Dunia industri adalah cermin yang jujur, bahkan terkadang dingin. Ia tidak hanya memantulkan kemahiran jemari seorang siswa dalam mengelas atau merakit mesin, tetapi juga memantulkan dengan benderang siapa jati diri siswa tersebut sebenarnya. Fakta di lapangan menunjukkan sebuah pola yang tak terbantahkan: ketidakdisiplinan di sekolah adalah "cetak biru" bagi kegagalan di dunia kerja. Siswa yang terbiasa meremehkan waktu, gemar membolos, dan bertindak sesuka hati di kelas, hampir dipastikan akan membawa beban perilaku yang sama saat mereka menginjakkan kaki di lantai industri.
Fenomena ini bukanlah kabar baru. Keluhan demi keluhan dari pihak industri pasangan telah lama menjadi nyanyian sumbang yang menghiasi pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Tidak jarang sekolah-sekolah pelaksana PKL harus menerima kenyataan pahit kehilangan kepercayaan dari mitra industri yang mutlak menolak menerima peserta PKL lagi. Semua ini bermuara pada satu titik: buruknya karakter siswa. Peristiwa ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sebuah "surat peringatan" keras bagi institusi pendidikan kita.
Jika kita bertanya mengapa ini terjadi, jawabannya ada di hulu, yakni di sekolah. Kita harus berani mengakui bahwa kegagalan di tempat praktik adalah pantulan dari kelemahan proses pembelajaran di ruang kelas. PKL, pada akhirnya, hanyalah sebuah refleksi jujur yang menelanjangi seberapa jauh kualitas usaha kita dalam menyiapkan siswa. Selama ini, kita terjebak dalam strategi konvensional yang terlalu mendewakan penguasaan teori dan keterampilan teknis sebagai jaminan utama masa depan siswa. Kita seolah lupa bahwa kemahiran tangan tanpa sokongan "jiwa" yang disiplin adalah fondasi yang rapuh.
Sudah saatnya kita membuka mata: menjejali siswa dengan segudang pengetahuan teknis saja tidak akan pernah cukup. Kita sering terjebak dalam keyakinan semu bahwa kepintaran adalah segalanya, namun kita abai membangun etika dan adab di baliknya. Di dunia industri, pengetahuan bisa diperbarui dan keterampilan bisa dilatih kembali, tetapi karakter dan budaya kerja adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Inilah yang sering kali luput dari perhatian kita; kita sibuk mencetak "operator mesin" namun lupa membentuk "manusia profesional".
Pihak industri sering kali menegaskan, "Kami tidak butuh siswa yang serba tahu, kami butuh mereka yang disiplin, bisa bekerja sama, dan mau belajar." Pernyataan ini sangatlah logis. Industri, sebagai pelaku usaha yang mapan, tentu lebih memahami kebutuhan teknis mereka sendiri. Mereka mampu melatih keterampilan yang spesifik, namun mereka tidak punya waktu untuk mendidik karakter dasar yang seharusnya sudah tuntas di bangku sekolah. Oleh karena itu, sungguh ironis jika kita terus-menerus terpaku pada aspek kognitif, sementara mengabaikan pembentukan mentalitas kerja yang justru menjadi kebutuhan utama di lapangan.
Realitas pahit yang harus kita telan adalah pembelajaran praktik di sekolah belum sepenuhnya mampu membentuk perilaku kerja yang benar. Budaya sekolah kita masih berjarak cukup jauh dari budaya industri. Akibatnya, nilai-nilai yang seharusnya mengakar menjadi kebiasaan hidup—seperti ketelitian, kebersihan, dan ketangguhan—gagal mewujud saat siswa terjun ke dunia nyata. Selama ini, orientasi kita masih sebatas menggugurkan kewajiban; guru merasa tugasnya selesai saat materi teori telah disampaikan, tanpa mempedulikan apakah nilai-nilai karakter telah terpatri dalam sanubari siswa.
Ke depan, mari kita ubah paradigma ini. Pendidikan vokasi tidak boleh lagi sekadar menjadi "pabrik ijazah" yang menghasilkan lulusan yang mahir secara teknis namun rapuh secara mental. Kita harus mengembalikan marwah sekolah sebagai kawah candradimuka bagi pembentukan karakter. Jika kita mampu menyelaraskan detak jantung sekolah dengan ritme profesionalisme industri, maka lulusan kita tidak hanya akan menjadi pencari kerja, tetapi menjadi aset yang paling berharga bagi bangsa.





0 comments:
Posting Komentar