Pengikut

1000 Guru Motivator Literasi

Segera Daftarkan Diri Anda.

Lintas Pagi Spirit RRI Tolitoli

Diskursus Penguatan Nilai-Nilai Pancasila di dalam Kehidupan Sehari-hari.

Dialog Lintas Pagi RRI Tolitoli

Guru Kontrak atau PPPK Menjadi Harapan Terakhir bagi para Honorer, ketika batasan usia dan kuota tidak lagi dipenuhi.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 05 Januari 2026

Ketika Kepala Sekolah Harus Kembali ke Kelas

Aturan sudah jelas.

Kepala sekolah tidak boleh terlalu lama berkuasa.

Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025 membatasi masa jabatan kepala sekolah maksimal dua periode. Delapan tahun. Setelah itu, selesai. Kembali ke habitat awal: guru.

Secara filosofi, ini kebijakan sehat.
Tidak ada kursi abadi. Tidak ada zona nyaman yang kebablasan.

Masalahnya bukan di situ.

Masalahnya muncul justru ketika aturan yang baik bertemu aturan lain yang sama-sama kaku.

Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 datang dengan syarat tegas: guru harus mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu untuk menjaga tunjangan profesi. Tidak kurang. Tidak bisa ditawar. Sistem Dapodik mencatatnya dengan dingin dan matematis.

Di atas kertas, semua terlihat rapi.
Di lapangan, ceritanya berbeda.

Ini bukan sekadar wacana.

Seorang kepala sekolah SMA di Tolitoli bercerita. Di sistem, masa tugasnya sudah tercatat dua periode penuh. Artinya, secara regulasi, ia sangat mungkin segera kembali menjadi guru.

Ia tidak keberatan.

“Turun jadi guru itu bukan masalah,” katanya.

Yang membuatnya risau justru satu hal:
apakah masih ada jam mengajar untuknya?

Di sekolahnya, jam pelajaran sudah penuh. Semua mapel sudah terbagi habis. Tidak ada ruang kosong. Tidak ada celah 24 jam.

Kegelisahan itu nyata.
Dan ia bukan satu-satunya.

Bayangkan seorang kepala sekolah yang delapan tahun mengurus rapat, konflik, laporan, akreditasi, dan keluhan orang tua. Lalu ia patuh aturan. Ia kembali ke kelas.

Masuk ke ruang guru.

Di sana, jam mengajar sudah selesai dibagi.
Guru mapel sudah pas. Tidak kurang, tidak lebih.

Lalu datang satu orang tambahan: mantan kepala sekolah.

Jam dari mana?

Di sinilah konflik diam-diam mulai bekerja.

Jika jam diberikan kepadanya, maka jam guru lain harus dikurangi. Artinya, guru lain terancam kehilangan tunjangan profesi. Maka muncul rasa tidak adil. Kecanggungan. Bahkan ketegangan.

Padahal, yang satu sedang menjalankan perintah negara.
Yang lain sedang mempertahankan hak hidupnya.

Negara jangan menaruh mereka saling berhadapan.

Solusi paling masuk akal sebenarnya sederhana: tukar tempat yang linier.

Idealnya, kepala sekolah baru berasal dari mata pelajaran yang sama dengan kepala sekolah lama. Maka terjadi pertukaran alami. Yang naik meninggalkan jam. Yang turun mengisi jam. Tidak ada yang dirugikan.

Sayangnya, dunia nyata tidak selalu ideal.

Pengangkatan kepala sekolah sering lintas mapel. Yang penting dianggap punya bakat memimpin. Soal mapel, belakangan.

Akibatnya, ketika kepala sekolah lama turun, ruang mengajarnya sudah tertutup. Tidak ada celah. Tidak ada 24 jam.

Inilah titik rapuh kebijakan kita.

Dua aturan baik berjalan sendiri-sendiri, tanpa saling menyapa.

Padahal, harmonisasi bisa dilakukan.

Pertama, data Dapodik seharusnya dibaca secara strategis, bukan sekadar administratif. Dinas Pendidikan perlu memetakan: jika seorang kepala sekolah turun, ke mana ia kembali. Bukan setelah kejadian, tapi sejak awal penugasan.

Kedua, ekivalensi beban kerja harus dipertegas. Mantan kepala sekolah adalah aset pengalaman. Mereka bisa menjadi mentor, koordinator mutu, pembina guru muda. Jam tugas tambahan ini harus diakui setara, bukan sekadar formalitas.

Ketiga, rotasi kepala sekolah perlu berbasis formasi, bukan hanya kompetensi manajerial. Sekolah bukan sekadar organisasi, tapi ekosistem jam mengajar yang sensitif.

Jika ini diabaikan, niat baik pembatasan masa jabatan justru berubah menjadi ancaman kesejahteraan.

Kepala sekolah yang patuh aturan malah cemas.
Bukan karena turun jabatan,
tetapi karena takut kehilangan penghasilan.

Itu ironi.

Negara seharusnya membuat orang patuh aturan merasa aman.
Bukan sebaliknya.

Kembali menjadi guru seharusnya bukan penurunan martabat.
Ia adalah kelanjutan pengabdian.

Asal sistemnya disiapkan dengan cerdas.

Kalau tidak, bom waktu itu hanya tinggal menunggu jadwal meledak.

Rabu, 29 Oktober 2025

Ibunda Guru: Gelar, Simbol, atau Tanggung Jawab?

 

Ibunda Guru: Gelar, Simbol, atau Tanggung Jawab?

Hari ini Tolitoli punya ibunda baru. Bukan bayi yang lahir, tapi gelar — Ibunda Guru Kabupaten Tolitoli. Dianugerahkan dengan khidmat kepada ibu Sriyanti. Beliau bukan orang sembarangan. Ketua DPRD Tolitoli. Sekaligus istri Bupati Tolitoli.

Ditengah sambutannya bapak Bupati berkelakar. Ditengah banyaknya tugasnya ibu Sriyanti, ada tugas spesialnya "penasehat spiritual". 

Guru-guru hadir. Tapi bukan guru biasa. Mereka anggota dan pengurus PGRI yang akan dilantik sebagai pengurus organisasi kelengkapan PGRI. Ada APKS. LKBH. Anda sudah tau yang lain.

Acaranya dilakukan di Aula rumah jabatan Bupati Tolitoli. Yang menata panggung juga pengurus PGRI. Batik-batik PGRI mewarnai keindahan ruang Aula. Senyum meluas, kamera maju mundur. Semuanya tampak rapi, resmi, dan... sedikit kaku.

Namanya juga seremoni.

Ada pembacaan Surat Keputusan dari Pengurus Provinsi PGRI. Isinya singkat tapi padat: Tugas Ibunda Guru adalah mendukung program PGRI dan ikut mengembangkan dunia pendidikan di daerahnya. Kalimatnya indah. Penuh harapan. Tapi seperti banyak kalimat indah lain di negeri ini, ujian sesungguhnya ada di lapangan — bukan di podium.

Karena guru juga tahu: Pendidikan tidak tumbuh dari seremoni. Ia tumbuh dari ruang kelas yang bocor, dari meja yang reyot, dari guru yang tetap mengajar meski spidolnya tinggal separuh.

Jadi, kalau benar Ibunda Guru akan menjadi bagian dari perjuangan itu, tentu kita sambut dengan penuh hormat. Asal tidak berhenti di spanduk, foto, dan karangan bunga. Sebab, gelar “ibunda” bukan cuma panggilan  ia adalah peran. Ia bukan simbol kemewahan, tapi simbol empati. Bukan sekadar menyemangati dari depan, tapi mendengar dari dekat.

Kalau nanti Ibunda Guru turun langsung ke sekolah-sekolah, melihat realitas guru di pelosok, menyalakan semangat, menghubungkan suara mereka dengan pengambil kebijakan maka gelar itu akan hidup. Kalau tidak, ia akan tinggal di rak lemari penghargaan, berdebu bersama piagam-piagam yang nasibnya sama.

Saya percaya, setiap simbol bisa punya makna asal mau dihidupkan. Dan mungkin, Tolitoli sedang mencoba memberi makna baru itu. Semoga Ibunda Guru benar-benar menjadi ibu: bukan hanya bagi para guru, tapi juga bagi masa depan pendidikan kita.

Sabtu, 04 Oktober 2025

Mengapa Statistik Penting untuk Anak SMK

Mengapa Statistik Penting untuk Anak SMK

Bagi sebagian siswa SMK, pelajaran statistik sering dianggap rumit dan hanya berisi hitungan angka-angka yang membingungkan. Banyak yang bertanya, “Untuk apa sih statistik dipelajari? Bukankah lebih penting belajar keterampilan kerja?” Pertanyaan ini wajar, apalagi SMK dikenal sebagai sekolah vokasi yang menyiapkan siswa langsung terjun ke dunia kerja. Namun, justru karena orientasi SMK yang praktis, statistik menjadi sangat relevan dan penting.

Statistik Membantu Pengambilan Keputusan

Di dunia kerja, hampir semua bidang membutuhkan data. Anak SMK yang bekerja di bidang agribisnis, misalnya, harus mampu membaca data hasil panen, menghitung rata-rata produksi, atau membandingkan hasil antar-minggu. Tanpa statistik, data tersebut hanyalah angka-angka mentah yang sulit dipahami.

Dengan kemampuan statistik, siswa dapat menarik kesimpulan: apakah panen meningkat, menurun, atau stabil. Dari sana, mereka bisa menentukan langkah selanjutnya, misalnya kapan melakukan pemupukan tambahan atau kapan menambah tenaga kerja. Statistik menjadi alat bantu membuat keputusan yang lebih rasional, bukan sekadar berdasarkan perasaan.

Statistik dan Dunia Bisnis

Bagi siswa SMK jurusan bisnis dan pemasaran, statistik adalah kunci membaca tren pasar. Melalui data penjualan, siswa bisa menghitung produk mana yang paling laris, di jam berapa pelanggan paling ramai, atau bagaimana kecenderungan penjualan dari bulan ke bulan.

Kemampuan ini penting karena dunia bisnis sangat bergantung pada analisis data. Anak SMK yang mampu mengolah data sederhana akan lebih mudah bersaing di dunia kerja. Mereka bisa menyajikan laporan berbasis angka yang dipercaya oleh atasan atau mitra kerja, bukan sekadar opini.

Statistik dalam Kehidupan Sehari-hari

Statistik tidak hanya berlaku di ruang kerja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika siswa ingin mengetahui berapa rata-rata pengeluaran uang jajan setiap minggu, berapa banyak waktu yang digunakan untuk belajar dibanding bermain, atau peluang lulus ujian berdasarkan nilai ulangan sebelumnya. Semua itu adalah aplikasi statistik sederhana yang membuat mereka lebih terampil dalam mengatur hidup.

Membangun Pola Pikir Kritis

Lebih jauh lagi, statistik melatih siswa berpikir kritis. Di era digital saat ini, kita dibanjiri informasi dan angka-angka: persentase pengangguran, angka pertumbuhan ekonomi, data pemilu, hingga klaim kesehatan. Tanpa pemahaman statistik, siswa bisa mudah termakan hoaks atau salah tafsir.

Dengan dasar statistik, siswa SMK bisa bertanya: “Apakah data ini valid? Bagaimana cara menghitungnya? Apakah sampelnya cukup mewakili?” Pola pikir kritis seperti ini sangat penting, tidak hanya di sekolah, tetapi juga sebagai bekal menjadi warga masyarakat yang cerdas.

Keterampilan Abad 21

Dunia kerja abad 21 menuntut kemampuan literasi data. Perusahaan mencari tenaga kerja yang bukan hanya bisa bekerja manual, tetapi juga mampu membaca dan menginterpretasi data. Anak SMK yang terbiasa dengan statistik akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan kerja modern, termasuk ketika harus menggunakan software analisis data sederhana atau aplikasi manajemen bisnis.

Statistik Membuka Peluang Karier

Tidak sedikit anak SMK yang melanjutkan kuliah setelah lulus. Bagi mereka, bekal statistik menjadi modal besar. Di hampir semua jurusan, baik ekonomi, teknik, kesehatan, pertanian, maupun teknologi, ada mata kuliah statistik. Siswa yang sudah terbiasa sejak SMK akan lebih percaya diri dan tidak kesulitan mengikuti perkuliahan.

Bahkan bagi yang langsung bekerja, statistik tetap relevan. Anak SMK bisa menggunakannya untuk membuat laporan kerja yang lebih sistematis, mengolah data produksi, atau bahkan menjadi tenaga administrasi yang andal karena mampu mengelola data dengan baik.

Penutup

Statistik bukan sekadar angka yang rumit, melainkan keterampilan hidup. Ia membantu siswa SMK mengambil keputusan, membaca tren, berpikir kritis, dan bersaing di dunia kerja. Justru karena SMK menekankan pada keterampilan praktis, statistik menjadi bekal penting agar siswa tidak hanya bisa bekerja, tetapi juga mampu menganalisis dan meningkatkan kualitas pekerjaannya.

Maka, ketika siswa bertanya, “Mengapa statistik penting untuk anak SMK?”, jawabannya sederhana: karena tanpa statistik, kita hanya menebak-nebak. Dengan statistik, kita bisa melangkah lebih pasti, lebih cerdas, dan lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.

Transformasi Sekolah dengan Teknologi Sederhana

Transformasi Sekolah dengan Teknologi Sederhana

Kata “transformasi sekolah” sering menimbulkan bayangan yang besar dan kompleks. Banyak yang mengaitkannya dengan ruang kelas pintar (smart classroom) lengkap dengan perangkat komputer terbaru, jaringan internet super cepat, proyektor interaktif, bahkan robot pembelajaran. Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa transformasi sekolah hanya bisa dilakukan jika ada investasi besar dalam bentuk perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) berteknologi tinggi.

Namun, sesungguhnya transformasi sekolah tidak selalu identik dengan hal-hal yang rumit atau mahal. Justru dalam banyak kasus, perubahan nyata berawal dari langkah sederhana: bagaimana sekolah, guru, dan siswa menggunakan teknologi yang sudah ada di sekitar mereka secara kreatif dan efektif. Teknologi sederhana yang akrab dengan keseharian, seperti ponsel pintar, aplikasi gratis berbasis cloud, atau platform komunikasi yang mudah diakses, bisa menjadi kunci transformasi sekolah bila digunakan dengan bijak.

Teknologi Sederhana, Dampak Nyata

Mari kita ambil contoh paling dekat. Hampir semua guru dan siswa saat ini memiliki telepon pintar dengan akses internet, meskipun sederhana. Aplikasi seperti Google Form bisa menjadi media absensi digital atau jurnal mengajar digital. Guru tidak lagi perlu membuat daftar hadir maupun jurnal mengajar manual setiap hari. Guru cukup mengisi absensi atau jurnal secara online. Data otomatis masuk ke Google Sheets, dan kepala sekolah dapat memantau kehadiran secara real-time tanpa menunggu laporan rekap mingguan. Biaya yang diperlukan? Hampir nol rupiah.

Contoh berikutnya adalah penggunaan WhatsApp Group. Selama ini, grup WA hanya menjadi ruang koordinasi atau berbagi informasi cepat. Tetapi dengan sedikit kreativitas, grup WA bisa diubah menjadi ruang kelas virtual. Guru dapat membagikan materi singkat, mengirim soal kuis, atau meminta siswa memotret pekerjaan rumah mereka. Diskusi pun bisa berlangsung secara asinkron, sehingga siswa yang malu berbicara di kelas bisa lebih leluasa menyampaikan pendapat. Pemanfaatan grup WA sebagai sarana belajar ini sebagaimana telah dilakukan oleh komunitas belajar menulis PGRI selama bertahun-tahun.

Sederhana, bukan? Tetapi dampaknya besar: komunikasi antara guru dan siswa menjadi lebih intensif, interaksi pembelajaran meluas melampaui dinding kelas, dan siswa merasa terhubung lebih dekat dengan gurunya.

Penerapan dalam Pembelajaran Berbasis Proyek

Teknologi sederhana juga berperan penting dalam pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning). Bayangkan siswa SMK yang sedang melakukan praktik menanam padi, memelihara ayam, atau membuat aplikasi sederhana. Hasil kerja mereka bisa didokumentasikan dengan kamera ponsel lalu diunggah ke blog sekolah, akun media sosial kelas, atau portofolio digital.

Hasil dokumentasi itu bukan sekadar foto atau video biasa. Ia menjadi bukti nyata kemampuan siswa, portofolio yang dapat ditunjukkan saat mencari kerja, sekaligus media promosi sekolah kepada masyarakat. Dengan cara ini, sekolah tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membiasakan siswa membangun identitas profesional sejak dini.

Lebih jauh, dokumentasi digital ini mengajarkan keterampilan abad 21: literasi digital, komunikasi efektif, dan kolaborasi. Semua itu lahir dari penggunaan teknologi yang sangat sederhana, tanpa harus menunggu datangnya laboratorium komputer canggih.

Manajemen Sekolah Lebih Efisien

Transformasi sekolah dengan teknologi sederhana tidak hanya menyentuh sisi pembelajaran, tetapi juga manajemen. Kepala sekolah dan guru bisa menggunakan aplikasi spreadsheet gratis untuk mengelola keuangan sekolah, memantau penggunaan dana BOS, hingga membuat laporan transparan yang bisa diakses oleh pihak terkait.

Di bidang administrasi akademik, penilaian siswa dapat diotomatisasi menggunakan Google Sheets atau aplikasi sederhana berbasis Python. Guru cukup memasukkan nilai mentah, lalu sistem secara otomatis menghitung rata-rata, predikat, hingga status kelulusan. Praktik ini tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga meminimalisir kesalahan manual.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa transformasi bukanlah soal berapa besar dana yang dikeluarkan, tetapi sejauh mana sekolah mampu menggunakan teknologi yang sudah ada dengan cara kreatif.

Budaya Digital yang Inklusif

Hal yang lebih penting dari sekadar alat adalah membangun budaya digital. Teknologi sederhana bisa mengubah cara berpikir warga sekolah tentang keterbukaan, kolaborasi, dan akuntabilitas. Ketika siswa terbiasa mengisi absensi digital, guru terbiasa mengunggah materi ke platform daring, dan kepala sekolah terbiasa memantau data secara real-time, budaya digital otomatis terbangun.

Budaya inilah yang nantinya akan menjadi fondasi untuk melangkah ke level berikutnya. Jika sekolah sudah terbiasa dengan teknologi sederhana, maka penerapan sistem manajemen sekolah berbasis aplikasi besar atau smart classroom canggih akan jauh lebih mudah diterima.

Transformasi Bukan Menunggu, Tapi Memulai

Transformasi sekolah dengan teknologi sederhana mengajarkan satu hal penting: inovasi tidak harus menunggu alat mahal datang. Inovasi lahir dari keberanian memulai dengan apa yang ada. Dari absensi digital sederhana, blog sekolah, hingga portofolio siswa, semua bisa menjadi pintu masuk menuju sekolah yang lebih modern.

Kita tidak perlu menunggu bantuan besar dari pemerintah atau sponsor untuk memulai. Setiap guru bisa menjadi agen transformasi di kelasnya sendiri, setiap kepala sekolah bisa memulai dengan administrasi sederhana, dan setiap siswa bisa dilatih mendokumentasikan karya mereka.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan bukan ditentukan seberapa modern alat yang kita gunakan, tetapi seberapa bijak kita memanfaatkannya. Transformasi sejati tidak selalu hadir dalam bentuk spektakuler, tetapi justru dalam langkah kecil yang konsisten dan berdampak nyata.

Penutup

Sekolah-sekolah yang berani memulai transformasi dengan teknologi sederhana sedang menanam benih besar bagi masa depan. Mereka membuktikan bahwa perubahan bukan monopoli lembaga besar atau kota besar dengan fasilitas lengkap. Di desa, di kabupaten, di sekolah kecil sekalipun, transformasi bisa dimulai hari ini. Caranya sederhana: gunakan teknologi yang ada, kreatif dalam pemanfaatan, dan konsisten dalam penerapan.

Maka, jangan tunggu lagi. Transformasi sekolah bisa dimulai sekarang, dengan teknologi sederhana, dari ruang kelas yang kita miliki hari ini.