Pengikut

1000 Guru Motivator Literasi

Segera Daftarkan Diri Anda.

Lintas Pagi Spirit RRI Tolitoli

Diskursus Penguatan Nilai-Nilai Pancasila di dalam Kehidupan Sehari-hari.

Dialog Lintas Pagi RRI Tolitoli

Guru Kontrak atau PPPK Menjadi Harapan Terakhir bagi para Honorer, ketika batasan usia dan kuota tidak lagi dipenuhi.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 27 November 2021

Pentigraf (Kutinggalkan)

Pagi itu suasana hati Agmatino benar-benar galau, pikirannya tegang. Beberapa properti yang harus dia siapkan untuk kegiatan belum juga beres, sementara waktu pelaksanaan semakin mendesak. Agmatino membuka laptop untuk membuat sertifikat yang harus diserahkan pagi itu. Proses loading laptop membuat raut mukanya seakan meledak. Seperti sedang menunggu ribuan tahun, detik demi detik terasa begitu lambat.  "Astagfirullah, kenapa lambat sekali laptop ini loading" gumannya. Berkali-kali  ditekannya tombol Esc dengan harapan ada percepatan. Tapi nampaknya sia-sia, proses loading tetap saja tidak berubah. Agmatino sendiri sebenarnya sadar bahwa proses loading laptop biasa saja. Tetapi logikanya seakan sudah tertutup oleh emosi dan ketegangan jiwanya. 

Tetiba dari balik kamar, terdengar suara Rani istrinya menanyakan kunci motor yang biasa digunakannya. "Papa tidak lihat kunci?" sayup-sayup suara Rani memecah kebuntuan pagi itu, Agmatino tidak menjawab. Dia pikir pasti istrinya dapat menemukan sendiri. Sekonyong-konyong suara motor beat terdengar meluncur meninggalkan rumah. Itu pasti dia, pikir Agmatino. Lalu kenapa pula dia pergi tanpa pamit begitu? cepat-cepat disiapkannya semua properti yang akan di bawah. Agmatino menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Dilihatnya jam di HP sudah menunjukkan pukul 08.30. Wajahnya  semakin kalut. Istri belum juga pulang. Dia mencoba menyusul dengan mobil. Tapi Agmatino tidak menemukannya. Entah kemana dia pergi. "Tega sekali dia pergi tanpa pamit meninggalkanku" keluh Agmatino dalam hati. Apakah dia tidak mempertimbangkan anaknya yang masih membutuhkan asuhannya. Pikirannya semakin kacau membuat konsentrasinya buyar, hampir saja seorang ibu terserempet oleh mobil yang dikendarainya, Astagfirullah. 

Tiga kali dikitarinya jalanan kota dan kembali ke rumah, tapi lagi-lagi dia tidak menemukan istrinya. "Kemana gerangan istriku" suara lirih keluar dari mulutnya. Sesaat kemudian tangisan anaknya yang masih bayi terdengar dalam rumah. Mungkin sibayi yang baru dua bulan itu menyadari situasi yang kurang baik itu, Hati Agmatino tidak sabar lagi menunggu di rumah. Tekadnya sudah bulat, akan meninggalkan istrinya. Terserah pikirnya saat itu. Agmatino menyalakan mobil. Diinjaknya pedal gas dengan emosi. Mobil meluncur mengeluarkan suara cicit bergesekan dengan aspal. Entah dari mana dia muncul, tiba-tiba istrinya sudah ada di depan mobil dengan motor beatnya. "Kenapa lama sekali" sergah Agmatino. "Saya cari susu untuk mazen, susunya habis" jawab Rani istrinya. "Saya tadi keliling cari susu MT, tapi tidak ada, kebetulan begitu saya balik lagi, apotik yang menjual susu MT sudah buka" bebernya panjang lebar. "Ya, sudah, cepat simpan motor, kita berangkat". Mereka berangkat menuju arena kegiatan pelaksanaan upacara HUT PGRI ke-76 dan HGN 2021. Ada dua teman guru yang ikut. Alhamdulillah, akhirnya mereka tiba dengan selamat, kegiatan juga belum dimulai.  

Rabu, 24 November 2021

Terpaksa

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak, itulah keadaan yang saya alami. Kegiatan sudah direncanakan. Ada dua kegiatan, yaitu acara bincang santai kepenulisan dan acara puncak peringatan HUT ke-76 PGRI dan HGN 2021. Pada acara puncak yang saya risaukan bukan acara puncaknya, tetapi pada hari itu ada acara pentingnya buat saya dan kawan-kawan guru penulis, yaitu lauching buku. Kedengarannya keren kan? he..he.. sebenarnya saya sendiri agak malu-malu menyebut istilah itu. Tapi saya tidak menemukan istilah lain yang tepat.

Nah, dua acara ini, yaitu bincang santai dan launcing buku, keduanya "mentor-nya" saya. Artinya kalau saya tidak hadir, acaranya pasti tidak akan seru. Sebenarnya acaranya sih masih bisa jalan meskipun tanpa saya. Tetapi saya yakin teman-teman penulis lain pasti merasa tidak PD juga, mengingat acara ini, termasuk sensasional yang memiliki nilai promosi dan motivasi. Saya sebut begitu, karena saya dan kawan-kawan memang akan mempromosikan bahwa di Tolitoli ini ada guru-guru "hebat" yang sudah berkarya di duni literasi. Sedangkan sisi motivasinya adalah ingin mengajak seluruh guru di Kabupaten Tolitoli untuk terlibat aktif dalam kegiatan literasi dan memperbanyak karya melalui tulisan.

Lalu apa masalahnya? nah ini dia. Sejak kemarin, hari selasa asam urat saya belum juga redah. Sehari sebelumnya memang saya sudah merasakan serangan asam urat tinggi. Tetapi saya cuek saja, meski berjalan harus mengatur langkah agar tidak terlalu sakit, tetap saja dampaknya tetap terasa. Apalagi kemarin itu, saya pakai mobil sendiri, otomatis kaki kiri yang mendapat giliran kena asam urat tetap harus melaksanakan tugas menginjak pedal kopling. Belum lagi tanjakan terjal Pangi harus dilewati. Alhasil, dampak asam uratnya makin tidak terkedali. 

Semalam saya meminta istri membelikan saya obat lagi. Harapannya setelah minum obat, siapa tahu rasa sakitnya bisa redah. Memang sejak semalam, rasa sakit ini bertambah-tambah. Bengkaknya pun sepertinya terus naik. Setelah makan malam dan minum obat, saya putuskan untuk istrahat. Tetapi belum lagi sempat merebahkan badan, eh teringat kalau bahan untuk presentasi besok belum juga selesai. Mau tidak mau saya harus berdamai dengan rasa sakit sambil membuat materi untuk besok. Alhamdulillah, meski sedikit agak dipaksakan jadi juga bahan presentasinya, berharap besok efek asam urat bisah lebih bersahabat.

Namun harapan untuk mendapatkan keadaan normal pagi harinya, ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Efek obat dan istrahat yang diharapkan terjadi, nampaknya kurang berhasil. Sejak subuh saya sudah mencoba menggerakkan kaki kiri yang sakit. Ada sedikit perubahan, tetapi nampaknya rasa sakit masih cukup mengganggu. Belum bisa diinjakkan secara secara normal. Masih terlalu sakit kalau dipaksanakan berjalan. Apalagi kalau pakai sepatu, pasti sangat sangat sakit. Disini masalahnya, sementara kehadiran saya di acara bincang santai kepenulisan itu sangat penting. Saya pengagas acaranya, dan saya pula penanggungjawabnya. 

Saya harus punya cara untuk bisa ke arena kegiatan, sebab kalau tidak, tentu akan kurang seru. Saya sebenarnya sudah punya ancar-ancar akan ikut bersama dengan ketua PGRI Tolitoli. Tetapi ternyata beliau sudah bermalam di lokasi. Jadi tidak mungkin saya ikut dengan beliau. Untungnya beliau memberikan solusi. Beliau berjanji akan mengontak Salmin. Salmin ini salah satu staf admin PGRI yang juga staf di SD Percontohan dimana pak Ketua bertugas. Alhamdulillah, permasalahan terpecahkan. Pagi-pagi Salmin sudah menelpon menyatakan siap menjemput saya ke lokasi acara. 

Saya hanya berharap semoga Allah swt meridhoi niat saya ini, dan acara yang sudah direncanakan bisa berjalan dengan baik dan lancar. Sebenarnya kami sangat berharap acara ini menjadi pemicu semangat dan motivasi sahabat guru untuk terus mengembangkan diri melalui kegiatan menulis.

Tolitoli, 24 November 2021

Muliadi


Kamis, 18 November 2021

Inklusivitas di Dunia Digital

Apa itu inklusivitas?  

Inklusivitas berasal dari kata inklusi. Kata ini diambil dari kata “inclusion” yang berarti mengajak masuk atau mengikutsertakan atau merangkul. Dalam KBBI dijelaskan bahwa inklusi salah satu kata sifat atau adjektiva yaitu kata yang menjelaskan nomina atau pronomina. Sehingga jika di lekatkan pada kata dunia digital dan menjadi inklusif di dunia digital  artinya sifat inklusif di dunia digital. Dengan demikian, maka inklusifitas di dunia digital pada hakekatnya adalah penerapan sifat inklusif  di dunia digital, yaitu suatu sikap yang penuh keterbukaan, menerima segala bentuk perbedaan, dan turut memfasilitasi perbedaan dan keragaman untuk memperoleh akses, dan manfaat dari dunia digital. 

Sifat inklusif berlawanan dengan sifat eksklusif. Sifat eksklusif atau eksclusion, artinya menegasi atau mengeluarkan. Sifat ekslusif menggambarkan suatu sifat mengistimewakan. Sifat ini cenderung menganggap pihak lain yang beda, tidak layak atau tidak perlu berada dalam kelompoknya. Sifat ekslusif selalu memperkuat identitas kelompok dan melemahkan atau merendahkan kelompok lainnya. Perbedaan dan keragaman tidak dipandang sebagai kekayaan khasanah sosial, tetapi justru akan dianggap sebagai ancaman terhadap identitas kelompok. Tentu saja sifat ini, akan sangat berbahaya, apalagi jika terjadi di dunia digital.

Mengapa kita harus bersikap inklusif di dunia digital?

Digital sendiri berasal dari kata digitus bahasa yunani yang artinya jari jemari. Jemari kita ada 10. Nilai 10 terdiri dari 2 angka penting (radix) yaitu 0 dan 1. Angka ini disebut juga angka biner. Setiap sistem komputer menggunakan sistem bilangan biner sebagai basis data. Sistem biner (binary digit) disebut juga sistem digital.

Dalam pengertian ini, dunia digital lebih dimaknai sebagai segala hal yang berkaitan dengan kemajuan teknologi digital dengan infrastruktur utamanya adalah internet. Nah, terkait dengan topik kita ini, maka dunia digital yang dimaksud disini adalah dunia dimana terjadi interaksi dan komunikasi antara individu atau anggota masyarakat dengan memanfaatkan perangkat digital (HP, Android, Komputer, dan sejenisnya) berbasis internet. 

Salah satu konsekuensi dari masifnya penggunaan teknologi digital adalah lahirnya kelompok masyarakat baru yang disebut masyarakat digital (digital society). Masyarakat digital merupakan masyarakat yang bertranformasi dari masyarakat "konvensional" melalui penggunaan perangkat digital berbasis jaringan. Sederhananya, permasalahan yang berasal dari dunia nyata yang relatif terbatas, kemudian dibawa ke dunia maya dan akhirnya menjadi konsumsi publik yang lebih luas. Oleh sebab itu, dunia nyata dan dunia digital pada hakekatnya terhubung.

Meskipun dunia nyata dan dunia digital terhubung, tetapi masing-masing memiliki karakteristik yang khas. Jika interaksi dan komunikasi di dunia nyata relatif terbatas, maka ketika masuk ke dunia digital maka interaksi dan komunikasi akan mengglobal. Apapun yang disampaikan atau dimasukkan (upload) ke dalam perangkat digital yang terhubung dengan internet, akan otomatis menjadi konsumsi publik yang nyaris tanpa batas.

Akibatnya, ragam pandangan, respon, atau tanggapan atas setiap postingan akan lebih tinggi. Potensi dampaknya pun akan lebih besar, baik potensi baik maupun potensi buruk. Potensi baiknya, seseorang bisa menjadi populer dan mendapat simpatik dari banyak orang. Sementara potensi buruknya, seseorang bisa juga menjadi "hancur" nama baiknya, turun martabatnya akibat fitnah, ancaman, perundungan, berita hoaks, dan lain-lain. Potensi konflik pun semakin terbuka akibat dari tajamnya perbedaan pandangan. Tidak sedikit konflik sosial terjadi akibat perbedaan pandangan yang dipertajam melalui media sosial. 

Oleh sebab itu,  salah satu alasan perlunya sikap inklusif di dunia digital adalah untuk menghadirkan sikap respek terhadap perbedaan yang kerap muncul di dunia digital. Melihat perbedaan dan keragaman sebagai sebuah keniscayaan, sehingga perbedaan harus dilihat sebagai "perekat" persatuan daripada sebagai alasan untuk "menghancurkan" atau crush. Perbedaan dan keragaman merupakan ornamen yang mempercantik kehidupan bermasyarakat, dan bukannya menjadi alasan pembenar untuk saling memusuhi.  

Allah swt sendiri mengingatkan kepada manusia untuk selalu bersikap inklusif terhadap perbedaan. Dalam surah Al-hujurat ayat ke-13 Allah berfirman 

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha teliti". 

Perbedaan adalah sunnatullah yang tidak bisa dicegah oleh manusia. Allah sengaja menciptakannya agar diperoleh sebuah keindahan. Keindahan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk keindahan dalam bermasyarakat karena hadirnya akhlak dalam berinteraksi. Bagaimana mungkin bisa melihat keindahan dalam warna yang monoton?

Oleh sebab itu mendorong terwujudnya masyarakat digital yang inklusif menjadi sebuah keharusan, yaitu sebuah masyarakat yang mampu menerima berbagai bentuk keberagaman dan keberbedaan serta mengakomodasinya ke dalam berbagai tatanan maupun infrastruktur yang ada di masyarakat digital. Perbedaan dan keberagaman meliputi keberagaman budaya, pandangan, bahasa, gender, ras, suku bangsa, strata ekonomi, termasuk keberbedaan karena kemampuan fisik / mental (disabilitas). 

Pada intinya kita berada dalam lingkungan yang inklusif dan harus mempunyai “sikap” yang inklusif, karena lingkungan inklusif adalah lingkungan sosial masyarakat yang terbuka, ramah, meniadakan hambatan dan menyenangkan karena setiap warga masyarakat tanpa terkecuali saling menghargai dan merangkul setiap perbedaan. Tidak ada satu orang pun di dunia ini termasuk dunia digital yang dapat menghindar dari perbedaan. Perbedaan itu ada karena kita hidup sebagai makhluk sosial dan bukan makhluk individual.  

Karena setiap perbedaan dan keragaman perlu diperlakukan secara adil, maka sikap inklusif juga diperlukan untuk mengakomodir setiap perbedaan karena keterbatasan fisik dan mental. Dalam hal ini penyandang disabilitas atau kelompok inklusi, perlu mendapat fasilitas yang ramah terhadap kebutuhan khusus mereka di dunia digital. Dalam lingkungan masyarakat digital yang inklusif, penyandang disabilitas selain harus aman dari berbagai bentuk perundungan, pada saat yang sama harus mampu menyediakan fasilitas yang ramah disabilitas dalam mengakses perangkat digital.

Selain dari sisi keterbatasan fisik dan mental, hambatan lain yang menghambat inklusivitas di dunia digital adalah keterbatasan karena faktor wilayah. Kondisi geografis Indonesia yang beragam telah menimbulkan kesenjangan dalam memperoleh akses internet. Saat ini jaringan internet belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia, terutama pada daerah terpencil. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri dalam mendorong inklusivitas di dunia digital. 

Namun pada konteks ini, pemerintah terus berupaya memenuhi keterjangkauan internet ke seluruh wilayah Indonesia dengan cara meningkatkan pembangunan infrastruktur jaringan. Meskipun diakui bahwa penetrasi pembangunan jaringan internet di Indonesia termasuk rendah. Tetapi, upaya untuk melakukan pemerataan jangkauan internet terus dilakukan. 

Akhirnya dengan mengembangkan 3 aspek tersebut di atas, yaitu inklusif dalam melihat perbedaan, inklusif karena keterbatasan fisik, dan inklusif karena keterjangkauan internet, maka inklusivitas di dunia digital dalam diwujudkan secara efektif. 

Minggu, 14 November 2021

Jadi Baik

Alhamdulillah, akhirnya rapat pengurus PGRI Kabupaten dapat dilaksanakan. Pengurus yang hadir memang tidak banyak, jika diprosentase dari jumlah seluruh pengurus kurang lebih 40%. Meski demikian, tujuan rapat terpenuhi. Setidaknya segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan menjelang peringatan HUT PGRI ke-76 dan HGN Kabupaten Tolitoli tahun ini sudah dibahas. Kalau ada yang luput dari perhatian, itu bukan lagi hal penting.

Oh iya, rapat hari ini sebenarnya pengganti dari rapat yang dilaksanakan kemarin. Rapat kemarin tidak dapat dilanjutkan karena pengurus yang hadir hanya 3 orang. Saya sendiri tidak bisa hadir karena WA saya tidak dibalas oleh pak Ketua. Sehingga saya berpikir mungkin rapatnya tidak jadi. Belum lagi hari itu kota Tolitoli diguyur hujan deras. Ba'da zuhur hujan mulai turun. Makin lama makin deras. Beberapa orang mulai memposting kondisi jalan di area kota yang mulai kebanjiran. Tempat-tempat yang umumnya menjadi langganan banjir kali ini tenggelam lagi. Seputar kantor camat, rumah sakit mokopido, dan area sekitar perumahan guru nyaris tertutup lumpur. Wajar saja hari itu rapat tidak jadi karena sebagian pengurus mungkin lebih sibuk menghadapi banjir.

Melihat situasi tersebut, pak ketua langsung me-reschedule rapat. Melalui postingan WA saya lihat rapat diundur besok jam 09.00. Saya tidak beri komentar, meskipun waktu yang ditentukan oleh pak ketua bertepatan dengan kegiatan tutorial saya di UT. Setiap hari minggu, mulai pukul 08.00 - 10.00 saya harus mengisi kuliah online di Universitas Terbuka. Otomatis saat rapat dimulai saya masih online. Tapi biar saja, saya pikir nanti juga pak ketua menelpon. Benar saja, lewat jam 9 pak ketua menelpon. Apa boleh buat kegiatan tutorial online masih berlangsung. Pak ketua tentu sangat maklum, karena beliau sendiri adalah pengelola UT di Tolitoli.

Menjelang pukul sepuluh, tutorial pembelajaran matematika SD saya tutup. Mahasiswa saya tugaskan menyelesaikan tugas wajib 2. Pertemuan hari ini adalah pertemuan ke lima. Sudah menjadi aturan di UT setiap pertemuan 3, 5, dan 7 ada tugas wajib yang harus dikerjakan oleh mahasiswa. Jadi saat mahasiswa mengerjakan tugas, saya menutup perkuliahan dan bergegas menuju gedung guru untuk mengikuti rapat.

Rapat memang sudah dimulai, tetapi sepertinya belum menyentuh aspek penting yang akan dilaksanakan. Saat saya memasuki ruang rapat, wakil sekretaris dan ketua sedang memimpin rapat. Pak Tasmin langsung meminta saya menuju meja pimpinan rapat. Sebetulnya tidak terlalu penting menurut saya, tetapi karena diminta saya manut saja.

Akhirnya pak ketua menyerahkan pembahasan sejumlah kegiatan kepada saya. Laptop yang digunakan oleh pak ketua sepertinya bermasalah. Untunglah saya sudah menyiapkan laptop sejak awal. Materi yang akan dibahas dipindahkan ke saya melalui WA. Agenda kegiatan hari itu mematangkan persiapan agar dalam pelaksanaan nanti semua berjalan berjalan lancar.

Ada banyak kegiatan yang akan dilaksanakan dalam peringatan HUT PGRI kali ini. Dari daftar yang telah tersusun tercatat 5 cabang olah raga yang akan dipertandingkan, yaitu sepak bola mini, bola volly, sepak takraw, tenis meja, dan catur. Sementara dari bidang seni tercatat ada 3 mata lomba yang akan dipertandingkan, yaitu paduan suara, nyanyi solo, dan MC. Sebenarnya ada satu lagi lomba olahraga yang harus dilaksanakan yaitu senam PGRI. Tetapi cabang lomba ini urung dilakukan karena pendaftarnya tidak mencapai target, yaitu minimal 5 kecamatan.

Lomba olah raga dan seni selalu menjadi kegiatan favorit menjelang peringatan HUT PGRI setiap tahunnya. Penggemarnya cukup banyak. Alasan lainnya, lomba ini banyak menarik perhatian penonton sehingga suasana menjadi meriah. Namanya juga memeriahkan, ya harus dibuat meriah dan heboh agar peserta dan warga masyarakat yang menyaksikan kegiatan bisa menikmati dengan hati yang gembira. Maklum, setelah kurang lebih dua tahun belakangan masyarakat seakan terbelenggu oleh kehadiran virus Covid-19. Pelaksanaan kegiatan yang mengumpulkan orang banyak dilarang. Tentu tujuannya baik, agar masyarakat aman dari penularan Covid-19 yang demikian masif.

Kembali ke pembahasan rapat. Selain kegiatan lomba, momentum peringatan HUT PGRI kali ini juga dimanfaatkan untuk memberi penguatan pada aspek kompetensi dan kapasitas SDM, khususnya guru. Sudah sejak lama gagasan untuk menghadirkan kegiatan yang lebih mendorong peningkatan kualitas guru selalu digaungkan. Tetapi entah kenapa, kegiatan seperti itu sulit sekali terlaksana. Saya merasa ada beberapa hal yang selalu menjadi kendala, yaitu strategi pelaksanaan, biaya, narasumber dan minat peserta. Kegiatan pelatihan peningkatan SDM memang perlu dipersiapkan secara matang. Sebab jika tidak, bukan tidak mungkin kegiatan tersebut hanya akan bersifat seremonial. Tidak efektif, dan hanya menghamburkan anggaran. 

Menjelang peringatan HUT PGRI dan HGN tahun ini, setidaknya ada 3 acara penting yang berkaitan dengan upaya peningkatan SDM ini, yaitu bincang santai kepenulisan, workshop peningkatan kapasitas pengurus, dan lounching buku. Bincang santai kepenulisan rencananya akan menghadirkan sejumlah guru penulis yang telah berhasil menerbitkan buku maupun yang sedang aktif menulis di berbagai platform digital. Tujuannya adalah mengajak dan memotivasi para guru agar mau dan aktif menulis. Menulis sebenarnya adalah kebutuhan para guru untuk meningkatkan kapasitas dirinya. Namun mereka sulit menulis karena tidak ada motivasi. Oleh karena itu, kegiatan bincang santai ini penting untuk mentriger para guru agar bangun dari kemalasan menulis.

Satu gagasan brilian menurut saya, datang dari pak Tasmin. Menurutnya kegiatan launching buku sebaiknya dilaksanakan pada saat upacara puncak peringatan HUT PGRI dan HGN. Alasannya, saat itu merupakan momentum strategis untuk mengenalkan kepada Bapak Bupati, bahwa di Tolitoli ini ada juga guru yang "berprestasi" dan bahkan pada level nasional. Menulis bagi guru memang masih menjadi sesuatu yang istimewa, khususnya di daerah. Itulah sebabnya, ketika ada guru yang menjadi penulis, apalagi telah menerbitkan buku akan dipandang sebagai ikon intelektualitas. Tapi itu tidak salah, lihat saja kata seorang penulis hebat ibu Sri Sugiastuti (2021) "Kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir". Jadi, saya sepakat dengan gagasan pak Tasmin. 

Dari hasil diskusi hari itu, disepakati kegiatan launching buku akan dilaksanakan pada saat upacara puncak. Tepatnya, pada saat Bapak Bupati selesai menyampaikan sambutannya. Saat itulah dilaksanakan launching buku perdana saya bersama-sama teman guru lainnya. Mudah-mudahan semua nanti akan berjalan lancar. Jika ini berhasil, bukan tidak mungkin akan lahir penulis-penulis hebat dari kota kecil ini. Pelopornya adalah PGRI, hebatkan? Untuk menambah kesakralan launching buku ini, pak ketua berencana turut memasukkan salah satu point penting dalam sambutanya adalah tentang guru-guru penulis ini. 

Saya hampir lupa, selain berkaitan dengan kepenulisan, kegiatan yang tidak kalah penting adalah workshop penguatan kapasitas pengurus PGRI. Semua tingkatan, pengurus Cabang maupun pengurus Kabupaten. Workshop ini bertujuan meningkatkan kemampuan pengurus dalam mengelola organisasi PGRI. Diakui atau tidak, hampir semua pengurus PGRI yang terpilih bukanlah orang yang berpengalaman mengelola organisasi. Kepemimpinan boleh oke, tetapi jika manajemen lemah, maka output organisasi juga akan lemah. Sehingga wajar jika program-program yang berjalan tidak berbasis pada perencanaan dan lebih bersifat improvisasi. Lalu bagaimana mau menilai keberhasilan program?

Sudah saatnya PGRI menunjukkan jati dirinya sebagai organisasi para profesional. Oleh sebab itu berbena diri adalah kuncinya. Ingin lebih baik itu adalah keharusan, sebab jika tidak, maka kita pasti mengelola organisasi yang bangkrut. Bangkrut karena tidak menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sudah saatnya organisasi yang besar ini di kelola secara profesional. Saya tidak meragukan kualitas manajemen organisasi pada level PB, bahkan provinsi. Tetapi bagaimana dengan Kabupaten dan Cabang? Masih sangat banyak yang harus dibenahi. PGRI tidak boleh hanya hebat dipusat, sementara di daerah melempem. Sebagai sebuah sistem, PGRI harus kuat pada berbagai lini, termasuk di level organisasi terendah. 

Kadang-kadang kebaikan itu perlu diprovokasi agar mau bergerak menunjukkan jati dirinya. Itulah sebabnya saya mendorong pak Tasmin membuat rompi infokom PGRI. Biar nanti pada saat upacara, publik tahu atau pemerintah tahu bahwa PGRI itu serius dan dapat diandalkan. PGRI itu tidak recehan, tetapi profesional. Namanya penampilan pasti sangat berpengaruh terhadap pandangan orang lain kepada PGRI. Bahasa kerennya, personal branding itu harus dibangun, dan itu diawali dari penampilan fisik. Semoga menjadi lebih baik, Amiin.

Tolitoli, 14 November 2021
Muliadi