guru yang mengajar?”

“Iya.”

“Bukan guru pengganti?”

“Bukan.”

Jawaban itu membuat saya semakin bingung. Rasanya ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang tak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.

Saya melangkah keluar, meninggalkan kelas itu dengan pikiran yang penuh tanda tanya. Dalam hati saya bergumam, “Apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini?”

Mungkin saya harus mencari jawabannya besok, atau di hari lain. Untuk saat ini, saya hanya bisa menahan diri. Karena sering kali, apa yang tampak di depan mata tidak selalu menggambarkan apa yang dipikirkan. 

Semoga saja saya mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Salam waras