Pengikut

1000 Guru Motivator Literasi

Segera Daftarkan Diri Anda.

Lintas Pagi Spirit RRI Tolitoli

Diskursus Penguatan Nilai-Nilai Pancasila di dalam Kehidupan Sehari-hari.

Dialog Lintas Pagi RRI Tolitoli

Guru Kontrak atau PPPK Menjadi Harapan Terakhir bagi para Honorer, ketika batasan usia dan kuota tidak lagi dipenuhi.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 14 November 2021

Jadi Baik

Alhamdulillah, akhirnya rapat pengurus PGRI Kabupaten dapat dilaksanakan. Pengurus yang hadir memang tidak banyak, jika diprosentase dari jumlah seluruh pengurus kurang lebih 40%. Meski demikian, tujuan rapat terpenuhi. Setidaknya segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan menjelang peringatan HUT PGRI ke-76 dan HGN Kabupaten Tolitoli tahun ini sudah dibahas. Kalau ada yang luput dari perhatian, itu bukan lagi hal penting.

Oh iya, rapat hari ini sebenarnya pengganti dari rapat yang dilaksanakan kemarin. Rapat kemarin tidak dapat dilanjutkan karena pengurus yang hadir hanya 3 orang. Saya sendiri tidak bisa hadir karena WA saya tidak dibalas oleh pak Ketua. Sehingga saya berpikir mungkin rapatnya tidak jadi. Belum lagi hari itu kota Tolitoli diguyur hujan deras. Ba'da zuhur hujan mulai turun. Makin lama makin deras. Beberapa orang mulai memposting kondisi jalan di area kota yang mulai kebanjiran. Tempat-tempat yang umumnya menjadi langganan banjir kali ini tenggelam lagi. Seputar kantor camat, rumah sakit mokopido, dan area sekitar perumahan guru nyaris tertutup lumpur. Wajar saja hari itu rapat tidak jadi karena sebagian pengurus mungkin lebih sibuk menghadapi banjir.

Melihat situasi tersebut, pak ketua langsung me-reschedule rapat. Melalui postingan WA saya lihat rapat diundur besok jam 09.00. Saya tidak beri komentar, meskipun waktu yang ditentukan oleh pak ketua bertepatan dengan kegiatan tutorial saya di UT. Setiap hari minggu, mulai pukul 08.00 - 10.00 saya harus mengisi kuliah online di Universitas Terbuka. Otomatis saat rapat dimulai saya masih online. Tapi biar saja, saya pikir nanti juga pak ketua menelpon. Benar saja, lewat jam 9 pak ketua menelpon. Apa boleh buat kegiatan tutorial online masih berlangsung. Pak ketua tentu sangat maklum, karena beliau sendiri adalah pengelola UT di Tolitoli.

Menjelang pukul sepuluh, tutorial pembelajaran matematika SD saya tutup. Mahasiswa saya tugaskan menyelesaikan tugas wajib 2. Pertemuan hari ini adalah pertemuan ke lima. Sudah menjadi aturan di UT setiap pertemuan 3, 5, dan 7 ada tugas wajib yang harus dikerjakan oleh mahasiswa. Jadi saat mahasiswa mengerjakan tugas, saya menutup perkuliahan dan bergegas menuju gedung guru untuk mengikuti rapat.

Rapat memang sudah dimulai, tetapi sepertinya belum menyentuh aspek penting yang akan dilaksanakan. Saat saya memasuki ruang rapat, wakil sekretaris dan ketua sedang memimpin rapat. Pak Tasmin langsung meminta saya menuju meja pimpinan rapat. Sebetulnya tidak terlalu penting menurut saya, tetapi karena diminta saya manut saja.

Akhirnya pak ketua menyerahkan pembahasan sejumlah kegiatan kepada saya. Laptop yang digunakan oleh pak ketua sepertinya bermasalah. Untunglah saya sudah menyiapkan laptop sejak awal. Materi yang akan dibahas dipindahkan ke saya melalui WA. Agenda kegiatan hari itu mematangkan persiapan agar dalam pelaksanaan nanti semua berjalan berjalan lancar.

Ada banyak kegiatan yang akan dilaksanakan dalam peringatan HUT PGRI kali ini. Dari daftar yang telah tersusun tercatat 5 cabang olah raga yang akan dipertandingkan, yaitu sepak bola mini, bola volly, sepak takraw, tenis meja, dan catur. Sementara dari bidang seni tercatat ada 3 mata lomba yang akan dipertandingkan, yaitu paduan suara, nyanyi solo, dan MC. Sebenarnya ada satu lagi lomba olahraga yang harus dilaksanakan yaitu senam PGRI. Tetapi cabang lomba ini urung dilakukan karena pendaftarnya tidak mencapai target, yaitu minimal 5 kecamatan.

Lomba olah raga dan seni selalu menjadi kegiatan favorit menjelang peringatan HUT PGRI setiap tahunnya. Penggemarnya cukup banyak. Alasan lainnya, lomba ini banyak menarik perhatian penonton sehingga suasana menjadi meriah. Namanya juga memeriahkan, ya harus dibuat meriah dan heboh agar peserta dan warga masyarakat yang menyaksikan kegiatan bisa menikmati dengan hati yang gembira. Maklum, setelah kurang lebih dua tahun belakangan masyarakat seakan terbelenggu oleh kehadiran virus Covid-19. Pelaksanaan kegiatan yang mengumpulkan orang banyak dilarang. Tentu tujuannya baik, agar masyarakat aman dari penularan Covid-19 yang demikian masif.

Kembali ke pembahasan rapat. Selain kegiatan lomba, momentum peringatan HUT PGRI kali ini juga dimanfaatkan untuk memberi penguatan pada aspek kompetensi dan kapasitas SDM, khususnya guru. Sudah sejak lama gagasan untuk menghadirkan kegiatan yang lebih mendorong peningkatan kualitas guru selalu digaungkan. Tetapi entah kenapa, kegiatan seperti itu sulit sekali terlaksana. Saya merasa ada beberapa hal yang selalu menjadi kendala, yaitu strategi pelaksanaan, biaya, narasumber dan minat peserta. Kegiatan pelatihan peningkatan SDM memang perlu dipersiapkan secara matang. Sebab jika tidak, bukan tidak mungkin kegiatan tersebut hanya akan bersifat seremonial. Tidak efektif, dan hanya menghamburkan anggaran. 

Menjelang peringatan HUT PGRI dan HGN tahun ini, setidaknya ada 3 acara penting yang berkaitan dengan upaya peningkatan SDM ini, yaitu bincang santai kepenulisan, workshop peningkatan kapasitas pengurus, dan lounching buku. Bincang santai kepenulisan rencananya akan menghadirkan sejumlah guru penulis yang telah berhasil menerbitkan buku maupun yang sedang aktif menulis di berbagai platform digital. Tujuannya adalah mengajak dan memotivasi para guru agar mau dan aktif menulis. Menulis sebenarnya adalah kebutuhan para guru untuk meningkatkan kapasitas dirinya. Namun mereka sulit menulis karena tidak ada motivasi. Oleh karena itu, kegiatan bincang santai ini penting untuk mentriger para guru agar bangun dari kemalasan menulis.

Satu gagasan brilian menurut saya, datang dari pak Tasmin. Menurutnya kegiatan launching buku sebaiknya dilaksanakan pada saat upacara puncak peringatan HUT PGRI dan HGN. Alasannya, saat itu merupakan momentum strategis untuk mengenalkan kepada Bapak Bupati, bahwa di Tolitoli ini ada juga guru yang "berprestasi" dan bahkan pada level nasional. Menulis bagi guru memang masih menjadi sesuatu yang istimewa, khususnya di daerah. Itulah sebabnya, ketika ada guru yang menjadi penulis, apalagi telah menerbitkan buku akan dipandang sebagai ikon intelektualitas. Tapi itu tidak salah, lihat saja kata seorang penulis hebat ibu Sri Sugiastuti (2021) "Kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir". Jadi, saya sepakat dengan gagasan pak Tasmin. 

Dari hasil diskusi hari itu, disepakati kegiatan launching buku akan dilaksanakan pada saat upacara puncak. Tepatnya, pada saat Bapak Bupati selesai menyampaikan sambutannya. Saat itulah dilaksanakan launching buku perdana saya bersama-sama teman guru lainnya. Mudah-mudahan semua nanti akan berjalan lancar. Jika ini berhasil, bukan tidak mungkin akan lahir penulis-penulis hebat dari kota kecil ini. Pelopornya adalah PGRI, hebatkan? Untuk menambah kesakralan launching buku ini, pak ketua berencana turut memasukkan salah satu point penting dalam sambutanya adalah tentang guru-guru penulis ini. 

Saya hampir lupa, selain berkaitan dengan kepenulisan, kegiatan yang tidak kalah penting adalah workshop penguatan kapasitas pengurus PGRI. Semua tingkatan, pengurus Cabang maupun pengurus Kabupaten. Workshop ini bertujuan meningkatkan kemampuan pengurus dalam mengelola organisasi PGRI. Diakui atau tidak, hampir semua pengurus PGRI yang terpilih bukanlah orang yang berpengalaman mengelola organisasi. Kepemimpinan boleh oke, tetapi jika manajemen lemah, maka output organisasi juga akan lemah. Sehingga wajar jika program-program yang berjalan tidak berbasis pada perencanaan dan lebih bersifat improvisasi. Lalu bagaimana mau menilai keberhasilan program?

Sudah saatnya PGRI menunjukkan jati dirinya sebagai organisasi para profesional. Oleh sebab itu berbena diri adalah kuncinya. Ingin lebih baik itu adalah keharusan, sebab jika tidak, maka kita pasti mengelola organisasi yang bangkrut. Bangkrut karena tidak menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sudah saatnya organisasi yang besar ini di kelola secara profesional. Saya tidak meragukan kualitas manajemen organisasi pada level PB, bahkan provinsi. Tetapi bagaimana dengan Kabupaten dan Cabang? Masih sangat banyak yang harus dibenahi. PGRI tidak boleh hanya hebat dipusat, sementara di daerah melempem. Sebagai sebuah sistem, PGRI harus kuat pada berbagai lini, termasuk di level organisasi terendah. 

Kadang-kadang kebaikan itu perlu diprovokasi agar mau bergerak menunjukkan jati dirinya. Itulah sebabnya saya mendorong pak Tasmin membuat rompi infokom PGRI. Biar nanti pada saat upacara, publik tahu atau pemerintah tahu bahwa PGRI itu serius dan dapat diandalkan. PGRI itu tidak recehan, tetapi profesional. Namanya penampilan pasti sangat berpengaruh terhadap pandangan orang lain kepada PGRI. Bahasa kerennya, personal branding itu harus dibangun, dan itu diawali dari penampilan fisik. Semoga menjadi lebih baik, Amiin.

Tolitoli, 14 November 2021
Muliadi

   



 

Selasa, 09 November 2021

Catatan Pembelajaran Hari ini

Selasa, 9 Nopember 2021

Pukul 07.20 - 09.00

Saya memulai kelas matematika dengan berdoa. Salah satu siswa memimpin doa, yang lain tinggal mengikuti saja. Suasana mendung, hujan ringan sudah mulai turun menimpa atap seng sekolah membuat suara bising. Cukup mengganggu suaranya, suara kita jadi tidak terdengar jelas. Saya memberikan semangat kepada siswa agar mereka tidak terlalu terpengaruh suasana  alam yang kurang kondusif.

Dari proses pembelajaran selama ini, saya menyadari siswa masih banyak kelemahan dalam menyelesaikan masalah matematika. Persoalannya cukup kompleks. Salah satu yang cukup penting menjadi perhatian adalah kemampuan menurunkan rumus. Siswa memang cukup lemah dalam melakukan operasi matematika. Kendatipun itu operasi matematika yang cukup sederhana. Misalnya dalam menyelesaikan persamaan. Akibatnya pembelajaran matematika sulit mengalami kemajuan.

Dari fenomena ini, maka saya berpikir mungkin diperlukan latihan yang berulang-ulang (drill) dalam menyelesaikan masalah. Jika proses tersebut dilakukan setidaknya siswa dapat belajar bagaimana seharusnya memproses suatu rumus hingga memperoleh penyelesaian. Saya biasa memberikan tips kepada siswa bagaimana menyelesaikan operasi aljabar. Begini tips yang biasa saya berikan:
 
jika dia tambah (+), maka beri dia kurang (-)
jika dia kurang (-), maka beri dia tambah (+)
jika dia kali (x), maka beri dia bagi (:)
jika dia bagi (:), maka beri dia kali (x)
Namun jangan lupa, kita harus adil.

Maksudnya seperti ini,meskipun sebetulnya anda juga sudah tau:
misalkan ada persamaan 2x - 4 = -5 + 7x, maka untuk menentukan nilai x dengan menerapkan tips di atas sebagai berikut:

2x -7x - 4 = - 5 + 7x - 7x 
(7x positif (+) maka diberi -7x (-) diruas kiri dan ruas kanan, ini disebut adil) diperoleh:
-5x - 4 = - 5
(-4 negatif (-)  maka diberi +4 (+) diruas kiri dan ruas kanan, adil) 
-5x - 4 + 4 = -5 - 4, sehingga diperoleh
-5x = - 9
(-5x adalah (-5) kali x, sehingga harus diberi bahagi (:)) sehingga diperoleh
-5x/-5 = -9/-5, hasilnya adalah
x = 9/5

Ini sebenarnya bukan tips baru atau istimewa. Bahkan itu adalah prosedur standar dalam operasi matematika. Namun untuk membuka "kebekuan berpikir" dan menghilangkan kesan formal dalam operasi matematika, maka saya mendeskripsikannya seperti itu. Sederhananya, berilah operasi yang berlawanan dengan operasi yang tersedia (+ -, x :, akar dengan kuadrat, dst). 

Tetapi karena pengalaman belajar terdahulu yang kurang "lengkap", maka siswa selalu saja kesulitan menerapkan ini. Mungkin juga, siswa memerlukan pengalaman belajar yang intens untuk dapat menguasai operasi aljabar dengan baik. Ini artinya drill diperlukan untuk melatih keterampilan siswa.

Selain masalah kemampuan melakukan operasi, siswa juga masih sangat kesulitan menemukan informasi yang relevan dengan kebutuhan penyelesaian masalah. Kendatipun informasi tersebut, masih informasi yang cukup simpel atau sederhana. Ini mungkin hanya perspektif pribadi saya. Tetapi faktanya memang demikian.

Contohnya sebagai berikut:

Jumat, 05 November 2021

Catatan Pembelajaran Mat XII TKJ 2

Kamis, 4 Nopember 2021

Hari ini saya mengajar di kelas XII TKJ 2, jumlah siswa hadir saat itu 14 orang. Pembelajaran di mulai pukul 07.20. Namun beberapa siswa masuk terlambat. Saya mempersilahkan saja mereka masuk. Tidak ada komentar atau nasehat agar jangan lagi terlambat. Saya pikir, kehadiran mereka lebih utama dari pada mereka terlambat.

Materi hari itu masih membahas tentang jarak. Jarak titik terhadap bidang. Saya mencoba sebuah strategi baru (menurut saya), yaitu memecahkan masalah "alah saya" sebut saja begitu. Ceritanya: saya memberikan soal di awal, kemudian memberi waktu kepada siswa untuk memikirkan, informasi apa yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. 

Berikut masalah atau soal yang saya berikan:

Kamis, 04 November 2021

Refleksi 76 tahun PGRI

Boleh dikata, bulan ini adalah bulan eforia bagi guru dan anggota PGRI. Iya, acara tahunan ini memang telah menjadi agenda tetap, HUT PGRI dan HGN. Dua kegiatan yang terlihat seperti berbeda, tetapi pada hakekatnya satu. HGN ditetapkan jatuh pada tanggal 25 Nopember setiap tahunnya melalu Keppres nomor 76 tahun 1994. Sementara, 25 Nopember sendiri adalah hari kelahiran PGRI, yang tahun ini genap berusia 76 tahun. 

Meskipun disinyalir ada sejumlah pihak  yang ingin mengaburkan eksistensi PGRI sebagai organisasi yang menjadi penyebab lahirnya Hari Guru Nasional. Namun hal itu tentu tidak mudah dilakukan. Bagaimana pun juga perjalanan panjang PGRI sebagai organisasi guru telah turut mewarnai  perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sehingga wajar jika usia PGRI sama dengan usia kemerdekaan, yaitu 76 tahun. 

Terlepas dari semua itu, yang terpenting adalah HUT PGRI dan HGN merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Artinya memperingati HGN tanpa  mengingat HUT PGRI sama saja dengan memperingati kemerdekaan tanpa pembacaan teks proklamasi, tentu tidak akan lengkap dan pas.

Tetapi pertanyaan yang menggelitik adalah bagaimana memaknai HUT PGRI dan HGN setiap tahunnya? Apakah peringatan dan perayaan itu hanya selesai dalam balutan kegembiraan sesaat, sementara problem pendidikan dan guru seakan tak pernah beranjak. Lomba-lomba yang mendorong pada penguatan profesionalisme guru pun masih kurang diminati. Perhatian dan etos kerja kita lebih banyak pada kegiatan yang lebih mengandalkan fisik. 

Lalu, apakah itu salah, tidak juga. Apalagi untuk alasan memeriahkan. Namanya juga meriah, ya harus ramai, heboh dan menggembirakan. Tetapi jika    fokus kegiatan kita belum mencoba beralih dari posisi semula. Artinya dari tahun ke tahun itu-itu saja, maka artinya tidak ada kemajuan dari apa yang telah dilakukan bertahun-tahun ini. 

Jika dicermati, saya berpandangan setiap wujud aktivitas organisasi merupakan gambaran kualitas organisasi. Kualitas organisasi adalah refleksi kinerja pengurus organisasi. Organisasi adalah benda mati, kualitas warnanya bergantung pada kreativitas dan kualitas pengurusnya. Jadi secara logik, memperbaiki organisasi dilakukan dengan memperbaiki kualitas pengurusnya. Kalau yang ini juga semua sudah tahu.

Masalahnya adalah sepengetahuan saya, belum perna sekalipun pengurus yang terpilih, begitu dilantik kemudian mendapat pelatihan khusus bagaimana mengelola organisasi. Padahal notabene orang-orang yang terpilih sebagai pengurus bukanlah orang-orang berpengalaman berorganisasi. Kalau pun perna berorganisasi, pengalaman mereka pun bukan pengalaman terbaik. Paling-paling sama dengan pengalaman saat ini, tidak ada kemajuan atau perubahan. Sehingga wajar jika kapasitas dan kapabilitas mereka belum bisa diandalkan mengelola organisasi secara produktif.

Kita memang relatif abai dalam hal ini, akibatnya progres organisasi tidak mengalami pergeseran secara positif. Kecuali pencapaian besar dalam melunasi iuran. Saya jadi tergelitik dengan kritik pak Syam pada saat presentasi virtual, beliau mengatakan wajar saja jika anggota PGRI di sekolah bertanya "apa yang telah dilakukan PGRI kepada kami, apakah hanya menagih iuran"? Saya memahami kritik pak Syam terkait dengan sikap pengurus yang masih enggan menyampaikan hasil-hasil perjuangan PGRI. Tetapi bagi saya, itu juga belum cukup. Masih tetap diperlukan kehadiran program-program strategis yang digagas oleh pengurus pada setiap tingkatan yang langsung menyentuh kepentingan anggota. Jadi pengurus di daerah bukan hanya corong, tetapi lebih dari itu berperan menggerakkan sesuai kewenangannya.

Saya sendiri baru mulai serius mendalami PGRI pada kepemimpinan pak ketua saat ini. Hal ini mungkin terkait iklim dan gaya kepemimpinan dan visi dari masing-masing pemimpin. Dalam pencermatan saya, setiap pemimpin telah menunjukkan monumen hasil kepemimpinannya. Ada yang berhasil membangun aset, ada pula yang berhasil menyelesaikan hutang. Jadi dalam setiap periode kepemimpinan pasti ada kelebihannya. 

Namun ada pula yang belum berubah yaitu pola manajemen organisasi. Hal tersebut antara lain terlihat dari warna kegiatan yang belum mengalami perubahan. Kegiatan yang dilaksanakan umum-nya relatif stagnan. Masih berputar disekitar olahraga dan seni. Sementara dari aspek kegiatan yang berhubungan langsung dengan peningkatan kapasitas profesional belum mendapat proporsi yang seimbang. 

Warna dan kreativitas menurut hemat saya mungkin hanya dampak, yang justru menentukan adalah manajemen organisasi. Kita pasti paham, setidaknya ada dua hal yang penting dalam berorganisasi, yaitu kepemimpinan dan manajemen. Saya tidak ingin mengurai terlalu jauh soal konsep keduanya. Yang jelas kepemimpinan berkenan dengan kemampuan menggerakkan dan mempengaruhi. Dalam filosofi Tutwuri Handayani, didepan mengarahkan, ditengah membimbing, dan dibelakang mendorong, itu peran pemimpin. Tapi kemimpinan saja tidak cukup. Yang tidak kalah pentingnya adalah manajemen. Manajemen itu berhubungan dengan kemampuan mengatur. Kalau memimpin sumberdayanya kharisma, maka manajemen sumber dayanya ilmu pengetahuan dan keterampilan. Contoh manajemen waktu, artinya mengatur waktu, alatnya: pengetahuan dan keterampilan mengatur waktu.

Sampai sejauh ini, kepemimpinan di PGRI menurut hemat saya tidak ada problem yang serius. Semua sudah berjalan cukup baik. Namun dari sisi manajemen, nampaknya kita masih banyak bermasalah. Mudah sekali melihat buktinya. Jika merujuk pada konsep manajemen, setidaknya ada 4 tahapan manajemen yang harus dilakukan, yaitu perencanaan, organisasi, kontrol, dan evaluasi. Pola ini secara implisit telah ada dalam sistem organisasi, tetapi problemnya belum tau cara menggunakannya. Kenapa? Karena perlu ilmu. Kalau ilmunya kurang, maka pasti tidak optimal. Buktinya, sekretaris PGRI Banggai sampai mempertanyakan tupoksi wakil ketua. Artinya ada kesenjangan di sana. Dan persoalan yang dialami oleh pengurus PGRI Banggai itu merupakan sinyal dan refleksi kualitas manajemen yang ada di daerah.

Siapapun boleh jadi pemimpin dengan kharisma yang dimilikinya. Tetapi tanpa kemampuan manajemen yang baik, pasti tidak akan berhasil mencapai tujuan. Kalaupun tercapai, pasti boros, tidak substantif, tidak efektif, dan tidak efesien. Bahkan pada kondisi tertentu yang dilakukan cenderung tidak kreatif,  monoton, dan tidak up to date. Salah satu dampaknya itu tadi, kegiatan yang belum beranjak dari kegiatan sebelumnya.

Saya ingin mengatakan, jika kegiatan-kegiatan pada peringatan HUT PGRI dan HGN masih belum meningkat, dan hanya fokus pada kegiatan yang itu-itu juga, maka boleh jadi organisasi yang besar ini belum berhasil memberikan perubahan pada pola pikir segenap anggotanya. Jika kreativitas dan inovasi sebagai gagasan perbaikan mutu pendidikan yang semestinya menjadi konsen organisasi masih belum tumbuh dan berkembang, maka bisa jadi itu dampak dari kualitas manajemen yang belum baik. Jangankan organisasi, artis saja butuh manajer. Artinya apa, manajemen itu sangat penting, manajemen itu mesin produksi, manajemen itu penggerak.

Lalu, bagaimana agar bisa berubah kearah yang lebih baik? Jawabannya: buat pelatihan manajerial untuk para pengurus PGRI. Materi pelatihannya antara lain: merumuskan dokumen rencana kerja, menyusun RAPBO, menyusun jadwal kerja, cara melaksanakan kegiatan,  cara melakukan kontrol atau pengawasan, dan cara melakukan evaluasi. Satu lagi yang tidak kalah penting, siapa melaksanakan apa, dst. 

Dengan pola manajemen seperti itu, maka sumber daya yang terbatas sekalipun bisa dibuat efektif, terukur penggunaanya, dan terukur pencapaiannya. Dalam prinsip SMM, tulis yang anda kerjakan dan kerjakan yang engkau tulis. Jangan melakukan sesuatu secara mendadak, tiba saat tiba akal. Apalagi jika kegiatan itu memerlukan anggaran yang besar. Sudah semestinya menempatkan program hasil konferensi sebagai panduan dalam bekerja, dan bukan semata-mata improvisasi.

Rumusnya kepemimpinan kuat, manajemen hebat, maka PGRI maju dan berjaya. Bukan tidak mungkin PGRI sebagai organisasi besar akan menjadi 3 kekuatan utama yang akan mewarnai Indonesia, yaitu Muhammadiyah, NU, dan PGRI.

Muliadi,M.Pd

4 November 2021


# DirgahayuPGRI

# GuruMenolakMenyerahkarenaCorona